GalaPos ID, Kediri.
Sastra anak sering kali kalah pamor di tengah hiruk-pikuk kampanye literasi nasional yang kian masif. Bagi banyak orang dewasa, peningkatan literasi sering disederhanakan menjadi sekadar kemampuan membaca buku-buku tebal. Padahal, bagi anak-anak, sastra bukanlah sekadar deretan teks kaku, melainkan pintu gerbang menuju dunia imajinasi yang menyenangkan.
HOMPIMPA! Festivaria Sastra Anak Dhahanapura di Kediri menghadirkan cara baru mengenalkan literasi anak lewat dongeng, tembang, ekoliterasi, dan karya sastra.
Baca juga:
Gala Poin:
1. Sastra Anak Butuh Pendekatan Berbeda: Sastra anak tidak bisa disamakan dengan sastra dewasa. Bahasa dan temanya harus diracik khusus agar selaras dengan tahapan psikologis dan usia anak.
2. Lebih dari Sekadar Buku Teks: Mengenalkan literasi pada anak membutuhkan ruang kreatif dan interaktif. Festival ini membuktikannya lewat pendekatan dongeng, ekoliterasi, hingga pertunjukan tembang tradisi.
3. Meninggalkan Jejak Karya Nyata: Upaya merawat sastra anak tidak berhenti pada perayaan sesaat, melainkan dibuktikan dengan lahirnya Cerita Anak Dwibahasa, Antologi Puisi Anak, dan Antologi Kritik Sastra Anak.
Kegelisahan melihat dianaktirikannya sastra anak itulah yang ditangkap oleh Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara (GPAN) Regional Kediri. Alih-alih menggelar diskusi monoton, mereka meresponsnya melalui sebuah perayaan interaktif bertajuk HOMPIMPA! Festivaria Sastra Anak Dhahanapura.
Mengambil tempat di Rumah Budaya - Warung Setono Goerih, Kota Kediri, festival ini mendobrak anggapan bahwa membaca harus dilakukan dalam sunyi. Ketua Pelaksana HOMPIMPA!, Gema Rohullah Khumaini, menuturkan bahwa menyajikan bacaan untuk anak menuntut pemahaman karakter yang lebih spesifik dan intim.
“Kegiatan literasi mulai meningkat dan sastra juga mulai mendapat perhatian. Tetapi, sastra anak masih relatif sepi peminat. Padahal, sastra anak memiliki karakter tersendiri, baik dari bahasa maupun tema yang harus disesuaikan dengan tahapan usia anak,” ujar Gema membagikan pandangannya.
Berangkat dari kesadaran tersebut, HOMPIMPA! dirancang sebagai sebuah ruang adaptif. Festival ini menghadirkan sastra anak sebagai sebuah pengalaman multi-indera yang memadukan cerita, suara, dan ruang bermain.
![]() |
| Bagaimana membuat anak mencintai sastra tanpa merasa sedang belajar? HOMPIMPA! di Kediri menjawabnya lewat dongeng, tembang tradisi, ekoliterasi, dan tiga buku karya sastra anak. Foto: istimewa |
Dalam implementasinya, anak-anak tidak dipaksa untuk membolak-balik halaman buku. Mereka diajak menyelami keajaiban cerita lewat aktivitas Pojok Dongeng yang dipandu oleh pencerita andal seperti Kak Ulya, Kak Hilmi, Kak Tobi, dan Kak Abhi.
Pendekatan kreatif juga merambah ke kepekaan lingkungan melalui sesi Ekoliterasi bersama Dwi Rahmah. Sementara itu, untuk menjembatani jarak antara realitas orang dewasa dan kepolosan anak-anak, panitia menghadirkan sesi Lumbung Srawung bertajuk ‘Sehari Menjadi Anak-anak’ bersama Zuly Kristanto dan Sunarno.
Diskusi yang lebih mendalam tidak dilupakan. Ruang dialektika dibuka melalui sesi membedah fiksi dan fakta bersama KUBUS dan Selasar Dharma Melingkar, serta menggali ingatan masa lalu lewat pemaparan Rendra Agusta.
Menariknya, festival ini turut mengaitkan sastra dengan pelestarian budaya lokal. Sesi 'Tarik Tembang' bersama Danang Wijoyanto menjadi bukti bahwa kesusastraan dapat diresapi secara mendalam melalui alunan musik dan tembang-tembang tradisi. Melalui nada, anak-anak diajak menafsirkan sebuah cerita tanpa merasa sedang digurui.
Rangkaian apresiasi ini pada akhirnya bukan sekadar seremoni yang menguap begitu saja. Sebagai bentuk komitmen merawat masa depan imajinasi, GPAN Regional Kediri menutup perayaan ini dengan langkah monumental: meluncurkan tiga buku sekaligus. Kehadiran Cerita Anak Dwibahasa, Antologi Puisi Anak, dan Antologi Kritik Sastra Anak menjadi bukti bahwa dari Kediri, sastra anak kembali menemukan rumahnya yang hangat.
Baca juga:
SPRI Dorong Go Organik, Bisakah Indonesia Mandiri Pupuk?
Sastra anak tak harus membosankan. Di HOMPIMPA! Festivaria Sastra Anak Kediri, anak-anak diajak bermain, berdongeng, bernyanyi, hingga melahirkan karya sastra.
#GalaPosID #HOMPIMPAFestivaria #SastraAnak #GPANKediri #LiterasiAnak #KotaKediri #FeatureNews
Tags
Jawa Timur

