EcoBlue KKN Unhas: Edukasi Pilah Sampah Selamatkan Lingkungan Sejak Usia Dini

GalaPos ID, Kab. Bantaeng.
Banjir akibat saluran air yang tersumbat dan pencemaran laut oleh tumpukan sampah masih menjadi persoalan lingkungan yang terus berulang di berbagai daerah.
Permasalahan ini tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga berdampak pada kesehatan dan kualitas hidup masyarakat. Rendahnya kesadaran dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya menjadi salah satu penyebab utama.

Sampah Tak Pernah Hilang Sendiri, Edukasi Sejak Dini Jadi Investasi Lingkungan Masa Depan
Anak-anak mulai diajari memilah sampah, sementara orang dewasa masih sering kebingungan membedakan tempat sampah dengan sungai. Program EcoBlue KKN Unhas di Bantaeng menjadi pengingat bahwa perubahan lingkungan dimulai dari kebiasaan, bukan sekadar slogan. Foto: istimewa

"Laut tidak pernah mengirim sampah kembali ke daratan. Justru manusialah yang terus mengirimnya setiap hari. Pertanyaannya, sampai kapan?"

Baca juga:

Gala Poin:
1. Mahasiswa KKN-T Universitas Hasanuddin menggelar program EcoBlue untuk mengajarkan budaya memilah sampah kepada siswa SDN 11 Sarroangin sejak usia dini.
2. Edukasi menekankan hubungan antara pengelolaan sampah yang benar dengan pencegahan banjir serta perlindungan ekosistem laut dari pencemaran.
3. Keberhasilan pengurangan sampah tidak hanya bergantung pada pendidikan anak-anak, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat, dukungan fasilitas, dan komitmen pemerintah dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.

 

Karena itu, pendidikan lingkungan sejak usia dini dinilai sebagai langkah strategis untuk membentuk kebiasaan membuang dan mengelola sampah secara benar, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan sejak bangku sekolah.

Atas dasar itu, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Temrakarsai Asyima Parengnge itu bertujuan membangun kesadaran siswa sekolah dasar agar memahami pentingnya memilah sampah sebagairesiasi juga disampaikan Wali Kelas 4 SDN 11 Sarroangin, Hj. Rahmatia, S.Pd. Menurutnya, pembyima menjelaskan, program tersebut lahir dari keprihatinan terhadap masih rendahnya kebiasaan masyarakat memilah sampah sejak dari sumbernya menekankan bahwa kebiasaan memilah sampah berkontribusi mengurangi risiko banjir akibat saluran air tersumbat sekaligus menjaga ekosistem laut dariatik (KKN-T) Pemberdayaan Desa Universitas Hasanuddin Gelombang 116 Posko Mappilawing 2 menggelar program edukasi "EcoBlue: Edukasi Pilah Sampah Sejak Dini untuk Mewujudkan Lingkungan Bebas Banjir dan Ekosistem Laut yang Lestari" di SDN 11 Sarroangin, Desa Mappilawing, Kecamatan Eremerasa, Kabupaten Bantaeng, Kamis, 23 Juli 2026.

Baca juga:
Gubernur Mualem Petakan Persoalan Aceh, dari Banjir hingga Tambang Ilegal

Program kerja individu yang diprakarsai Asyima Parengnge itu bertujuan membangun kesadaran siswa sekolah dasar agar memahami pentingnya memilah sampah sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan.
 
"Melalui kegiatan EcoBlue yang menjadi program kerja individu saya ini, saya berharap siswa-siswi SDN 11 Sarroangin dapat memahami pentingnya memilah sampah sejak dini serta menerapkan kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan sederhana seperti memilah sampah dapat membantu mencegah banjir dan melindungi ekosistem laut dari pencemaran," ujar Asyima Parengnge selaku pelaksana program kerja, dalam keterangan yang diterima Sabtu, 25 Juli 2026.

Apresiasi juga disampaikan Wali Kelas 4 SDN 11 Sarroangin, Rahmatia. Menurutnya, pembentukan karakter peduli lingkungan harus dimulai sejak anak masih berada di bangku sekolah dasar.

"Kegiatan edukasi lingkungan seperti ini sangat bermanfaat bagi para siswa. Anak-anak perlu dibiasakan untuk menjaga kebersihan lingkungan sejak dini agar tumbuh menjadi generasi yang peduli terhadap lingkungan sekitar. Melalui kegiatan ini, siswa dapat memahami pentingnya memilah sampah serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah," ungkap Rahmatia.

EcoBlue KKN Unhas: Edukasi Pilah Sampah untuk Selamatkan Lingkungan Sejak Usia Dini
Mahasiswa KKN-T Universitas Hasanuddin menggelar program EcoBlue untuk mengajarkan budaya memilah sampah kepada siswa SDN 11 Sarroangin sejak usia dini. Edukasi menekankan hubungan antara pengelolaan sampah yang benar dengan pencegahan banjir serta perlindungan ekosistem laut dari pencemaran. Foto: ilustrasi

 

Asyima menjelaskan, program tersebut lahir dari keprihatinan terhadap masih rendahnya kebiasaan masyarakat memilah sampah sejak dari sumbernya. Menurutnya, perubahan perilaku tidak cukup dimulai saat persoalan sampah telah menumpuk, melainkan harus dibangun sejak anak-anak.

"Edukasi mengenai pengelolaan sampah perlu diberikan sejak usia sekolah dasar agar anak-anak memahami dampak yang ditimbulkan oleh sampah terhadap lingkungan. Kami berharap program ini dapat meningkatkan kesadaran siswa untuk membedakan sampah organik dan anorganik serta menerapkan kebiasaan memilah sampah baik di sekolah maupun di rumah," jelas Asyima Parengnge, mahasiswi Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin.

Materi yang diberikan mencakup pengenalan jenis sampah, manfaat pengelolaan sampah yang benar, hingga dampak pembuangan sampah sembarangan terhadap lingkungan. Mahasiswa juga menekankan bahwa kebiasaan memilah sampah berkontribusi mengurangi risiko banjir akibat saluran air tersumbat sekaligus menjaga ekosistem laut dari pencemaran.

Baca juga:
Aceh Dorong Resi Gudang Nilam, Mampukah Akhiri Permainan Spekulan?

Agar mudah dipahami, edukasi dikemas melalui presentasi interaktif, permainan edukatif, praktik langsung memilah sampah, sesi tanya jawab, serta kuis berhadiah. Pendekatan tersebut mendorong siswa aktif mengenali jenis sampah dengan melibatkan guru pendamping dan mahasiswa KKN Unhas Posko Mappilawing 2. Harapannya, kebiasaan memilah sampah tidak berhenti sebagai materi di ruang kelas, tetapi menjadi budaya dan mempraktikkan pemilahan sesuai kategorinya.

Program menyasar siswa kelas 4 SDN 11 Sarroangin dengan melibatkan guru pendamping dan mahasiswa KKN Unhas Posko Mappilawing 2. Harapannya, kebiasaan memilah sampah tidak berhenti sebagai materi di ruang kelas, tetapi menjadi budaya yang diterapkan di sekolah maupun di lingkungan keluarga.

Namun, edukasi kepada anak-anak hanyalah satu bagian dari solusi. Persoalan sampah tidak akan selesai apabila kesadaran masyarakat, ketersediaan fasilitas pengelolaan sampah, serta komitmen pemerintah dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan belum berjalan seiring.

Baca juga:
de Braga by ARTOTEL Tawarkan Pengalaman Seni dan Heritage di Braga 


Sebab, lingkungan yang bersih bukan hanya bergantung pada seberapa rajin anak memilah sampah, tetapi juga pada keseriusan semua pihak mengelola sampah hingga tuntas.

Selain program individu tersebut, Posko Mappilawing 2 juga menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan mendukung pembangunan desa sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan dan kualitas hidup secara berkelanjutan.

 

 

Baca juga:
IFPRO, Meruorah, Kodim, dan Pemkab Bangun Ruang Belajar Baru di SDN Gorontalo

Kalau anak SD sudah belajar memilah sampah, masih pantaskah orang dewasa membuangnya sembarangan lalu menyalahkan banjir?

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #EcoBlue #PilahSampah #PeduliLingkungan #KKNUnhas #Bantaeng

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال