GalaPos ID, Kab. Bantaeng.
Penggunaan gadget di kalangan anak-anak terus meningkat seiring pesatnya perkembangan teknologi digital. Kondisi ini menjadikan literasi digital sebagai keterampilan penting yang harus ditanamkan sejak usia dini.
Tanpa pendampingan yang tepat, penggunaan gawai berisiko mengganggu konsentrasi belajar, memicu kecanduan layar, hingga membuka akses terhadap berbagai konten yang tidak sesuai dengan usia anak.
"Di era ketika notifikasi lebih sering didengar daripada nasihat orang tua, literasi digital menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa terus ditunda."
Baca juga:
- Febrie Adriansyah Ditahan, Mantan Jampidsus Klaim Dikriminalisasi
- PA GMNI NTT Hidupkan Lagi Perjuangan UU Provinsi Kepulauan
- Gubernur Mualem Petakan Persoalan Aceh, dari Banjir hingga Tambang Ilegal
Gala Poin:
1. Mahasiswa KKN-T Universitas Hasanuddin menggelar sosialisasi Bijak Gadget di SDN 11 Sarroanging sebagai upaya membangun literasi digital sejak usia dini.
2. Guru menilai penggunaan gawai pada anak membutuhkan pendampingan karena berpotensi mengganggu tumbuh kembang dan konsentrasi belajar jika tidak dikendalikan.
3. Selain edukasi digital, Posko Mappilawing 2 juga melaksanakan pembangunan Tugu Batas Dusun Paboeng untuk memperjelas identitas wilayah administrasi desa.
Sebagai upaya membangun kesadaran literasi digital sejak bangku sekolah dasar, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Pemberdayaan Desa Universitas Hasanuddin Gelombang 116 Posko Mappilawing 2 menggelar sosialisasi bertajuk "Bijak Gadget, Bijak Bermedia, Menuju Generasi Hebat" di SDN 11 Sarroanging, Desa Mappilawing, Kecamatan Eremerasa, Kabupaten Bantaeng, Rabu, 22 Juli 2026.
Kegiatan ini bertujuan membekali siswa dengan pemahaman tentang penggunaan teknologi secara bijak, aman, dan bertanggung jawab di era digital. Program kerja individu yang diprakarsai Teresya Saritua Simorangkir itu menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran literasi digital sejak usia sekolah dasar. Menurutnya, pemanfaatan teknologi harus dibarengi pemahaman mengenai etika dan tanggung jawab di ruang digital.
"Melalui kegiatan sosialisasi yang menjadi program kerja individu saya ini, kami berharap dapat membekali anak-anak sejak dini agar cerdas, aman, dan bertanggung jawab saat berselancar di dunia digital," ujar Teresya Saritua Simorangkir selaku pelaksana program kerja, dalam keterangan yang diterima redaksi, Sabtu, 25 Juli 2026.
Baca juga:
Aceh Dorong Resi Gudang Nilam, Mampukah Akhiri Permainan Spekulan?
"Kegiatan sosialisasi ini sangat bermanfaat dan membantu kami para pendidik di sekolah. Di era serba digital saat ini, anak-anak memang sulit dipisahkan dari penggunaan gawai sehari-hari. Namun, tanpa pendampingan dan pemahaman yang tepat, keberadaan teknologi justru berpotensi membawa dampak buruk bagi tumbuh kembang serta konsentrasi belajar mereka," ungkap Munirawati.
Teresya menjelaskan, program tersebut lahir dari keprihatinan terhadap tingginya intensitas penggunaan gawai di kalangan anak tanpa dibarengi pemahaman etika digital.
"Pembekalan literasi digital menjadi sangat krusial bagi anak usia sekolah. Kami berharap program individu ini tidak hanya meningkatkan kesadaran para siswa terhadap batasan screen time, tetapi juga membentengi mereka dari pengaruh negatif media sosial serta mengarahkan penggunaan teknologi untuk menunjang pendidikan," jelas Teresya Saritua Simorangkir.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memberikan materi mengenai dampak positif dan negatif teknologi, pentingnya membatasi durasi penggunaan layar, serta cara memilah informasi yang aman dan sehat. Penyampaian dilakukan melalui presentasi visual, diskusi kelompok kecil, hingga kuis edukatif agar materi lebih mudah dipahami peserta.
Program tersebut melibatkan siswa-siswi SDN 11 Sarroanging, guru pendamping, serta mahasiswa KKN Unhas Posko Mappilawing 2. Harapannya, budaya literasi digital dapat tumbuh sejak dini sehingga anak-anak lebih bijak memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar, bukan sekadar hiburan.
Di sisi lain, edukasi semacam ini juga menjadi pengingat bahwa persoalan penggunaan gawai pada anak bukan hanya tanggung jawab sekolah. Peran keluarga, lingkungan, hingga kebijakan publik diperlukan agar perkembangan teknologi tidak justru menggeser kualitas tumbuh kembang generasi muda.
Baca juga:
de Braga by ARTOTEL Tawarkan Pengalaman Seni dan Heritage di Braga
Baca juga:
IFPRO, Meruorah, Kodim, dan Pemkab Bangun Ruang Belajar Baru di SDN Gorontalo
Anak sekarang lebih hafal password WiFi daripada jadwal belajar. Pertanyaannya, siapa yang lebih dulu mengajari mereka bijak menggunakan gawai?
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #LiterasiDigital #BijakGadget #KKNUnhas #PendidikanIndonesia #Bantaeng

.jpeg)