GalaPos ID, Kab. Bogor.
Di tengah geliat pembangunan desa dan penguatan sektor UMKM, para pengrajin tempe di Desa Pasirlaja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, justru menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.
Lonjakan harga kedelai impor akibat penguatan dolar Amerika Serikat memaksa pelaku usaha kecil mengurangi produksi hingga memperkecil ukuran tempe demi mempertahankan usaha mereka.
"Tempe tetap dijual dengan harga lama agar pelanggan tidak lari. Hanya saja, ada satu hal yang diam-diam berubah: ukurannya mengecil, sama seperti ruang keuntungan yang tersisa bagi pengrajin."
Baca juga:
- Endapan Batubara di Sungai Pait Jadi Sorotan, Warga Minta Tindakan Nyata Pemerintah
- Galangan Kapal Terjepit Kurs Dolar dan Harga Energi
- BI Rate Naik Jadi 5,5 Persen, Rupiah Dijaga, Cicilan Rakyat Terancam Membengkak
Gala Poin:
1. Harga kedelai impor naik dari sekitar Rp10.000 menjadi Rp11.500 per kilogram sehingga pengrajin tempe di Pasirlaja mengurangi produksi dan memperkecil ukuran produk.
2. Pelaku UMKM memilih mempertahankan harga jual agar konsumen tidak berkurang, meski keuntungan semakin tipis dan sebagian usaha kecil terpaksa berhenti beroperasi.
3. Kondisi ini menjadi tantangan bagi Desa Pasirlaja yang memiliki potensi besar di sektor pertanian dan UMKM, namun masih rentan terhadap gejolak harga bahan baku impor.
Kondisi tersebut menjadi potret nyata bagaimana gejolak ekonomi global dapat langsung memengaruhi dapur usaha rakyat di tingkat desa. Ketika biaya produksi terus naik, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih, pelaku UMKM harus mencari cara bertahan agar tidak kehilangan pelanggan sekaligus tetap memperoleh penghasilan.
Harga kedelai impor yang sebelumnya berada di kisaran Rp10.000 per kilogram kini mencapai sekitar Rp11.500 per kilogram. Kenaikan tersebut berdampak langsung pada biaya produksi yang harus ditanggung para pengusaha tempe.
Untuk menekan kerugian, sejumlah pengrajin terpaksa mengurangi volume produksi harian. Jika sebelumnya mampu mengolah sekitar 6 hingga 7 kuintal kedelai per hari, kini produksi turun menjadi sekitar 5 kuintal per hari.
Selain itu, ukuran tempe yang dijual juga diperkecil. Namun harga jual masih dipertahankan agar tetap terjangkau bagi konsumen, yakni Rp6.000 untuk ukuran besar dan Rp5.000 untuk ukuran kecil.
Baca juga:
Cinta Palsu, Uang Nyata: Dugaan Operasi Love Scamming Internasional
Menurut Japar, harga kedelai saat ini hampir dua kali lipat dibandingkan beberapa tahun lalu. Situasi tersebut membuat banyak pelaku usaha kesulitan menambah modal maupun mengembangkan usaha.
Di tengah tekanan tersebut, para pengrajin memilih mempertahankan pelanggan daripada menaikkan harga jual. Konsekuensinya, margin keuntungan terus menyusut dan sebagian pelaku usaha kecil bahkan terpaksa menghentikan aktivitas produksinya karena tidak mampu menanggung kenaikan biaya operasional.
![]() |
| Program penguatan UMKM terus digaungkan. Sayangnya, bagi sebagian pengrajin tempe, yang menguat justru harga kedelai, sementara keuntungan semakin melemah. Foto: istimewa |
Ironisnya, kondisi tersebut terjadi di Desa Pasirlaja yang selama ini dikenal memiliki potensi ekonomi cukup besar. Selain menjadi kawasan penyangga sektor pertanian dengan komoditas jagung manis, talas, ubi kayu, dan sayuran hidroponik, desa ini juga berkembang sebagai pusat aktivitas UMKM masyarakat.
Semangat gotong royong warga mendorong lahirnya berbagai usaha mikro yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Bahkan promosi produk lokal mulai didukung melalui pemanfaatan teknologi digital dan kolaborasi dengan kreator konten lokal.
Di sisi lain, pemerintah desa juga terus melakukan pengembangan pelayanan publik berbasis teknologi serta peningkatan infrastruktur dan layanan kesehatan masyarakat melalui berbagai program pembangunan.
Kepala Desa Pasirlaja, Sopyan Hadi, selama ini juga mendorong penguatan sektor ekonomi masyarakat sebagai bagian dari pembangunan desa yang berkelanjutan.
Baca juga:
Utang, Kepercayaan, dan Modus Mistis: Kisah Lansia Kehilangan Harta Rp248 Juta
Namun bagi para pengrajin tempe, persoalan utama saat ini bukan hanya soal pemasaran atau akses teknologi. Yang paling mendesak adalah stabilitas harga bahan baku yang menjadi fondasi utama keberlangsungan usaha mereka.
Karena bagi pelaku UMKM kecil, keberhasilan pembangunan ekonomi desa tidak hanya diukur dari banyaknya program yang berjalan, tetapi juga dari kemampuan usaha rakyat untuk tetap hidup dan berkembang di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat.
Para pengrajin berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi jangka panjang melalui penguatan produksi kedelai lokal, stabilisasi harga bahan baku, serta dukungan permodalan bagi pelaku UMKM pangan. Sebab tanpa itu, bukan tidak mungkin semakin banyak usaha tempe rumahan yang terpaksa gulung tikar.
Dan ketika tempe mulai mengecil karena mahalnya kedelai, yang sesungguhnya sedang menyusut bukan hanya ukuran makanan rakyat, melainkan juga ruang bertahan bagi usaha kecil yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi desa.
Baca juga:
Semarang Jadi Basis Love Scamming Global? Empat WN Tiongkok Diamankan
"Program penguatan UMKM terus digaungkan. Sayangnya, bagi sebagian pengrajin tempe, yang menguat justru harga kedelai, sementara keuntungan semakin melemah."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Pasirlaja #UMKMBogor #HargaKedelai #TempeIndonesia #EkonomiKerakyatan

