GalaPos ID, Samosir.
Di balik kasus pencurian yang menimpa Minar Sinaga (76 tahun), tersimpan pola kejahatan yang lebih kompleks daripada sekadar pencurian biasa.
Polisi menduga pelaku memanfaatkan kombinasi hubungan pertemanan, utang piutang, informasi pribadi korban, dan narasi mistis untuk mengambil harta korban tanpa kekerasan.
![]() |
| Kasus pencurian emas di Samosir terungkap. Pelaku yang merupakan teman korban diduga menjalankan modus mengaku sebagai dukun untuk memperdaya lansia bernama Minar Sinaga (76). Foto: Polres Samosir) |
"Di negeri yang masih akrab dengan janji instan, modus lama terus menemukan korban baru. Bedanya, kali ini "keajaiban" berakhir di laporan polisi."
Baca juga:
- Dukun Ecek-Ecek Berkedok Pengembalian Uang Hilang, Lansia Jadi Korban
- 5 Makanan Ini Sebaiknya Dihindari Demi Cegah Jerawat
- Menjelang Tiba di Rumah, Dua Jamaah Haji Meninggal Saat Perjalanan Pulang
Gala Poin:
1. Pelaku memanfaatkan informasi tentang kehilangan uang korban untuk membangun skenario dukun palsu.
2. Modus dilakukan melalui penyamaran lewat telepon dan manipulasi psikologis korban.
3. Polisi telah menangkap satu pelaku dan masih memburu satu pelaku lainnya.
Peristiwa yang terjadi pada Sabtu, 30 Mei 2026, di Desa Sinaga Uruk Pandiangan, Kecamatan Nainggolan, menjadi contoh bagaimana manipulasi psikologis dapat lebih efektif dibanding ancaman fisik.
Kasat Reskrim Polres Samosir AKP Edward Sidauruk menjelaskan bahwa seluruh rangkaian kejadian berawal dari penagihan utang.
"Pelaku MP sepakat untuk bertemu dengan korban di rumah korban untuk membicarakan masalah utang," kata Edward, Minggu, 7 Juni 2026.
Namun sebelum pertemuan berlangsung, pelaku diduga telah merancang skenario. Mereka mengetahui korban masih mengingat kehilangan uang sekitar Rp20 juta yang terjadi pada tahun sebelumnya.
Baca juga:
Penyelamatan Krusial Audero Antar Indonesia Akhiri Kutukan 38 Tahun Lawan Oman
Korban kemudian diminta mengumpulkan seluruh uang dan perhiasan yang dimiliki sebagai syarat ritual pengembalian uang.
Untuk memperkuat keyakinan korban, MP ikut menghubungi korban dan berpura-pura menjadi dukun.
"Pelaku ini sempat memastikan korban hanya sendiri di dalam rumah," jelas Edward.
Tahap ini menunjukkan bahwa pelaku tidak hanya mengandalkan cerita mistis, tetapi juga memperhitungkan situasi rumah dan kondisi korban sebelum beraksi. Ketika kedua pelaku tiba di rumah, suasana dibuat seolah-olah normal dengan membahas urusan utang. Bahkan korban menerima bunga pinjaman sebesar Rp1 juta.
![]() |
| Kalau dukun benar bisa mengembalikan uang hilang, mungkin yang pertama dikembalikan adalah utang para pelaku sendiri. Foto ilustrasi |
Di tengah situasi yang tampak biasa tersebut, tas berisi uang dan emas yang sebelumnya diletakkan di rak piring diduga diambil pelaku. Sore harinya, korban meminta anaknya memeriksa tas tersebut.
"Anak korban mengecek tas di rak piring dan tidak ada lagi melihat uang dan perhiasan emas di dalam tas," kata Edward.
Penelusuran keluarga akhirnya mengarah kepada MP. Saat ditemukan, sebagian barang milik korban masih berada dalam penguasaan pelaku.
Plt Kasi Humas Polres Samosir Brigpol Gunawan Situmorang mengungkapkan bahwa selain perhiasan emas, terdapat uang tunai Rp29,3 juta di dalam tas korban.
"1 buah kalung (korban) sudah sempat dijual (para pelaku)," sebutnya.
Baca juga:
FIFA Matchday 2026: Garuda Berburu Kemenangan Bersejarah atas Oman
Menurut Gunawan, hubungan utang piutang antara korban dan pelaku menjadi salah satu latar belakang kasus tersebut. MP diketahui meminjam Rp20 juta dan baru mengembalikan sebagian, sedangkan IGP masih memiliki utang Rp10 juta yang belum dibayar.
Kasus ini memperlihatkan bahwa kejahatan modern tidak selalu mengandalkan teknologi canggih. Terkadang, informasi pribadi korban, kedekatan sosial, dan narasi yang menyentuh keyakinan seseorang sudah cukup untuk membuka jalan bagi pelaku.
Bagi publik, pelajaran terpenting dari kasus ini adalah pentingnya memverifikasi setiap informasi, terutama yang berkaitan dengan janji pengembalian uang, bantuan supranatural, atau tawaran yang terdengar terlalu mudah untuk menjadi kenyataan.
Baca juga:
Kasus Korupsi BGN dan Imipas Mengemuka, LPSK Jamin Perlindungan Saksi
"Kronologi lengkap kasus penipuan lansia di Samosir menunjukkan bagaimana manipulasi psikologis, kedekatan sosial, dan kepercayaan terhadap hal mistis dimanfaatkan untuk melakukan pencurian bernilai ratusan juta rupiah."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #KriminalIndonesia #ModusPenipuan #LansiaSamosir #FaktaKriminal #BeritaTerkiniIndonesia

