Endapan Batubara di Sungai Pait Jadi Sorotan, Warga Minta Tindakan Nyata Pemerintah

GalaPos ID, Lahat.
Warga Desa Gunung Kembang, Kecamatan Merapi Timur, Kabupaten Lahat, kembali menyuarakan keluhan terkait dugaan pencemaran limbah batubara yang disebut berasal dari area stockpile PT PAMA.
Mereka mengaku selama lebih dari empat tahun terakhir kualitas air sungai mengalami penurunan sehingga tidak lagi dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kebutuhan sehari-hari.

Sungai Pait Diduga Tercemar Limbah Batubara, Ratusan Warga Lahat Kesulitan Air Bersih
Empat tahun warga mengeluh, empat tahun pula lumpur dan serpihan batubara disebut terus mengendap di sungai. Ketika rapat demi rapat sudah digelar, warga justru masih bertanya: yang mengalir sebenarnya solusi atau hanya janji? Foto: istimewa

"Rapat sudah dilakukan, verifikasi sudah berjalan, keluhan sudah berulang kali disampaikan. Namun bagi warga Gunung Kembang, air bersih masih menjadi harapan yang belum benar-benar mengalir."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Warga Desa Gunung Kembang mengeluhkan dugaan pencemaran Sungai Pait selama lebih dari empat tahun akibat endapan lumpur dan serpihan batubara.
2. Sekitar 200 warga serta puluhan kebun disebut terdampak, sementara masyarakat menuntut penyediaan air bersih, kompensasi, dan pembangunan tanggul penahan abrasi.
3. PT PAMA mengaku mengetahui keluhan warga, namun menyatakan persoalan yang dipermasalahkan berada di luar kewenangan perusahaan sebagai pelaksana.


Persoalan yang dikeluhkan warga berpusat pada aliran Sungai Pait yang bermuara ke Sungai Lematang. Warga menyebut material berupa lumpur dan serpihan batubara terus mengendap di dasar sungai dan menyebabkan dampak lingkungan yang semakin dirasakan masyarakat.

Kepala Desa Gunung Kembang, Edi Suparno, menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan kejadian baru. Menurutnya, laporan dan keluhan masyarakat telah berulang kali disampaikan kepada pihak terkait.

"Air Sungai Lematang ini masih dimanfaatkan penuh oleh masyarakat. Yang masuk ke sungai berupa lumpur dan butiran batubara, yang sudah mengendap di sepanjang aliran Sungai Pait selama beberapa tahun terakhir," kata  Edi Suparno, Senin, 8 Juni 2026.

Menurut Edi, pemerintah desa bersama warga sebelumnya telah mengikuti mediasi yang difasilitasi oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lahat.

Baca juga:
Utang, Kepercayaan, dan Modus Mistis: Kisah Lansia Kehilangan Harta Rp248 Juta 


Dalam forum tersebut, masyarakat menyampaikan sejumlah tuntutan kepada perusahaan, mulai dari penyediaan air bersih, kompensasi bagi warga terdampak, hingga pembangunan tanggul penahan di sepanjang bantaran Sungai Pait.

"Verifikasi terkait asal-usul material yang mencemari aliran sungai sudah dilakukan. Pihak perusahaan sebelumnya juga sudah lakukan verifikasi dan mengakui asal limbah ini dari aktivitas mereka. Karena itu kami berharap ada tanggung jawab yang nyata, bukan hanya sebatas pembahasan dalam rapat," ungkapnya.

Selain persoalan kualitas air, Edi menyebut dampak yang dirasakan masyarakat juga menyentuh sektor ekonomi. Sedikitnya sekitar 200 warga di Dusun I masih bergantung pada aliran Sungai Lematang untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Belum termasuk warga di dusun lainnya yang turut memanfaatkan sungai tersebut.

Di sisi lain, puluhan kebun milik warga disebut terdampak akibat sedimentasi yang terjadi di sepanjang aliran sungai. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa persoalan lingkungan yang berlarut-larut dapat berdampak lebih luas terhadap kehidupan masyarakat sekitar.

"Kami akan mengambil langkah selanjutnya, dengan bersurat kepada DPRD Kabupaten Lahat dan Bupati Lahat. Harapan kami ada tindakan nyata, agar persoalan ini tidak terus berlarut-larut," tutur dia.

Empat Tahun Sungai Tercemar, Warga Gunung Kembang Tagih Tanggung Jawab Dugaan Limbah Batubara
Jika sungai bisa berbicara, mungkin Sungai Pait sudah lebih dulu melayangkan surat pengaduan. Sebab selama bertahun-tahun, yang mengalir bukan hanya air, tetapi juga keluhan warga yang belum menemukan muara penyelesaian. Foto: istimewa

 

Keluhan serupa juga disampaikan Mulyadi, warga Desa Gunung Kembang. Ia mengaku endapan material yang diduga berasal dari aktivitas pertambangan dapat ditemukan dengan mudah di dasar maupun tepi Sungai Pait.

"Kalau kita ambil pakai tangan, di dasar dan tepi sungai, sangat mudah menemukannya. Kami sudah mengeluhkan hal ini selama lebih dari Empat Tahun ini, namun belum ada realisasi. Kami meminta agar limbah tidak lagi masuk ke Sungai Pait, kemudian pengadaan air bersih, dan pembangunan tembok penahan disepanjang sungai, karena selain tercemar juga abrasi," ungkap dia.

Pernyataan warga tersebut menambah daftar persoalan yang hingga kini belum menemukan penyelesaian konkret. Di tengah ketergantungan masyarakat terhadap sumber air sungai, tuntutan penyediaan air bersih menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak.

Baca juga:
Semarang Jadi Basis Love Scamming Global? Empat WN Tiongkok Diamankan

Sementara itu, Manager CSR PT PAMA, Agung Harikusuma, mengaku telah mengetahui keluhan yang disampaikan masyarakat. Namun, ia menyatakan persoalan yang dipersoalkan warga berada di luar kewenangan perusahaan yang diwakilinya.
 
"Kami hanya pelaksana dan apa yang dikeluhkan warga tersebut diluar kewenangan PT Pama," terangnya.

Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan baru di tengah masyarakat mengenai pihak yang bertanggung jawab atas penanganan dugaan pencemaran tersebut. Sebab bagi warga, yang terpenting bukan lagi perdebatan soal kewenangan, melainkan solusi nyata agar sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan dapat kembali dimanfaatkan secara aman.

Baca juga:
5 Makanan Ini Sebaiknya Dihindari Demi Cegah Jerawat

Hingga kini, warga masih menunggu langkah konkret dari pihak terkait, baik pemerintah daerah maupun perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut.

Setelah empat tahun keluhan disampaikan, masyarakat berharap persoalan lingkungan ini tidak lagi berhenti pada tahapan verifikasi, mediasi, maupun rapat koordinasi, melainkan berujung pada tindakan yang dapat dirasakan langsung oleh warga terdampak.

 

 

Baca juga:
Dukun Ecek-Ecek Berkedok Pengembalian Uang Hilang, Lansia Jadi Korban

"Rapat sudah dilakukan, verifikasi sudah berjalan, keluhan sudah berulang kali disampaikan. Namun bagi warga Gunung Kembang, air bersih masih menjadi harapan yang belum benar-benar mengalir."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Lahat #SungaiPait #LingkunganHidup #PencemaranSungai #SumselTerkini

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال