Galangan Kapal Terjepit Kurs Dolar dan Harga Energi

GalaPos ID, Jakarta.
Tekanan ekonomi global mulai merembet ke sektor maritim nasional. Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat, lonjakan harga energi, dan mahalnya bahan baku impor kini memaksa sejumlah galangan kapal nasional menaikkan tarif reparasi hingga 20 persen demi menjaga keberlangsungan usaha.

Galangan Kapal Terjepit Kurs Dolar dan Harga Energi
Ketua Umum Institusi Galangan Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo), Anita Puji Utami, mengungkapkan bahwa industri galangan kapal tengah menghadapi tekanan berlapis akibat ketidakpastian ekonomi global. Foto: istimewa

 

"Saat kurs dolar melaju kencang, industri galangan kapal dipaksa menambal biaya. Pertanyaannya, siapa yang akhirnya membayar?"

Baca juga:

Gala Poin:
1. Tarif reparasi kapal diperkirakan naik hingga 20 persen akibat lonjakan kurs dolar, energi, dan bahan baku.
2. Industri galangan kapal masih bergantung pada impor sekitar 45 persen material dan peralatan, sehingga rentan terhadap fluktuasi nilai tukar.
3. Iperindo meminta dukungan pemerintah, termasuk kemungkinan akses BBM subsidi untuk industri galangan kapal.


Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya operasional pelayaran dan logistik nasional, yang pada akhirnya dapat berdampak pada harga barang dan jasa yang ditanggung masyarakat.

Ketua Umum Institusi Galangan Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo), Anita Puji Utami, mengungkapkan bahwa industri galangan kapal tengah menghadapi tekanan berlapis akibat ketidakpastian ekonomi global yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah.

Menurut Anita, eskalasi konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat telah memengaruhi jalur perdagangan internasional, terutama di kawasan Selat Hormuz, sehingga memicu kenaikan harga berbagai komoditas dan material industri.

"Dampak tersebut dirasakan langsung oleh pelaku usaha yang masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri," kata Anita Puji Utami, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Senin, 8 Juni 2026.

Data Iperindo menunjukkan lonjakan signifikan pada sejumlah komponen biaya produksi. Harga Solar B40 tercatat naik hingga 89,19 persen. Sementara itu, LPG 12 kilogram meningkat 16,16 persen dan LPG 50 kilogram naik 26,51 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Baca juga:
Semarang Jadi Basis Love Scamming Global? Empat WN Tiongkok Diamankan

Beban industri semakin berat karena harga material utama pembangunan kapal juga ikut terkerek. Harga plat baja meningkat antara 7 hingga 12,60 persen, sedangkan harga cat kapal melonjak sekitar 21 persen.
 
"Khusus untuk pemakaian bahan bakar industri di galangan kapal, harapannya bisa mendapatkan BBM subsidi dari Pemerintah," kata Anita.

Tak hanya energi dan baja, berbagai komponen pendukung lainnya juga mengalami kenaikan harga. Zinc anode naik 12,87 persen, aluminium anode meningkat 13,61 persen, sementara harga oli untuk kebutuhan operasional galangan melonjak antara 15 hingga 40 persen. Adapun bahan plastik tercatat naik sekitar 30 hingga 50 persen.

Persoalan utama yang masih membayangi industri galangan kapal nasional adalah tingginya ketergantungan terhadap impor. Iperindo mencatat sekitar 45 persen kebutuhan material dan peralatan masih berasal dari luar negeri, sehingga industri sangat rentan terhadap gejolak kurs dolar.

Situasi ini membuat banyak kontrak pekerjaan yang disepakati saat kurs dolar lebih rendah kini berubah menjadi beban biaya tambahan. Saat pengadaan dan pelunasan material dilakukan, pelaku usaha harus membayar dengan nilai tukar yang jauh lebih tinggi dibandingkan saat kontrak ditandatangani.

45 Persen Material Impor, Industri Kapal Rentan Gejolak Dolar
Ketika dolar naik dan biaya energi melonjak, industri galangan kapal ikut oleng. Tarif reparasi kapal naik hingga 20 persen, sementara pelaku usaha berharap negara hadir sebelum biaya logistik kembali dibebankan ke publik. Foto ilustrasi kapal

 

Direktur Utama PT Adiluhung Saranasegara Indonesia itu menjelaskan bahwa penyesuaian tarif reparasi kapal menjadi langkah yang sulit dihindari untuk menjaga kualitas layanan dan keberlangsungan operasional perusahaan.

Kenaikan tarif reparasi diperkirakan mencapai sekitar 20 persen guna menutup lonjakan biaya produksi yang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Sementara itu, untuk proyek pembangunan kapal baru yang masih berjalan, para pelaku industri tengah melakukan pembahasan dan negosiasi dengan pemilik kapal terkait kemungkinan penerapan eskalasi biaya.

Baca juga:
Dukun Ecek-Ecek Berkedok Pengembalian Uang Hilang, Lansia Jadi Korban

Di tengah ambisi Indonesia menjadi poros maritim dunia, kondisi ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan tinggi terhadap material impor masih menjadi pekerjaan rumah besar. Tanpa kebijakan yang mampu memperkuat rantai pasok domestik dan menjaga daya saing industri strategis, tekanan global berpotensi terus diteruskan hingga ke sektor logistik dan ekonomi masyarakat.

Iperindo berharap pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap industri galangan kapal nasional agar sektor strategis ini tetap mampu bertahan, menjaga daya saing, dan mendukung pertumbuhan industri maritim Indonesia.

 

Baca juga:
5 Makanan Ini Sebaiknya Dihindari Demi Cegah Jerawat

"Dolar belum bersandar di pelabuhan, tapi tagihannya sudah lebih dulu berlabuh di galangan kapal."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #IndustriMaritim #KursDolar #GalanganKapal #LogistikNasional #EkonomiIndonesia

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال