Perhutani dan PG Rajawali Diuji Jalan Rusak dan Target Gula 2026

GalaPos ID, Semarang.
Memasuki tahun ketiga kerja sama pengembangan tebu di kawasan hutan, Perum Perhutani bersama PT PG Rajawali I dan PT PG Rajawali II menghadapi tantangan yang tak lagi sekadar soal produksi.
Persoalan akses jalan menuju lokasi tebu, dampak cuaca ekstrem, hingga efektivitas pengelolaan ribuan hektare lahan kini menjadi ujian nyata menjelang musim tebang dan giling 2026.

Jelang Musim Giling 2026, Perhutani-PG Rajawali Fokus Benahi Hambatan Produksi Tebu
Saat target gula nasional terus dikejar, persoalan klasik seperti jalan rusak dan dampak cuaca masih menjadi pekerjaan rumah. Tahun ketiga kemitraan Perhutani dan PG Rajawali bukan hanya soal panen tebu, tetapi juga ujian apakah janji produktivitas mampu mengalahkan hambatan yang sudah lama diketahui.

"Ketika ribuan hektare lahan sudah tersedia, tantangan terbesar justru bukan menanam tebu, melainkan memastikan hasil panennya bisa keluar dari kebun tepat waktu."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Perhutani dan PG Rajawali melakukan evaluasi besar-besaran memasuki tahun ketiga kemitraan untuk memastikan target musim giling 2026 tercapai.
2. Masalah akses jalan menuju lokasi produksi tebu menjadi salah satu hambatan utama yang berpotensi mengganggu distribusi dan pengangkutan hasil panen.
3. Kemarau panjang 2026 memberi optimisme peningkatan kualitas tebu, namun dampak La Nina sebelumnya masih membayangi produktivitas.


Dalam pertemuan strategis di Gedung Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah, Semarang, Rabu, 17 Juni 2026, kedua pihak melakukan evaluasi menyeluruh atas pelaksanaan kerja sama selama dua tahun terakhir. Evaluasi tersebut dilakukan untuk memastikan target produksi gula dapat tercapai sesuai Rencana Penyelenggaraan Kerja Sama (RPKS).

Di tengah ambisi memperkuat pasokan gula nasional, perhatian publik tertuju pada sejauh mana kemitraan yang telah berjalan selama tiga tahun ini mampu mengatasi berbagai hambatan operasional yang masih berulang di lapangan.

Direktur Operasi Perum Perhutani, Natalas Anis Harjanto, mengakui masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu dibenahi sebelum memasuki musim giling 2026.

“Memasuki tahun ketiga kemitraan ini, kami ingin memastikan seluruh kekurangan pada periode sebelumnya dapat disempurnakan. Fokus kami adalah memastikan setiap tahapan pekerjaan berjalan sesuai target dan timeline yang telah disepakati dalam RPKS,” ujar Natalas.

Salah satu masalah utama yang menjadi perhatian adalah kondisi akses jalan menuju area produksi tebu. Infrastruktur yang belum optimal dinilai berpotensi menghambat mobilitas armada pengangkut hasil panen dan berdampak pada efisiensi distribusi bahan baku ke pabrik gula.

Baca juga:
Kurir Terjepit Usai Tabrakan, Penyelundupan 112 Paket Ganja di Sumut Terbongkar

Menurut Natalas, jajaran Administratur (ADM) dan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) telah diminta segera menyelesaikan proses administrasi dan mengusulkan perbaikan ruas jalan yang selama ini menjadi titik kendala.

“Kami memahami masih terdapat keterbatasan anggaran, namun itu tidak boleh menghambat operasional. Dengan optimalisasi sumber daya yang ada, titik-titik jalan yang sulit diharapkan dapat segera diperbaiki sehingga mendukung kelancaran distribusi dan pengangkutan hasil panen,” katanya.

Di sisi lain, proyeksi cuaca menjadi faktor yang turut memengaruhi optimisme kedua perusahaan. Berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang sehingga dianggap mendukung aktivitas tebang, angkut, dan giling.

“Seluruh tahapan kami targetkan selesai tepat waktu. Kami juga terbuka terhadap berbagai solusi atas hambatan di lapangan. Namun opsi pengalihan pekerjaan kepada mitra lain hanya akan menjadi pilihan terakhir apabila target benar-benar tidak dapat dipenuhi,” tegasnya.

Bagi industri gula, keberhasilan kemitraan ini bukan sekadar soal luas lahan atau volume tebu. Ketersediaan bahan baku menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan operasional pabrik gula yang selama ini menghadapi tantangan produktivitas dan perubahan iklim.

Target Gula Nasional 2026 Dibayangi Masalah Infrastruktur, Perhutani dan PG Rajawali Evaluasi Total
Perhutani dan PG Rajawali melakukan evaluasi besar-besaran memasuki tahun ketiga kemitraan untuk memastikan target musim giling 2026 tercapai. Masalah akses jalan menuju lokasi produksi tebu menjadi salah satu hambatan utama yang berpotensi mengganggu distribusi dan pengangkutan hasil panen.

 

Direktur Utama PT PG Rajawali I, Daniyanto, menyebut kontribusi Perhutani telah membantu meningkatkan kapasitas giling perusahaan hingga mencapai 9,5 juta kuintal pada 2025.

“Kontribusi Perhutani sangat besar terhadap peningkatan kapasitas giling kami yang pada 2025 mencapai 9,5 juta kuintal. Karena itu, kami berkomitmen memenuhi seluruh kewajiban secara tepat waktu dan menjaga kemitraan ini agar semakin kuat,” ujarnya.

Ia mengungkapkan fenomena La Nina pada tahun sebelumnya menyebabkan sebagian tanaman tebu di sejumlah KPH belum dapat dipanen secara maksimal. Kondisi tersebut berdampak pada produktivitas dan perencanaan pasokan bahan baku.

“Kondisi cuaca yang lebih baik menjadi peluang untuk memperoleh kualitas tebu yang lebih optimal. Walaupun produktivitas tahun ini diperkirakan sedikit menurun akibat dampak hujan berkepanjangan sebelumnya, kami optimistis hasil yang dicapai akan tetap positif. Koordinasi perencanaan tebang dan angkut juga akan kami lakukan lebih awal agar pasokan bahan baku ke sejumlah pabrik dapat terjaga,” katanya.

Baca juga:
Pesantren Naik Kelas, Produk OPOP Jatim Curi Perhatian di Kediri

Pasokan tebu dari kerja sama tersebut menjadi penopang operasional sejumlah pabrik gula yang berada dalam koordinasi perusahaan, mulai dari Malang, Kebon Agung Baru, Madiun, hingga Madu Baru Yogyakarta.
 
Sementara itu, Direktur Utama PT PG Rajawali II, Ardian Wijanarko, mengingatkan bahwa peningkatan volume tebu harus berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas di tingkat lapangan.

“Fokus kami saat ini adalah menjaga stabilitas produksi dan meningkatkan produktivitas. Pengalaman adanya beberapa wilayah yang sempat bermitra dengan pihak lain menjadi pelajaran penting. Ke depan, kami berharap seluruh pihak dapat kembali bersatu sehingga tidak terjadi tumpang tindih maupun kendala operasional di lapangan,” kata Ardian.

Saat ini, kemitraan Perhutani dan PG Rajawali mencakup lebih dari 2.523 hektare lahan yang tersebar di Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Luasan tersebut menjadikan kawasan hutan sebagai salah satu sumber bahan baku penting bagi industri gula nasional.

Baca juga:
Taufik Akhirnya Dicokok Polisi, Tersangka Digiring ke Polda Jabar

Namun demikian, tantangan yang dihadapi tidak hanya terkait cuaca dan produktivitas. Publik juga menanti sejauh mana pemanfaatan kawasan hutan untuk tebu mampu memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan tanpa mengabaikan aspek tata kelola, efektivitas infrastruktur, serta kontribusinya terhadap ketahanan pangan nasional.

Musim giling 2026 akan menjadi momentum pembuktian. Bukan hanya bagi target produksi gula, tetapi juga bagi efektivitas kemitraan yang telah memasuki tahun ketiga dan mengelola ribuan hektare kawasan hutan produktif.

 

 

Baca juga:
Keamanan AMDK Jadi Sorotan Novita Hardini, Transparansi Data Perusahaan Diminta

Tebu siap digiling, tetapi apakah jalan menuju kebun sudah siap dilalui? Di balik target gula nasional 2026, masalah lama kembali muncul ke permukaan.

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Perhutani #PGRajawali #IndustriGulaNasional #MusimGiling2026 #KetahananPanganIndonesia

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال