GalaPos ID, Kediri.
Di tengah tantangan daya saing UMKM dan dominasi produk industri besar, program One Pesantren One Product (OPOP) Jawa Timur kembali menguji daya tahan sekaligus kualitas produk pesantren di ruang publik.
Melalui Pameran dan Pagelaran Seni Islami yang digelar komunitas Gusdurian di halaman Masjid Agung Pare, Kabupaten Kediri, pada 17–20 Juni 2026, sejumlah pesantren binaan OPOP memanfaatkan momentum untuk memperluas pasar dan memperkenalkan produk unggulannya kepada masyarakat.
"Pameran ramai, stan penuh pengunjung. Tapi ujian sesungguhnya baru dimulai saat produk pesantren harus bertarung di pasar yang tidak mengenal belas kasihan."
Baca juga:
- Taufik Akhirnya Dicokok Polisi, Tersangka Digiring ke Polda Jabar
- Tanda-Tanda Tubuh Berlebihan Konsumsi Garam
- Novita Hardini Minta Pemerintah Fokus Perkuat Ekosistem Film Nasional
Gala Poin:
1. Produk unggulan pesantren binaan OPOP Jawa Timur tampil dalam Pameran dan Pagelaran Seni Islami di Pare, Kediri, pada 17–20 Juni 2026.
2. Pesantren Istihlalul Faroj dan Al Muwazanah memamerkan produk kuliner serta fesyen sebagai bentuk penguatan ekonomi pesantren.
3. OPOP Jatim menilai keikutsertaan dalam pameran menjadi strategi penting untuk memperluas pasar, meningkatkan daya saing, dan memperkuat ekosistem ekonomi pesantren.
Kegiatan yang berlangsung selama empat hari tersebut tidak hanya menjadi ruang promosi produk pesantren, tetapi juga mempertemukan pelaku usaha, santri, komunitas, dan masyarakat umum dalam satu ekosistem yang menggabungkan nilai keislaman, kebudayaan, dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan.
Ribuan pengunjung memadati area kegiatan untuk mengikuti berbagai agenda yang diselenggarakan. Selain bazar produk UMKM dan pesantren, acara juga menghadirkan perlombaan, pertunjukan seni Islami, diskusi kebangsaan, serta berbagai aktivitas edukatif yang melibatkan masyarakat lintas usia.
Di tengah ramainya kegiatan, stan OPOP Jawa Timur menjadi salah satu titik perhatian pengunjung yang ingin melihat langsung beragam produk hasil inovasi pesantren. Kehadiran produk-produk tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan masyarakat bahwa pesantren tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas.
Dalam pameran tersebut, Pondok Pesantren Istihlalul Faroj menampilkan aneka roti dan berbagai produk sambal yang telah dipasarkan kepada masyarakat. Sementara Pondok Pesantren Al Muwazanah memperkenalkan produk-produk fesyen yang menyasar pasar yang lebih luas.
Baca juga:
AI Mengubah Dunia Kerja, BINUS Siapkan Mahasiswa Hadapi Masa Depan
“Kami mengucapkan terima kasih kepada OPOP Jatim yang telah memberikan kesempatan kepada produk pesantren kami untuk tampil dalam pameran ini. Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat untuk memperkenalkan produk pesantren kepada masyarakat yang lebih luas,” ujar Gus Ahmad Mustawi, Selasa, 23 Juni 2026.
Menurutnya, dukungan terhadap produk pesantren perlu terus diperkuat agar mampu bersaing di pasar yang lebih besar dan berkelanjutan.
“Kami berharap produk-produk OPOP semakin dikenal, tidak hanya di tingkat daerah, tetapi juga mampu menembus pasar nasional. Dengan kolaborasi dan pendampingan yang berkelanjutan, kami optimistis produk pesantren dapat menjadi kebanggaan Jawa Timur sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal OPOP Jatim, Gus Ghofirin, menilai partisipasi pesantren dalam berbagai pameran menjadi langkah penting untuk memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk yang dihasilkan.
“Kami terus mendorong pesantren binaan OPOP agar aktif mengikuti berbagai pameran dan kegiatan promosi. Semakin sering produk pesantren hadir di tengah masyarakat, semakin besar peluang untuk memperluas pasar dan memperkuat ekosistem ekonomi pesantren. Semoga keikutsertaan ini menjadi motivasi bagi pesantren lain untuk terus berinovasi dan berkembang,” tuturnya.
Di balik ramainya pameran dan tingginya antusiasme pengunjung, tantangan berikutnya adalah memastikan produk-produk pesantren tidak hanya ramai saat dipamerkan, tetapi juga mampu bertahan, berkembang, dan bersaing secara konsisten di pasar yang semakin kompetitif. Sebab, ukuran keberhasilan pemberdayaan ekonomi pesantren bukan hanya jumlah stan yang terisi, melainkan seberapa jauh produk-produknya mampu menembus pasar dan menciptakan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar.
Baca juga:
Keamanan AMDK Jadi Sorotan Novita Hardini, Transparansi Data Perusahaan Diminta
"Jika pesantren bisa membuat produk berkualitas, mengapa masih banyak yang menganggap ekonomi pesantren hanya sebatas proposal dan seremoni?"
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #OPOPJatim #EkonomiPesantren #UMKMJatim #PesantrenProduktif #KediriBangkit
.jpg)
.jpg)