GalaPos ID - Iklan Banner

Nezar Patria: Pasar Besar Saja Tidak Cukup, Indonesia Harus Kuasai Teknologi

GalaPos ID, Jakarta.
Indonesia menyumbang sekitar 40 persen ekonomi digital Asia Tenggara dan diproyeksikan memiliki nilai ekonomi digital hingga USD360 miliar dalam beberapa tahun ke depan. Namun, besarnya angka tersebut belum otomatis menjadikan Indonesia sebagai pemain utama teknologi global.
Di tengah dominasi sebagai pasar digital terbesar di kawasan, tantangan yang masih membayangi adalah bagaimana Indonesia dapat bertransformasi dari sekadar pengguna teknologi menjadi pencipta inovasi yang memiliki daya saing global.

Nezar Patria: Pasar Besar Saja Tidak Cukup, Indonesia Harus Kuasai Teknologi
Indonesia menguasai 40 persen ekonomi digital ASEAN, tetapi masih menghadapi tantangan klasik: menjadi pasar besar belum tentu berarti menjadi pemain besar. Di tengah ledakan transaksi digital, publik menunggu kapan Indonesia benar-benar menjadi produsen teknologi, bukan sekadar pengguna setia. Foto: Wamenkomdigi Nezar Patria/Dok. Komdigi

"Nilai ekonomi digital bisa tembus USD360 miliar, tetapi pertanyaan publik tetap sama: siapa yang paling banyak menikmati keuntungan dari ledakan digital Indonesia?"

Baca juga:

Gala Poin:
1. Indonesia menjadi kontributor terbesar ekonomi digital ASEAN dengan porsi sekitar 40 persen dan nilai ekonomi digital yang berpotensi mencapai USD360 miliar.
2. Pemerintah menyiapkan delapan prioritas penguatan ekosistem digital untuk mendukung target kemandirian teknologi dalam Visi Indonesia Digital 2045.
3. Tantangan utama Indonesia adalah bertransformasi dari pasar digital besar menjadi pencipta teknologi dan pemain penting dalam rantai pasok global, khususnya AI.



Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menegaskan masa depan ekonomi digital nasional tidak hanya ditentukan oleh besarnya pasar, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan membangun ekosistem digital yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Dalam forum Digital Ecosystem Alignment (DEAL) 2026 di Jakarta Selatan, Nezar menyampaikan pemerintah telah memetakan delapan prioritas utama untuk memperkuat fondasi ekonomi digital nasional.

"Kita sudah mengeksplorasi delapan prioritas untuk pembangunan ekosistem digital di Indonesia dengan spektrum yang cukup luas dan rentang yang beragam, mulai dari peningkatan nilai tambah industri telekomunikasi sampai dengan peningkatan efisiensi biaya logistik nasional. Saya kira di setiap layer, seperti sudah disampaikan oleh Ibu Menteri tadi, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memperkuat ekosistem nasional," kata Wamen Nezar Patria dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Rabu, 24 Juni 2026.

Menurut Nezar, langkah yang dilakukan saat ini menjadi penentu apakah Indonesia mampu mencapai target besar dalam Visi Indonesia Digital 2045, termasuk cita-cita kemandirian teknologi nasional.

"Tahap yang kita lalui sekarang akan menentukan apakah pada 2045 kita bisa mencapai tujuan strategis nasional kita untuk kemandirian teknologi. Penguatan kolaborasi adalah kata kunci yang paling penting yang harus sama-sama kita internalisasi dan bagaimana kita eksekusi," jelasnya.

Baca juga:
Pesantren Naik Kelas, Produk OPOP Jatim Curi Perhatian di Kediri

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi digital tidak cukup hanya diukur dari tingginya transaksi daring atau jumlah pengguna internet. Kemandirian teknologi membutuhkan fondasi yang lebih kuat, mulai dari infrastruktur digital, penguasaan teknologi strategis, pengembangan talenta, hingga kemampuan menciptakan inovasi sendiri.
 
Dalam paparannya, Nezar mencontohkan India sebagai negara yang berhasil membangun fondasi ekonomi digital melalui penguatan infrastruktur publik digital sejak satu dekade lalu.

"Dengan India mungkin kita bisa belajar banyak bagaimana mereka mulai membangun ekosistem digital ini sepuluh tahun yang lalu, pada 2015. Apa yang mereka perkuat? Mereka memperkuat infrastruktur publik digitalnya," ucapnya.

Menurutnya, keberhasilan India tidak lahir secara instan, melainkan melalui pembangunan sistem identitas digital dan pembayaran digital yang terintegrasi serta inklusif.

"Kita tahu India mencoba membangun satu sistem yang inklusif dengan membuat Unified Payment Interface atau UPI dan sistem Aadhaar. Dan itu bisa menjadi driver untuk financial services yang ada di India dan kemudian menjadi backbone untuk tumbuhnya ekosistem ekonomi digital yang ada di India," tambahnya.

Baca juga:
Taufik Akhirnya Dicokok Polisi, Tersangka Digiring ke Polda Jabar

Di sisi lain, Indonesia juga dihadapkan pada tantangan yang lebih besar, yakni menembus rantai pasok global teknologi digital. Persaingan tidak lagi sekadar menyediakan pasar bagi produk teknologi asing, tetapi bagaimana mampu mengambil peran strategis dalam pengembangan teknologi masa depan, termasuk kecerdasan artifisial (AI).

"Kita lihat bagaimana setelah kekuatan ekosistem ini dibangun, perlu juga untuk diperhatikan bagaimana dengan kekuatan nasional yang kita miliki kita bisa menembus rantai pasar global. Saya kira ini yang paling penting, global supply chain dalam ekonomi digital, khususnya adopsi teknologi-teknologi yang advanced atau emerging technology, seperti misalnya artificial intelligence," tegasnya.

Saat ini, Indonesia masih berada pada tahap awal pengembangan AI dan belum memiliki posisi dominan dalam rantai nilai global teknologi tersebut. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga produsen inovasi digital.

"Komitmen kita untuk membangun satu ekosistem digital nasional harus punya tujuan strategis nasional yang sama-sama kita pegang sebagai north star ke mana kita menuju," imbuhnya.

Baca juga:
Novita Hardini Minta Pemerintah Fokus Perkuat Ekosistem Film Nasional 


Nezar mengungkapkan nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai USD105 miliar pada 2025 dan berpotensi tumbuh hingga USD260 miliar sampai USD360 miliar pada masa mendatang.

"Kontribusi Indonesia untuk ASEAN sekitar 40 persen. Kalau kawasan ASEAN bertumbuh 1 triliun USD, kita menyumbang 365 miliar USD. Saya kira kita punya share yang cukup besar dari pertumbuhan ekonomi digital di kawasan. Dan itu sangat ditentukan oleh kolaborasi yang kita buat di dalam ekosistem digital ini," lanjutnya.

Meski memiliki pasar besar, pertanyaan mendasar yang masih relevan bagi publik adalah apakah pertumbuhan ekonomi digital tersebut mampu mendorong lahirnya teknologi nasional yang kompetitif secara global atau justru hanya memperbesar pasar bagi pemain asing. Jawaban atas pertanyaan itu akan sangat ditentukan oleh keberhasilan kolaborasi, investasi sumber daya manusia, dan keberanian membangun kemandirian teknologi sejak sekarang.

Menutup sambutannya, Nezar mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bergerak bersama dalam membangun masa depan digital Indonesia.

"Indonesia tidak kekurangan talenta. Indonesia tidak kekurangan ide. Indonesia tidak kekurangan semangat. Yang kita perlukan adalah keberanian untuk bergerak bersama," pungkasnya.

 

 

 
Baca juga:
AI Mengubah Dunia Kerja, BINUS Siapkan Mahasiswa Hadapi Masa Depan

Punya pasar digital terbesar di ASEAN, tetapi masih bergantung pada teknologi luar. Indonesia sedang membangun raksasa digital atau hanya menjadi pelanggan premium?

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #EkonomiDigital #IndonesiaDigital2045 #ArtificialIntelligence #TeknologiIndonesia #TransformasiDigital

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال