GalaPos ID, Bangka Tengah.
Musim panen durian di Desa Air Mesu, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah, membawa lonjakan pasokan sekaligus perputaran ekonomi yang signifikan bagi pedagang setempat.
Di tengah melimpahnya hasil panen, sejumlah pedagang mengaku mampu menjual ratusan butir durian setiap hari, menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap komoditas musiman tersebut.
"Ketika banyak komoditas mengeluhkan lesunya pasar, durian Air Mesu malah jadi 'raja jalanan'. Dari Rp15 ribu hingga ratusan ribu rupiah per buah, pembeli tetap berdatangan seperti musim kampanye yang tak pernah sepi janji."
Baca juga:
- Yoyok Riyo Sudibyo: Pariwisata Tak Bisa Hanya Andalkan Tambahan Anggaran
- ESDM Pastikan BBM Nonsubsidi Bisa Turun, Publik Menunggu Bukti
- Diduga Bocor 1.495 Data SPMB Batam, Pemkot Gandeng BSSN Lacak Pelaku
Gala Poin:
1. Pedagang durian di Desa Air Mesu mengaku mampu menjual 500–600 butir durian per hari selama puncak musim panen.
2. Harga durian bervariasi, mulai Rp15.000 hingga lebih dari Rp100.000 per buah, tergantung ukuran dan kualitas.
3. Pembeli tidak hanya berasal dari sekitar Air Mesu, tetapi juga dari berbagai wilayah di Pulau Bangka, sehingga menggerakkan ekonomi lokal.
Sepanjang ruas jalan utama yang menghubungkan Kota Pangkalpinang dan Koba, puluhan lapak durian tampak berjajar. Kawasan yang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil durian di Bangka Tengah itu berubah menjadi pusat transaksi musiman yang ramai didatangi pembeli dari berbagai daerah.
Harga durian yang ditawarkan cukup beragam. Untuk ukuran kecil, pedagang menjual mulai Rp15.000 per butir. Sementara durian dengan kualitas premium dapat menembus harga lebih dari Rp100.000 per buah. Variasi harga tersebut menjadi strategi pedagang untuk menjangkau berbagai segmen konsumen di tengah meningkatnya pasokan hasil panen.
Di balik ramainya aktivitas perdagangan, fenomena ini juga mencerminkan pentingnya sektor hortikultura sebagai penopang ekonomi masyarakat desa. Ketika musim panen tiba, durian bukan sekadar buah konsumsi, melainkan sumber pendapatan utama bagi banyak warga yang menggantungkan penghasilan pada hasil kebun dan aktivitas perdagangan musiman.
Baca juga:
Dari Roma ke Lake Como, Bulan Madu Syifa Hadju dan El Rumi
Menurut Hairul, pembeli yang datang tidak hanya berasal dari wilayah sekitar Air Mesu, tetapi juga dari berbagai daerah di Pulau Bangka. Tingginya permintaan tersebut menjadi indikator bahwa durian lokal masih memiliki daya tarik kuat di pasar regional, meski pasokan sedang melimpah.
Melimpahnya hasil panen dan tingginya transaksi yang terjadi saat ini menjadi momentum penting bagi petani dan pedagang lokal.
![]() |
| Pedagang durian di Desa Air Mesu mengaku mampu menjual 500–600 butir durian per hari selama puncak musim panen. Foto: S Agustika |
Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga menjadi pengingat perlunya penguatan tata niaga dan hilirisasi produk pertanian agar nilai ekonomi yang dihasilkan tidak hanya dinikmati selama musim panen berlangsung, tetapi mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
Baca juga:
Larung Sesaji Pacitan, Tradisi Nelayan Syukuri Hasil Laut Melimpah
"Di saat sebagian sektor ekonomi masih mencari pembeli, durian Air Mesu justru membuat warga rela antre dan merogoh kocek. Ternyata yang berduri bukan hanya persoalan hidup, tetapi juga buah yang laris hingga ratusan butir per hari."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #DurianAirMesu #PanenDurianBangka #EkonomiDesa #BangkaTengah #DurianLokalBangka
.jpeg)
.jpeg)