GalaPos ID, Tangerang.
Kehadiran Artificial Intelligence tidak hanya mengubah industri, tetapi juga mengubah cara mahasiswa belajar, mencari informasi, menyusun ide, hingga mempersiapkan karier.
Di tengah perubahan tersebut, perguruan tinggi menghadapi tantangan besar untuk memastikan lulusannya tetap relevan.
"Di era AI, tugas kuliah bisa dibuat mesin dalam hitungan detik. Tantangannya justru memastikan manusia tetap berpikir."
Baca juga:
- Festival Sorak Betawi Condet 2026, Strategi Baru Menjaga Budaya
- Khitanan Massal Jadi Sarana Kampanye Keselamatan Penerbangan di Soekarno-Hatta
- Audiensi DPR, Mahasiswa Tagih Janji Pemerintah Soal BBM dan MBG
Gala Poin:
1. AI mengubah cara belajar dan kebutuhan kompetensi dunia kerja.
2. BINUS mengembangkan Digital Transformation & AI Experience Ecosystem.
3. Tantangan terbesar adalah memastikan teknologi memperkuat, bukan menggantikan, kemampuan berpikir manusia.
Prediksi World Economic Forum yang menyebut sekitar 22 persen pekerjaan global akan mengalami perubahan pada 2030 menjadi sinyal bahwa kompetensi masa depan tidak lagi hanya bergantung pada kemampuan akademik semata.
Merespons kondisi tersebut, BINUS University mengembangkan Digital Transformation & AI Experience Ecosystem sebagai bagian dari strategi pembelajaran yang terintegrasi dengan perkembangan teknologi.
Direktur Kampus BINUS @Alam Sutera, Prof. Lim Sanny, menegaskan bahwa AI tidak boleh dipandang sekadar alat bantu teknis.
“AI sudah menjadi bagian dari ekosistem pendidikan modern. Di BINUS, mahasiswa didorong untuk tidak sekadar menggunakan AI dalam keseharian perkuliahan, tetapi juga memahami bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara tepat, kritis, etis, dan bertanggung jawab. Hal ini penting agar mereka siap menghadapi dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi,” ungkap Prof. Lim, Senin, 22 Juni 2026.
Baca juga:
Kasus Hanania Travel: Awkarin Ajukan Penundaan, Polisi Sudah Periksa 140 Saksi
Meski demikian, tantangan sesungguhnya tetap berada di lapangan. Apakah penguasaan AI yang diajarkan di kampus benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri yang berubah cepat?
Presiden Direktur PT Meta Life Indonesia Group PT Pharos Indonesia, Marjuky CH, yang juga merupakan orang tua mahasiswa BINUS @Alam Sutera, menilai pengalaman belajar yang terhubung dengan kebutuhan dunia kerja menjadi faktor penting.
“Sebagai orang tua, tentu kami ingin anak mendapatkan pendidikan yang baik. Tetapi lebih dari itu, kami juga ingin memastikan bahwa pilihan kampus tersebut dapat membantu anak memiliki arah yang jelas untuk masa depannya. Kekhawatiran seperti biaya pendidikan, pilihan jurusan, dan prospek karier tentu menjadi pertimbangan penting,” ujar Marjuky.
Menurut Marjuky, lingkungan belajar yang mendukung pengembangan diri menjadi nilai tambah dalam menghadapi era disrupsi teknologi.
“Yang membuat kami merasa lebih secure adalah ketika melihat anak tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga berada dalam lingkungan yang mendorongnya untuk berkembang. Ada pengalaman, ada arahan, dan ada ekosistem yang mendukung. Dari situ kami merasa bahwa keputusan memilih BINUS bukan hanya soal kuliah, tetapi juga bagian dari investasi untuk masa depan anak,” tambahnya.
Di tengah maraknya kampus yang berlomba-lomba mengklaim diri siap menghadapi revolusi AI, masyarakat kini membutuhkan ukuran yang lebih konkret. Bukan sekadar laboratorium modern atau slogan transformasi digital, melainkan kemampuan kampus menghasilkan lulusan yang mampu bekerja berdampingan dengan teknologi tanpa kehilangan daya pikir kritis dan kreativitasnya.
Baca juga:
Kapal Api Group Tanam 2.500 Mangrove, Targetkan Pemulihan Ekosistem Pesisir
Dulu orang tua bertanya, "Sudah kuliah belum?" Kini pertanyaannya berubah: "Sudah kuliah, tapi nanti kerja apa?
AI Mengubah Dunia Kerja, Apakah Kampus Sudah Siap Menjawab Tantangan Masa Depan?
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #ArtificialIntelligence #BINUSUniversity #TransformasiDigital #PendidikanMasaDepan #DuniaKerja2030
.jpg)
.jpg)