Festival Sorak Betawi Condet 2026, Strategi Baru Menjaga Budaya

GalaPos ID, Jakarta Timur.
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan gaya hidup generasi muda, budaya Betawi menghadapi tantangan besar untuk tetap relevan.
Kondisi ini mendorong lahirnya berbagai inisiatif pelestarian budaya, salah satunya melalui program Sorak Betawi Condet 2026 yang berlangsung pada 5–21 Juni 2026 di kawasan Condet, Jakarta Timur.

Sorak Betawi Condet 2026: Budaya atau Sekadar Seremoni Kampus?
Ketika budaya lokal terus terdesak modernisasi, Sorak Betawi Condet 2026 mencoba menyelamatkan identitas Betawi melalui pelatihan digital, festival budaya, dan pemberdayaan UMKM. Pertanyaannya, apakah gerakan ini mampu melahirkan dampak jangka panjang atau hanya menjadi agenda seremonial tahunan?

"Di Indonesia, budaya sering dirayakan sehari, lalu dilupakan setahun. Untungnya, pedagang UMKM masih setia mengingatkan lewat dagangannya."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Sorak Betawi Condet 2026 menggabungkan pelestarian budaya dengan edukasi digital.
2. Program melibatkan mahasiswa, masyarakat, UMKM, komunitas budaya, dan pemerintah setempat.
3. Tantangan utama adalah memastikan dampak program berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial.


Program yang digagas mahasiswa kelas PRDC27-4SP Batch 27 LSPR Institute of Communication & Business itu tidak hanya menghadirkan pertunjukan budaya, tetapi juga pelatihan digital, workshop kreatif, hingga bazar UMKM yang melibatkan masyarakat Betawi.

Halaman Balai Budaya Condet menjadi salah satu pusat kegiatan. Di lokasi tersebut, sejumlah pelaku UMKM Betawi memamerkan produk khas daerah, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan budaya kepada masyarakat luas.

Ketua Pelaksana Sorak Betawi Condet, Nailah Inayah Humaira, mengatakan pelestarian budaya tidak lagi cukup dilakukan dengan cara-cara konvensional.

“Melalui Sorak Betawi Condet, kami ingin menunjukkan bahwa pelestarian budaya Betawi dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan yang dekat dengan masyarakat dan generasi muda. Mulai dari edukasi digital, pelatihan kreatif, hingga festival budaya, seluruh rangkaian kegiatan ini dirancang untuk membangun kesadaran bahwa budaya Betawi adalah identitas yang harus terus dijaga dan diwariskan. Kami berharap kolaborasi yang terjalin antara mahasiswa, masyarakat, komunitas budaya, pemerintah setempat, dan berbagai pemangku kepentingan dapat menjadi langkah nyata dalam menjaga keberlangsungan budaya Betawi di masa depan,” ujar Nailah Inayah Humaira,Minggu, 21 Juni 2026.

Baca juga:
Kapal Api Group Tanam 2.500 Mangrove, Targetkan Pemulihan Ekosistem Pesisir

Namun, di balik semarak festival budaya, muncul pertanyaan yang patut diajukan publik: apakah kegiatan seperti ini mampu menciptakan perubahan berkelanjutan atau hanya menjadi agenda tahunan yang selesai ketika panggung dibongkar?
 
Sorak Betawi Condet mencoba menjawab tantangan tersebut melalui kegiatan pra-acara berupa pelatihan pembuatan konten digital, pengelolaan media sosial, dan teknik editing video di SMK PGRI 28 serta Kelurahan Balekambang. Tujuannya adalah membekali generasi muda dengan kemampuan mempromosikan budaya lokal melalui platform digital.

Dosen Pengampu Mata Kuliah Public Relations Program & Evaluation LSPR Institute of Communication & Business, Alexander Mamby Aruan, menilai pendekatan tersebut menjadi salah satu cara agar program tidak berhenti sebagai seremoni.

“Community Development bukan hanya tentang menjalankan sebuah kegiatan, tetapi bagaimana mahasiswa mampu menciptakan program yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Melalui Sorak Betawi Condet, mahasiswa tidak hanya belajar merancang program komunikasi, tetapi juga berkontribusi dalam upaya pelestarian budaya Betawi melalui pendekatan yang kreatif, edukatif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Saya berharap semangat kolaborasi antara akademisi, masyarakat, komunitas budaya, dan generasi muda dapat terus terjalin untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya lokal,” ujar Alexander Mamby Aruan.

Saat Budaya Betawi Bertahan Lewat Konten Digital dan UMKM Condet
Festival Sorak Betawi Condet 2026 menghadirkan bazar UMKM, workshop budaya, dan pertunjukan seni tradisional. Di balik kemeriahan acara, muncul pertanyaan penting: sejauh mana ekonomi kreatif mampu menjadi penyelamat budaya Betawi yang terus terdesak modernisasi?

 

Puncak kegiatan berlangsung pada 21 Juni 2026 melalui Festival Budaya Betawi yang menampilkan Palang Pintu, Lenong, Gambang Kromong, Tari Betawi, hingga bazar UMKM khas Betawi.

Ketua Pokdarwis Kampung Condet, Dicky Arfansuri, melihat kolaborasi lintas sektor menjadi modal penting untuk menjaga eksistensi budaya lokal.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif yang dilakukan oleh mahasiswa LSPR melalui Sorak Betawi Condet. Program ini membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan cara yang kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman. Kami berharap semangat untuk mencintai dan melestarikan budaya Betawi dapat terus tumbuh di kalangan generasi muda sehingga warisan budaya ini tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat,” ujarnya.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bukanlah menggelar festival budaya, melainkan memastikan generasi muda tetap mengenal dan mencintai identitasnya setelah festival usai. Sebab sejarah menunjukkan, budaya tidak hilang karena tidak dipentaskan, melainkan karena tidak diwariskan.

 

 

 

Baca juga:
Gejala Tiroid Sering Diabaikan, Padahal Bisa Berujung Operasi

"Di negeri yang lebih hafal tren TikTok daripada sejarah kampungnya sendiri, budaya Betawi kini harus bersaing dengan algoritma demi tetap hidup."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #SorakBetawiCondet #BudayaBetawi #JakartaTimur #UMKMBetawi #PelestarianBudaya

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال