GalaPos ID, Makassar.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gelombang 115 Universitas Hasanuddin (Unhas) menyerahkan hasil program kerja berupa buletin sejarah Desa Wanio, Kecamatan Panca Lautang, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), pada 12 Februari 2026.
Program ini menjadi upaya awal mendokumentasikan sejarah lokal yang selama ini hanya hidup dalam ingatan warga.
![]() |
| Mahasiswa KKN Unhas menulis sejarah Desa Wanio dalam bentuk buletin untuk menjaga warisan lokal. Program ini mengandalkan sumber lisan di tengah minimnya arsip tertulis. Foto: istimewa |
"Sejarah desa yang nyaris hilang kini ditulis ulang oleh mahasiswa—namun, seberapa kuat ketahanan arsip berbasis ingatan kolektif?"
Baca juga:
- Dari Film ke Wisata Nyata, Replika SD Laskar Pelangi Tarik Ribuan Pengunjung
- Drama Penangkapan di Tol Amplas, 2 Kg Sabu Diamankan dari Kurir
- Layar Tancap Jadi Solusi Sosial: Warga Manggarai Bangun Kebersamaan Lewat Film
Gala Poin:
1. Sejarah Desa Wanio sebelumnya hanya diwariskan secara lisan dan minim dokumentasi tertulis.
2. Mahasiswa KKN Unhas menyusun buletin sejarah desa sebagai langkah awal pelestarian.
3. Tantangan utama meliputi keterbatasan data, potensi bias sejarah lisan, dan keberlanjutan arsip.
Program penulisan sejarah desa tersebut digagas sebagai respons atas minimnya arsip tertulis yang dapat diakses masyarakat. Selama ini, informasi sejarah Desa Wanio lebih banyak diwariskan secara lisan dari generasi tua ke generasi berikutnya.
Penanggung jawab kegiatan, Muh. Nur Meisyah Mudjwi Pratama, menilai kondisi tersebut berisiko menghilangkan jejak sejarah desa jika tidak segera didokumentasikan.
“Sejarah yang ada di desa wanio sendiri hanya di ketahui oleh para orang tua yang ada di desa wanio dan untuk mengakses Sejarah tersebut sangat sulit makanya saya ingin menghadirkan program kerja ini agar seluruh tatanan yang ada di desa wanio dapat mengetahui sejarahnya,” ujar Meisyah, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Selasa, 14 April 2026.
Program ini dimulai sejak 3 Februari 2026 dan menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan waktu serta minimnya sumber tertulis.
Baca juga:
“No Viral No Education”: Kritik Jaksa terhadap Respons Penegakan Hukum
Kondisi ini memaksa tim KKN mengandalkan sumber sejarah lisan sebagai bahan utama penulisan. Di satu sisi, pendekatan ini menjadi kekuatan karena menggali memori kolektif warga.
Namun di sisi lain, ketergantungan pada ingatan membuka potensi bias, distorsi, hingga hilangnya detail sejarah yang tidak terdokumentasi dengan baik.
Meski demikian, keterlibatan warga desa—khususnya para orang tua—menjadi faktor kunci keberhasilan program ini. Mereka menjadi penjaga utama narasi sejarah yang selama ini belum pernah dituliskan secara sistematis.
Hasil akhir berupa buletin sejarah kemudian dipresentasikan dalam seminar hasil sebelum diserahkan kepada pemerintah dan masyarakat Desa Wanio. Penyerahan tersebut disambut positif oleh warga dan aparat desa yang melihatnya sebagai langkah awal pelestarian identitas lokal. Namun, pekerjaan rumah besar masih tersisa.
![]() |
| Mahasiswa KKN Unhas menulis sejarah Desa Wanio dalam bentuk buletin untuk menjaga warisan lokal. Program ini mengandalkan sumber lisan di tengah minimnya arsip tertulis. Foto: istimewa |
Tanpa sistem arsip yang berkelanjutan, pembaruan data, serta verifikasi sejarah yang lebih mendalam, buletin ini berpotensi menjadi dokumentasi statis yang tidak berkembang.
Upaya mahasiswa KKN ini membuka jalan, tetapi keberlanjutan pelestarian sejarah desa tetap bergantung pada komitmen pemerintah desa dan masyarakat untuk merawat, memperbarui, dan mengkritisi narasi yang telah ditulis.
Baca juga:
Mengapa Uang Lama Bisa Hangus? Ini Penjelasan dan Faktanya
"Mahasiswa KKN Unhas menulis sejarah Desa Wanio dalam bentuk buletin untuk menjaga warisan lokal. Program ini mengandalkan sumber lisan di tengah minimnya arsip tertulis."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #SejarahDesa #KKN #Unhas #Budaya #Sidrap

