“No Viral No Education”: Kritik Jaksa terhadap Respons Penegakan Hukum

GalaPos ID, Surabaya.
Meningkatnya tekanan publik terhadap aparat penegak hukum, jaksa berprestasi Helena Octavianne mengungkap persoalan krusial dalam sistem penegakan hukum: kompetensi semata tidak cukup tanpa kepemimpinan yang berorientasi pelayanan.
Temuan ini ia tuangkan dalam disertasi doktoralnya di Program Studi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM), Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga.

Doktor UNAIR Soroti Lemahnya Kepemimpinan dalam Penegakan Hukum
Disertasi doktoral Helena Octavianne mengungkap pentingnya servant leadership dalam meningkatkan kinerja penegakan hukum, serta mengkritik respons aparat yang kerap menunggu tekanan publik. Foto: istimewa

"Di tengah sorotan publik terhadap kinerja penegakan hukum, seorang jaksa justru menyoroti persoalan mendasar: kepemimpinan yang belum sepenuhnya berpihak pada pelayanan publik."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Kepemimpinan melayani (servant leadership) menjadi faktor kunci dalam meningkatkan kinerja penegakan hukum.
2. Kompetensi jaksa belum cukup tanpa dukungan gaya kepemimpinan yang tepat.
3. Fenomena “No Viral No Education” menunjukkan aparat masih reaktif terhadap tekanan publik.


Helena meraih gelar doktor dengan predikat summa cum laude sekaligus dinobatkan sebagai wisudawati terbaik pada Wisuda ke-261 di Airlangga Convention Center (ACC), Surabaya. Ia mencatatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97, serta menjadi doktor perempuan pertama di program studi PSDM UNAIR pada 2026.

Dalam disertasinya berjudul: “Servant Leadership Memediasi Pengaruh Kompetensi Jaksa terhadap Optimalisasi Organizational Performance dalam Penanganan Perkara Tindak Pidana Terkait Perempuan dan Anak yang Dimoderasi oleh Public Pressure dan Organizational Pressure,” Helena menegaskan pentingnya pendekatan kepemimpinan melayani (servant leadership) dalam meningkatkan kinerja organisasi penegak hukum.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kompetensi jaksa—meliputi pengetahuan hukum, keterampilan teknis, dan integritas moral—belum cukup untuk menghasilkan kinerja optimal tanpa didukung gaya kepemimpinan yang tepat.

Baca juga:
Dari Sawit ke Bensin ITS: Terobosan Energi atau Tantangan Baru? 


Hal ini menjadi sorotan penting, terutama dalam penanganan perkara yang melibatkan perempuan dan anak sebagai kelompok rentan.

Saat ini, Helena menjabat sebagai Kepala Bagian Reformasi Birokrasi pada Biro Perencanaan Jaksa Agung Muda Bidang Pembinaan di Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Di tengah tanggung jawab tersebut, ia tetap mampu menyelesaikan studi doktoralnya dengan capaian akademik tinggi.

Proses penyusunan disertasi Helena tidak berjalan mudah. Ia tercatat melakukan perubahan judul hingga sembilan kali serta menyempurnakan kerangka konseptual sebanyak enam kali. Dinamika ini mencerminkan ketekunan dalam menjaga kualitas penelitian.

“Memberikan perspektif komprehensif dalam memahami dinamika pengelolaan sumber daya manusia di sektor public,” sebut Helena, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Minggu, 12 April 2026.

Lebih jauh, Helena mengaitkan temuannya dengan fenomena tekanan publik dan organisasi.

Jaksa Helena Ungkap Kunci Kinerja Penegakan Hukum: Servant Leadership
Di tengah sorotan publik terhadap kinerja penegakan hukum, seorang jaksa justru menyoroti persoalan mendasar: kepemimpinan yang belum sepenuhnya berpihak pada pelayanan publik. Foto: Jaksa Helena Octavianne/istimewa
 

Ia memperkenalkan refleksi melalui tagline “No Viral No Education,” yang menggambarkan kecenderungan meningkatnya perhatian aparat terhadap kasus setelah menjadi viral di media sosial.

Menurutnya, pendekatan servant leadership menuntut respons proaktif aparat penegak hukum. Penanganan perkara seharusnya berjalan adil dan profesional tanpa harus menunggu sorotan publik.

Capaian akademik ini sekaligus memperkuat peran program doktoral PSDM UNAIR dalam membentuk perspektif pengelolaan sumber daya manusia di sektor publik. Di sisi lain, temuan Helena menjadi pengingat bahwa reformasi birokrasi di sektor penegakan hukum masih menyisakan pekerjaan rumah, terutama dalam aspek kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.

 

Baca juga:
Waspada! Uang Lama Bisa Hangus, Ini Cara Menukarnya di BI

"Disertasi doktoral Helena Octavianne mengungkap pentingnya servant leadership dalam meningkatkan kinerja penegakan hukum, serta mengkritik respons aparat yang kerap menunggu tekanan publik."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #PenegakanHukum #ServantLeadership #ReformasiBirokrasi

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال