GalaPos ID, Jakarta.
Perjalanan bisnis DeVaFez menjadi contoh nyata bahwa narasi “UMKM bisa sukses dari ide sederhana” tidak sepenuhnya utuh tanpa melihat proses panjang di baliknya—termasuk kegagalan, tekanan finansial, hingga intervensi ekosistem bisnis.
"Dari hampir bangkrut hingga menembus puluhan ritel, kisah DeVaFez mengungkap realitas keras UMKM: bertahan bukan soal viral, tapi soal sistem dan ketahanan."
Baca juga:
- 2.000 Kasus per Tahun, Pemerintah Perketat Pengawasan Platform Digital
- 780 Ribu Akun Anak Dihapus TikTok, Komdigi Soroti Celah di Roblox
- Atlet Tinju Tapanuli Utara Raih 3 Emas di Kejurda 2026 Meski Dana Minim
Gala Poin:
1. Krisis justru menjadi titik balik transformasi bisnis DeVaFez
2. Sistem dan ekosistem lebih penting daripada sekadar ide produk
3. Masuk retail membutuhkan kesiapan bisnis, bukan keberuntungan
Brand kuliner yang dikenal lewat produk “Kering Kentang Enak” ini kini telah masuk ke sejumlah retail modern, seperti lima cabang Transmart, sedang berproses dengan 25 toko Indomaret, serta menjajaki kerja sama dengan grup Hero.
Namun, capaian tersebut tidak datang secara instan.
“Pernah, terutama saat COVID. Tahun kedua, saya kehilangan ayah saya. Saat itu beliau sedang menunggu kiriman kentang saya,” tutur Aske Mariska Stefani dalam podcast, yang dilihat GalaPos ID, Jumat, 17 April 2026.
“Itu sangat menyentil. Saya sempat terpuruk, bahkan sempat terjebak pinjaman online. Saya menjalankan bisnis seperti ‘sapi perah’, tapi hasilnya tidak terlihat,” lanjutnya.
Baca juga:
Memahami Arti Warna Kotoran di Telinga Anda
Kebangkitan DeVaFez tidak dimulai dari inovasi produk baru, melainkan perubahan fundamental dalam cara bisnis dijalankan.
“Sampai akhirnya saya bertemu SML—itu jadi titik balik saya untuk bangkit,” pungkas Aske.
Sebelum masuk ekosistem pembinaan, bisnis dijalankan tanpa fokus yang jelas. Banyak produk dijual sekaligus, tanpa diferensiasi kuat.
Perubahan mulai terlihat setelah dilakukan restrukturisasi:
- Fokus pada satu produk utama
- Perbaikan kemasan dan branding
- Penerapan SOP
- Pembukuan keuangan yang transparan
“Dari kemasan, branding, SOP, sampai sistem bisnis—semuanya diperbaiki. Bahkan laporan keuangan saya mulai dari minus, tapi dalam 3 bulan bisa sampai titik impas dan berkembang,’ terangnya.
Hal ini menegaskan bahwa persoalan utama UMKM bukan pada ide, melainkan pada eksekusi dan manajemen.
Masuk Retail: Proses Kurasi Ketat
Masuk ke retail modern bukan soal keberuntungan, melainkan hasil dari proses panjang yang terstruktur. Aske mengaku aktif mengikuti kurasi produk hingga business matching.
“Haru sekali. Biasanya kita belanja produk orang, sekarang produk kita yang ada di sana,” tuturnya.
Dari proses tersebut, sekitar 70% produknya berhasil lolos seleksi. Ini menunjukkan bahwa standar retail modern semakin ketat—tidak hanya menilai rasa, tetapi juga konsistensi produksi, legalitas, hingga kesiapan distribusi.
Baca juga:
Aktivitas Gudang CPO Ilegal Picu Kekhawatiran Warga Petatal
Realitas UMKM: Tidak Bisa Jalan Sendiri
Pengalaman stagnasi sebelum bergabung dalam ekosistem menjadi pelajaran penting. UMKM yang berjalan sendiri cenderung berhenti di fase tertentu—terutama ketika menghadapi perubahan pasar dan kompetisi digital.
“UMKM tidak akan bisa berkembang kalau kita berjalan sendiri. Kalau berjalan sendiri, kita hanya akan jalan di tempat,” sebut Aske.
Pernyataan ini mengkritik pola umum pelaku usaha kecil yang masih mengandalkan trial-error tanpa pendampingan.
Baca juga:
Skandal Kredit BPR Cirebon, Tiga Pejabat Tersangka Korupsi
"Perjalanan DeVaFez dari krisis pandemi, jeratan pinjaman online, hingga berhasil masuk puluhan retail nasional. Kisah ini membuka fakta bahwa keberhasilan UMKM ditentukan oleh sistem, bukan sekadar ide."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #UMKMNaikKelas #BisnisKuliner #DeVaFez #KisahUMKM
.jpeg)
.jpeg)