GalaPos ID, Nganjuk.
Asem-asem kambing khas Nganjuk terus mempertahankan posisinya sebagai kuliner unggulan yang diminati lintas generasi.
Di tengah maraknya makanan modern, hidangan berkuah segar dengan cita rasa asam, pedas, dan gurih ini justru semakin diburu, bahkan memicu antrean panjang di sejumlah warung legendaris, terutama saat jam makan siang.
![]() |
| Asem-asem kambing khas Nganjuk menjadi kuliner legendaris dengan cita rasa asam, pedas, dan gurih tanpa bau prengus. Foto: Agus T |
"Antrean panjang saat jam makan siang menjadi pemandangan biasa di sejumlah warung asem-asem kambing di Nganjuk. Di balik popularitasnya, kuliner tradisional ini menyimpan cerita tentang konsistensi rasa, warisan keluarga, dan daya tarik wisata yang terus bertahan di tengah gempuran makanan modern."
Baca juga:
- Cerita DeVaFez: Hampir Bangkrut, Kini Masuk Puluhan Retail Modern
- 2.000 Kasus per Tahun, Pemerintah Perketat Pengawasan Platform Digital
- 780 Ribu Akun Anak Dihapus TikTok, Komdigi Soroti Celah di Roblox
Gala Poin:
1. Asem-asem kambing Nganjuk tetap eksis dan diminati karena cita rasa khas tanpa bau prengus.
2. Warisan keluarga dan konsistensi kualitas menjadi kunci keberhasilan usaha kuliner ini.
3. Berpotensi besar sebagai daya tarik wisata kuliner dan penggerak ekonomi lokal.
Popularitas tersebut tidak lepas dari karakter rasanya yang khas. Kuah bening tanpa santan, berpadu dengan asam jawa, belimbing wuluh, serta daun kedondong, menghasilkan sensasi segar yang kuat.
Daging kambing muda yang empuk tanpa bau prengus menjadi nilai tambah yang jarang ditemukan pada olahan kambing lainnya.
Salah satu warung di Kelurahan Cangkringan, Kecamatan Kota Nganjuk, hampir tidak pernah sepi pengunjung.
Lonjakan pembeli menunjukkan bahwa kuliner tradisional ini masih memiliki daya saing tinggi, sekaligus menjadi indikator kuatnya preferensi masyarakat terhadap makanan autentik.
Pemilik warung, Jumirah, mengungkapkan bahwa usaha tersebut merupakan warisan keluarga yang telah dijalankan sejak generasi sebelumnya di Pasar Wage Nganjuk.
Baca juga:
Atlet Tinju Tapanuli Utara Raih 3 Emas di Kejurda 2026 Meski Dana Minim
Dalam operasional sehari-hari, puluhan kilogram daging kambing muda diolah untuk memenuhi permintaan pelanggan, termasuk menu kaki kambing yang menjadi favorit.
“Usaha ini adalah milik keluarga turun temurun dan sekarang kita meneruskan. Alhamdulilah, banyak yang suka kuliner asem-asem kambing dengan bumbu tradisional racikan sendiri,“ ujar Bu Jum, pada Jumat, 17 April 2026.
Tingginya minat konsumen juga tercermin dari testimoni pelanggan yang menjadikan hidangan ini sebagai pilihan utama saat berkunjung ke Nganjuk.
“Asem-asem daging kambing di sini memang sangat maknyuuss. Dagingnya empuk sekali,” kata Bagus Jati, salah seorang pecinta kuliner asem-asem daging kambing.
Di sisi lain, konsistensi kualitas menjadi faktor krusial. Penggunaan bahan baku segar dalam jumlah besar setiap hari menunjukkan adanya komitmen pelaku usaha dalam menjaga standar rasa, meskipun permintaan terus meningkat.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di pusat kota. Di wilayah sekitar seperti Ngluyu dan Ngetos, kuliner serupa juga berkembang dengan ciri khas masing-masing, memperkuat identitas kuliner daerah sekaligus membuka peluang ekonomi lokal.
Lebih dari sekadar makanan, asem-asem kambing kini berperan sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus daya tarik wisata kuliner Nganjuk.
Namun, keberlanjutan popularitasnya tetap bergantung pada kemampuan pelaku usaha menjaga kualitas di tengah persaingan industri kuliner yang semakin dinamis.
Baca juga:
Memahami Arti Warna Kotoran di Telinga Anda
"Asem-asem kambing khas Nganjuk menjadi kuliner legendaris dengan cita rasa asam, pedas, dan gurih tanpa bau prengus. Warisan turun-temurun ini tetap diminati dan menjadi daya tarik wisata kuliner di Jawa Timur."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #AsemAsemKambing #Kuliner #Nganjuk #Wisata #Jatim #Tradisional
.jpeg)
.jpeg)