Teknologi atau Ketimpangan? Peringatan DPR soal AI Perikanan

GalaPos ID, Jakarta.
Anggota DPR RI Komisi VII dari Fraksi PDI Perjuangan, Nila Yani Hardiyanti, menilai keberhasilan penerapan kecerdasan buatan di sektor perikanan tidak dapat diukur dari kecanggihan teknologi semata, melainkan dari dampaknya langsung terhadap kehidupan nelayan kecil.

DPR: Ukuran Sukses AI adalah Nasib Nelayan

"Di Jepang, AI membantu nelayan membaca laut. Di Indonesia, DPR mengingatkan: teknologi hanya bermakna jika nelayan pulang dengan hasil yang lebih pasti."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Contoh Jepang menunjukkan AI harus diterjemahkan sederhana untuk nelayan.
2. DPR mendorong AI perikanan yang berdampak langsung dan mudah diakses.
3. Ukuran sukses AI adalah keamanan, efisiensi, dan masa depan nelayan kecil.


Hal itu ia sampaikan dalam Kunjungan Kerja BKSAP DPR RI ke IPB University, saat membahas implementasi AI untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Menurut Nila Yani, Indonesia perlu belajar dari praktik negara lain seperti Jepang, yang memanfaatkan AI untuk membantu nelayan memprediksi pergerakan ikan berdasarkan data suhu laut, arus, dan histori tangkapan.

Informasi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi rekomendasi sederhana yang mudah dipahami dan langsung digunakan nelayan.

“Teknologi yang sejati adalah teknologi yang membebaskan. Seperti ajaran Bung Karno, kemajuan harus berjalan seiring dengan keadilan sosial. AI perikanan harus membantu nelayan mengurangi risiko, menekan biaya bahan bakar, dan memastikan mereka pulang melaut dengan hasil yang lebih pasti,” ujar Nila, dalam keteangan yang diterima GalaPos ID, Selasa, 3 Februari 2026.

Baca juga:
Sidang RUKN Ungkap Dampak PLTU terhadap Ekonomi dan Kesehatan Publik 


Dalam konteks kebijakan nasional, Nila Yani menegaskan bahwa arah perjuangan DPR RI Komisi VII bersama Fraksi PDI Perjuangan adalah memastikan negara memprioritaskan fitur AI yang berdampak langsung bagi nelayan kecil.

Prioritas tersebut meliputi sistem prediksi cuaca dan potensi tangkapan yang mudah dipahami, pencatatan hasil tangkapan yang sederhana dan tidak memberatkan, serta transparansi informasi pasar agar nelayan tidak terus berada pada posisi tawar yang lemah.

Ia juga menekankan pentingnya peran dunia akademik, khususnya IPB University, sebagai mitra strategis negara dalam memilah teknologi AI yang layak didorong melalui kebijakan dan anggaran negara.

“Keberhasilan AI dalam sektor perikanan bukan diukur dari seberapa canggih teknologinya, tetapi dari satu ukuran sederhana: apakah nelayan kecil hidupnya lebih aman, bebannya lebih ringan, dan masa depannya lebih pasti. Inilah makna berdirinya negara hadir dan berjuang bersama rakyat,” pungkasnya.

Dari IPB, DPR Tekankan AI untuk Ketahanan Pangan Berdaulat
Besarnya ombak Pantai Selatan kembali menerjang sebuah kapal dengan 5 (lima) orang nelayan asal Cilacap menjadi korban. Kejadian tersebut diterima oleh Basarnas Kantor SAR Cilacap pada Senin sore, 29 April 2024, di Perairan Selatan Nusakambangan Kabupaten Cilacap. 

 

Nila Yani berharap transformasi AI di sektor perikanan dapat menjadi bagian dari jalan panjang menuju ketahanan pangan nasional yang berdaulat, berkelanjutan, dan berpihak pada kekuatan pangan lokal.

 

 

Baca juga:
Gentengisasi Nasional dan Risiko Salah Desain Kebijakan

"Nila Yani Hardiyanti mendorong pengembangan AI perikanan yang sederhana, adil, dan berdampak langsung bagi nelayan kecil demi ketahanan pangan nasional."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #KetahananPangan #AIPerikanan #Nelayan

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال