GalaPos ID, Lumajang.
Penurunan status aktivitas Gunung Semeru tidak otomatis membuat kawasan lerengnya aman. Pemerintah daerah justru mengingatkan publik agar tidak lengah menyusul dua kali erupsi yang terjadi dalam satu hari pada pertengahan Februari 2026.
"Status boleh turun, tetapi ancaman belum benar-benar pergi. Di lereng Gunung Semeru, erupsi dua kali dalam sehari menjadi pengingat bahwa kewaspadaan publik tidak boleh ikut mereda."
Baca juga:Gala Poin:
- Cempaka dan Detoks, Diuretik Alami atau Sekadar Sugesti?
- Solidaritas Afrika dan Sikap Indonesia Warnai Isu Palestina
- Peta Kekuatan Chip AI Global 2026: Siapa Produsen, Siapa Konsumen?
1. Semeru erupsi dua kali dalam sehari dengan kolom abu 1.000 meter dan awan panas 3 kilometer.
2. Penurunan status tidak berarti aman; ancaman lahar dan awan panas masih tinggi, terutama saat musim hujan.
3. BPBD Lumajang memperketat kesiapsiagaan dan meminta warga mematuhi zona bahaya secara disiplin.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang menghimbau warga yang tinggal di sekitar gunung tertinggi di Pulau Jawa itu untuk tetap siaga terhadap potensi erupsi skala besar. Himbauan ini muncul setelah awan panas guguran terjadi berulang kali dalam beberapa hari terakhir.
"Tercatat sejak Jumat 13 Februari 2026 lali Gunung Semeru mengalami erupsi hingga dua kali. Aktivitas vulkanik ini ditandai dengan munculnya kolom abu setinggi seribu meter pada pukul 10.54 WIB. Tak berselang lama juga memuntahkan aemwan panas guguran sejauh 3000 meter ke sisi Tenggara Gunung," jelas Isnugroho, Selasa, 17 Februari 2026.
Data lapangan menunjukkan kolom abu mencapai 1.000 meter, disusul awan panas guguran sejauh 3 kilometer ke arah tenggara. Kondisi ini menempatkan kawasan Besuk Kobokan kembali dalam sorotan.
Atas dasar itu, BPBD Kabupaten Lumajang menyiagakan sejumlah petugas di Pos Pantau Curah Kobokan, Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro, Lumajang.
Petugas secara aktif menghimbau warga, khususnya para penambang pasir, agar waspada terhadap kemungkinan erupsi besar.
Meski status aktivitas menurun, potensi awan panas guguran dan lahar masih menjadi perhatian utama, terutama menjelang puncak musim hujan. Material vulkanik yang menumpuk di sepanjang aliran sungai berpotensi terbawa arus sewaktu-waktu saat hujan deras turun di kawasan hulu.
Dalam konteks kebencanaan, kondisi ini bukan sekadar ancaman teoritis. Riwayat erupsi Semeru sebelumnya menunjukkan lahar sering kali menjadi faktor risiko sekunder yang justru memakan korban ketika kewaspadaan publik menurun.
Badan Geologi dan Pemerintah Kabupaten Lumajang mengimbau masyarakat untuk tetap mematuhi rekomendasi zona bahaya. Area tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak harus dihindari.
"Warga untuk tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan yang berpotensi terdampak hingga 17 kilometer. Menjauhi radius 5 kilometer dari Kawah Jonggring Seloko karena risiko lontaran batu pijar," tambah Isnugroho.
Larangan ini menjadi krusial, mengingat aktivitas ekonomi warga—terutama penambangan pasir—kerap berlangsung di zona berisiko tinggi.
Kepentingan ekonomi dan keselamatan kerap berhadapan, dan di titik inilah ketegasan mitigasi diuji.
Pemerintah Kabupaten Lumajang memastikan seluruh elemen kesiapsiagaan tetap aktif. BPBD, TNI, Polri, relawan, serta jejaring komunitas kebencanaan terus memantau situasi, memperkuat jalur evakuasi, dan memastikan sistem peringatan dini berfungsi optimal.
Pos pengamatan pun tetap siaga memantau perkembangan visual gunung setiap saat.
Penurunan status diharapkan memberi ketenangan psikologis bagi warga. Namun, aparat menegaskan bahwa mitigasi dan literasi kebencanaan tetap menjadi kunci utama keselamatan masyarakat di wilayah rawan bencana.
Di tengah dinamika alam yang sulit diprediksi, publik dituntut tidak sekadar tenang, tetapi juga disiplin terhadap rekomendasi resmi. Karena dalam konteks gunung api aktif seperti Semeru, kewaspadaan bukan pilihan—melainkan keharusan.
Baca juga:
"Meski status aktivitas Gunung Semeru menurun, BPBD Kabupaten Lumajang menegaskan ancaman erupsi skala besar dan lahar masih nyata. Dua kali erupsi dalam sehari menjadi alarm kewaspadaan bagi warga dan penambang pasir di sekitar Besuk Kobokan."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Semeru #ErupsiSemeru #Lumajang #SiagaBencana #MitigasiBencana
Tags
Jawa Timur

