GalaPos ID, Jatim.
Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, masyarakat Jawa kembali menghidupkan tradisi Megengan. Ritual ini digelar pada pekan terakhir Syaban sebagai bentuk persiapan lahir dan batin sebelum berpuasa. Megengan bukan sekadar seremoni budaya.
Ia memuat praktik keagamaan seperti dzikir, tahlil, doa untuk leluhur, ziarah kubur, hingga sedekah massal di masjid atau musala.
"Megengan bukan sekadar makan apem. Tradisi Jawa ini sarat makna spiritual, doa untuk leluhur, hingga pesan sosial tentang berbagi menjelang Ramadan."
Baca juga:
- Sambut Ramadan, Tradisi Megengan Meriah Digelar di Surabaya
- Sidang Isbat 17 Februari 2026: Hilal Masih Minus, Puasa 18 Februari?
- E-Commerce Global 2025 Tembus USD 1,24 Triliun, 70 Persen Transaksi Batal
Gala Poin:
1. Megengan adalah tradisi Jawa menyambut Ramadan dengan doa dan sedekah.
2. Kue apem melambangkan permohonan maaf dan pembersihan diri.
3. Tradisi ini mencerminkan akulturasi Islam-Jawa sejak era Walisongo.
Menurut tokoh budaya, Ki Slamet Joyo, Megengan memiliki pesan moral yang kuat.
"Tradisi ini mengajarkan kita untuk saling berbagi, mengingat kematian, dan bersiap menghadapi bulan penuh berkah dengan hati yang bersih," ujarnya.
Filosofi Apem dan Simbol Pengampunan
Salah satu ikon Megengan adalah kue apem. Kata apem diyakini berasal dari bahasa Arab afwan yang berarti ampunan. Pembagian apem menjadi simbol saling memaafkan sebelum memasuki Ramadan.
Selain apem, masyarakat juga membagikan nasi berkat atau ambeng berisi ayam ingkung, telur, tempe, tahu, urap, dan sambal. Makanan ini dibagikan sebagai wujud syukur dan solidaritas sosial.
Di sejumlah daerah seperti Demak, tradisi Megengan dikemas dalam festival dan kirab budaya. Sementara di Surabaya, Megengan Kubro digelar di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya dengan makan apem bersama.
Baca juga:
Inovasi Kuliner Sate Lalat: Hidangan Kecil dengan Rasa yang Besar
Akulturasi dan Relevansi Zaman
Dalam perspektif kepentingan publik, tradisi ini berfungsi memperkuat kohesi sosial dan menumbuhkan empati kolektif. Ramadan tidak hanya dipahami sebagai ibadah individual, tetapi momentum memperbaiki relasi sosial.
Megengan menjadi pengingat bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan latihan spiritual untuk membersihkan hati dan memperkuat kepedulian terhadap sesama.
![]() |
| Ribuan jamaah memadati Masjid Al Akbar Surabaya dalam tradisi Megengan menyambut Ramadan 1447 H. Gubernur Jawa Timur menyebutnya sebagai “healing batin” sebelum memasuki bulan suci. Foto: WH |
Sebelumnya, ribuan warga dari Surabaya dan sekitarnya memadati Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya dalam gelaran Megengan menyambut Ramadan 1447 Hijriah, Minggu, 15 Februari 2026. Tradisi tahunan masyarakat Jawa ini dikemas sebagai momentum spiritual sekaligus sosial.
Ribuan jamaah berselawat, berdzikir, dan memanjatkan doa bersama dalam suasana khidmat. Dalam sambutannya, Khofifah menekankan pentingnya kesiapan batin sebelum memasuki bulan suci.
"Ditengah kesibukan dan padatnya aktivitas serta rutinitas pekerjaan, kita perlu berhenti sejenak untuk introspeksi. Melalui kegiatan ini mari kita perbanyak dzikir dan memperkuat kesiapan lahir dan bathin dalam menyambut Ramadan," ujar Khofifah, Minggu, 15 Februari 2026.
Baca juga:
Dari Kapolres ke Tersangka Narkoba, Perjalanan Karier AKBP Didik Putra Kuncoro
"Megengan adalah tradisi masyarakat Jawa menyambut Ramadan dengan doa, tahlil, dan pembagian apem. Berakar sejak era Walisongo, tradisi ini menjadi simbol pembersihan hati dan penguatan silaturahmi."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #TradisiMegengan #BudayaIslamJawa #Ramadan2026
.jpeg)
.jpeg)