Daftar Hitam Pentagon Ditarik, Sinyal Lunak AS ke China?

GalaPos ID, Jakarta.
Amerika Serikat kembali mengirimkan sinyal pelonggaran terhadap China setelah Pentagon menarik daftar terbaru perusahaan-perusahaan China yang sebelumnya dituding membantu militer Beijing.
Keputusan ini muncul di tengah kebijakan Presiden Donald Trump yang semakin lunak pasca gencatan senjata dagang dengan Xi Jinping di Busan, Oktober 2025.

Daftar Hitam Pentagon Ditarik, Sinyal Lunak AS ke China?
Pertemuan antara Xi Jinping dan Donald J. Trump di Busan pada 30 Oktober 2025 memunculkan kembali narasi stabilitas hubungan China-AS. Namun di balik retorika “mitra dan teman”, tersimpan dinamika kepentingan ekonomi dan geopolitik dua kekuatan terbesar dunia. Foto: Ministry of Foreign Affairs of the People’s Republic of China

 

"Ketika Washington menarik “daftar hitam” perusahaan China hanya sejam setelah dirilis, dunia bertanya: apakah ini strategi diplomasi baru, atau kompromi yang mengorbankan keamanan nasional?"

Baca juga:

Gala Poin:
1. Pentagon menarik daftar hitam perusahaan China, memicu polemik keamanan nasional.
2. Trump mengizinkan ekspor chip AI Nvidia ke China di tengah pelonggaran kebijakan dagang.
3. Kebijakan lunak ini dinilai berisiko memperkuat kemampuan teknologi dan militer China.


Langkah tersebut memicu kritik dari berbagai kalangan di Washington, baik Partai Republik maupun Demokrat, yang khawatir kebijakan ini berisiko terhadap keamanan nasional AS.

Sebagai catatan, “daftar hitam” Pentagon tidak secara resmi menjatuhkan sanksi kepada perusahaan-perusahaan China.

Namun, berdasarkan undang-undang baru, departemen tersebut akan dicegah dalam beberapa tahun mendatang untuk melakukan kontrak dan pengadaan dari perusahaan-perusahaan yang ada dalam daftar tersebut.

Beberapa perusahaan besar yang masuk daftar mencakup Tencent Holdings dan CATL. Nama Alibaba dan Baidu juga sempat tercantum sebelum dokumen tersebut ditarik. Seorang juru bicara Alibaba mengatakan tidak ada dasar untuk dimasukkannya perusahaan tersebut dan mengancam akan mengambil tindakan hukum.

"Alibaba bukanlah perusahaan militer China maupun bagian dari strategi fusi militer-sipil apa pun," kata juru bicara tersebut.

Baca juga:
E-Commerce Global 2025 Tembus USD 1,24 Triliun, 70 Persen Transaksi Batal

Dokumen resmi itu hanya terunggah sekitar satu jam sebelum beberapa nama perusahaan tambahan dihapus, termasuk CXMT dan YMTC—dua produsen chip yang dilaporkan tengah memperbesar kapasitas produksi di tengah krisis chip memori global.

"Kami ingin menghapus pemberitahuan ini dari pemeriksaan publik dan menarik pemberitahuan ini dari publikasi di Federal Register," demikian bunyi surat Pentagon kepada Federal Register, tanpa menyebutkan alasan spesifik.

Pentagon dan Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar. Kedutaan Besar China di Washington juga tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Penghapusan sejumlah nama itu memicu kecaman dari pendukung kebijakan keras terhadap China.

"Semoga (Pentagon) menarik dokumen terbarunya. Sebab, penghapusan CXMT dan YMTC [dari 'daftar hitam'] adalah sebuah kesalahan," kata Chris McGuire, mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih di bawah Presiden Joe Biden.

Ekspor Chip AI Nvidia ke China Picu Polemik Keamanan Nasional AS
Di tengah ketegangan dagang dan rivalitas teknologi, Presiden China Xi Jinping menyerukan kemitraan strategis dengan Presiden AS Donald Trump. Pertemuan di Busan menjadi momentum penting yang patut dikritisi: apakah ini diplomasi tulus atau sekadar manuver politik global? Foto: Ministry of Foreign Affairs of the People’s Republic of China

 

Sementara itu, Eric Sayers dari American Enterprise Institute menilai dinamika tersebut lebih bersifat administratif.

"Ini tampaknya merupakan masalah proses yang terkait dengan persetujuan antar lembaga pada beberapa perusahaan yang dihapus," kata Eric Sayers.

"Menurut saya, penambahan baru tersebut kemungkinan tidak akan berubah, tetapi beberapa penghapusan masih dalam proses peninjauan dan dapat tetap ada dalam daftar yang diperbarui," kata Sayers.

Kontroversi semakin tajam ketika pemerintahan Trump mengizinkan ekspor chip AI H200 produksi Nvidia ke China. Keputusan ini dinilai berpotensi mempercepat pengembangan kecerdasan buatan China untuk kepentingan militer.

Baca juga:
Inovasi Kuliner Sate Lalat: Hidangan Kecil dengan Rasa yang Besar

Padahal, Nvidia saat ini menguasai lebih dari 85 persen pangsa pasar akselerator AI global melalui lini Hopper dan Blackwell. Di sisi lain, China tengah mendorong kemandirian teknologi melalui Huawei dan SMIC.

Pelunakan kebijakan ini terjadi menjelang rencana kunjungan Trump ke China pada April 2026. Sejak gencatan senjata dagang, Washington juga menunda sejumlah langkah keamanan nasional, termasuk pembatasan terhadap China Telecom dan penjualan peralatan pusat data.

Pertanyaannya, apakah kebijakan ini murni strategi diplomasi ekonomi, atau justru kompromi terhadap kepentingan jangka panjang keamanan nasional AS?

Di tengah dominasi Asia Timur dan AS dalam industri chip AI, perubahan kebijakan Washington tak hanya berdampak pada Beijing—tetapi juga pada stabilitas rantai pasok global.

 

Baca juga:
Dari Kapolres ke Tersangka Narkoba, Perjalanan Karier AKBP Didik Putra Kuncoro

"Amerika Serikat menarik daftar hitam perusahaan China dan mengizinkan ekspor chip AI canggih ke Beijing. Di tengah gencatan senjata dagang Trump–Xi, kebijakan ini memicu kritik keras soal keamanan nasional dan dominasi industri chip global."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Geopolitik #ChipAI #PerangDagang #KeamananNasional #TeknologiGlobal

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال