GalaPos ID, Surabaya.
Ribuan warga dari Surabaya dan sekitarnya memadati Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya dalam gelaran Megengan menyambut Ramadan 1447 Hijriah, Minggu, 15 Februari 2026.
Acara ini turut dihadiri Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
![]() |
| Megengan bukan sekadar makan apem. Tradisi Jawa ini sarat makna spiritual, doa untuk leluhur, hingga pesan sosial tentang berbagi menjelang Ramadan. Foto: WH |
"Ribuan jamaah memadati Masjid Al Akbar Surabaya dalam tradisi Megengan menyambut Ramadan 1447 H. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebutnya sebagai “healing batin” sebelum memasuki bulan suci."
Baca juga:
- Sidang Isbat 17 Februari 2026: Hilal Masih Minus, Puasa 18 Februari?
- E-Commerce Global 2025 Tembus USD 1,24 Triliun, 70 Persen Transaksi Batal
- Inovasi Kuliner Sate Lalat: Hidangan Kecil dengan Rasa yang Besar
Gala Poin:
1. Ribuan jamaah mengikuti Megengan Ramadan 1447 H di Masjid Al Akbar Surabaya.
2. Khofifah menyebut Megengan sebagai wahana “healing batin” sebelum Ramadan.
3. Pemprov Jatim meresmikan fasilitas difabel dan infrastruktur masjid.
Tradisi tahunan masyarakat Jawa ini dikemas sebagai momentum spiritual sekaligus sosial. Ribuan jamaah berselawat, berdzikir, dan memanjatkan doa bersama dalam suasana khidmat.
Dalam sambutannya, Khofifah menekankan pentingnya kesiapan batin sebelum memasuki bulan suci.
"Ditengah kesibukan dan padatnya aktivitas serta rutinitas pekerjaan, kita perlu berhenti sejenak untuk introspeksi. Melalui kegiatan ini mari kita perbanyak dzikir dan memperkuat kesiapan lahir dan bathin dalam menyambut Ramadan," ujar Khofifah, Minggu, 15 Februari 2026.
Ia menambahkan bahwa Ramadan bukan sekadar kesiapan fisik menjalankan ibadah.
"Kita harus siap bukan hanya lahir tetapi juga batin kita, fikiran kita agar siap sepenuhnya dalam melaksanakan ibadah suci ini. Per Uma jika fisik yang kuat tetapi batin kita lemah," tambahnya.
Baca juga:
Dari Kapolres ke Tersangka Narkoba, Perjalanan Karier AKBP Didik Putra Kuncoro
Megengan berasal dari kata Jawa megeng yang berarti menahan, selaras dengan makna puasa. Tradisi ini biasanya digelar pada pekan terakhir Syaban, diisi dengan tahlil, doa bersama, serta pembagian makanan simbolis seperti apem dan nasi berkat.
Di Masjid Al Akbar Surabaya, panitia menghadirkan gunungan apem dan buah-buahan yang diperebutkan jamaah diiringi selawat. Selain ritual spiritual, acara ini juga dihadiri pimpinan Organisasi Perangkat Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Dalam momentum tersebut, Khofifah meresmikan fasilitas toilet difabel dan pengaspalan jalan di area masjid. Langkah ini menjadi sorotan publik karena menyentuh aspek aksesibilitas dan kenyamanan jamaah.
Secara sosial, Megengan menjadi ruang silaturahmi massal yang mempertemukan warga lintas wilayah. Secara kultural, tradisi ini mencerminkan akulturasi Islam dan budaya Jawa sejak era Walisongo.
Di tengah dinamika modernitas, Megengan tetap bertahan sebagai praktik religius yang mengedepankan kebersamaan, introspeksi, dan solidaritas sosial.
Baca juga:
Tips Perawatan Jenggot, Dari Minyak Hingga Pola Makan
"Tradisi Megengan Ramadan 1447 H digelar di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya dan dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Ribuan jamaah mengikuti doa bersama, gunungan apem, serta peresmian fasilitas difabel."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Megengan #Ramadan1447H #Surabaya
.jpeg)
.jpeg)