Bolehkah Niat Puasa Ramadhan Tidak Diulang Setiap Hari?

GalaPos ID, Jakarta.
Ramadhan segera tiba. Umat Islam bersiap menunaikan ibadah puasa yang menjadi rukun Islam. Namun satu pertanyaan klasik kembali mencuat: apakah niat puasa Ramadhan boleh dilakukan sekali untuk sebulan penuh?

Panduan Lengkap Niat Puasa Ramadhan Sebulan Penuh dan Waktunya
Niat puasa bukan sekadar ucapan. Ia penentu sah atau tidaknya ibadah. Sudahkah Anda melafalkannya dengan benar dan tepat waktu?

"Ramadhan segera tiba. Bolehkah niat puasa cukup sekali untuk sebulan penuh? Simak penjelasan mazhab dan dalil lengkapnya agar ibadah sah dan tenang."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Mayoritas ulama mewajibkan niat puasa Ramadhan setiap malam sebelum fajar.
2. Mazhab Maliki membolehkan niat puasa Ramadhan sekali untuk sebulan penuh.
3. Praktik niat sebulan penuh adalah langkah antisipatif, bukan pengganti niat harian.


Dilansir dari laman NU Online dan Baznas, dalam fikih Islam, niat bukan sekadar formalitas. Ia adalah rukun puasa yang menentukan sah atau tidaknya ibadah. Tanpa niat, puasa tidak dianggap sah.

Perbedaan Pendapat Ulama: Harus Setiap Hari atau Cukup Sekali?

Mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i, Hanafi, dan Hanbali mewajibkan niat dilakukan setiap malam sebelum fajar untuk puasa keesokan harinya. Pandangan ini didasarkan pada hadis:

ويشترط لفرض الصوم من رمضان أو غيره كقضاء أو نذر التبييت وهو إيقاع النية ليلا لقوله صلى الله عليه وسلم: من لم يبيت النية قبل الفجر فلا صيام له. ولا بد من التبييت لكل يوم لظاهر الخبر.

Artinya, “Disyaratkan memasang niat di malam hari bagi puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa qadha, atau puasa nadzar. Syarat ini berdasar pada hadits Rasulullah SAW, ‘Siapa yang tidak memalamkan niat sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.’ Karenanya, tidak ada jalan lain kecuali berniat puasa setiap hari berdasar pada redaksi zahir hadits,” demikian ditulis Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam kitab Hasyiyatul Iqna’, Juz II.

Baca juga:
Ramadan 2026, Permintaan Kredit Kendaraan di BSI Naik 15 Persen

Namun, Mazhab Maliki memiliki pandangan berbeda. Menurut mazhab ini, niat puasa Ramadhan boleh dijamak untuk satu bulan penuh pada malam pertama Ramadhan, karena puasa Ramadhan dipandang sebagai satu kesatuan ibadah yang berkelanjutan.

Pendapat ini banyak dipraktikkan di Indonesia, meskipun mayoritas masyarakat mengikuti Mazhab Syafi’i. Praktik tersebut umumnya dilakukan sebagai langkah kehati-hatian (ihtiyath), terutama untuk mengantisipasi lupa niat di salah satu malam.

Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, KH A Idris Marzuqi, dalam karyanya Sabil al-Huda menjelaskan:

"Untuk berjaga-jaga agar puasa tetap sah ketika suatu saat lupa niat, sebaiknya pada hari pertama bulan Ramadhan berniat taqlid (mengikut) pada Imam Malik yang memperbolehkan niat puasa Ramadhan hanya pada permulaan saja. Dan adanya cara tersebut bukan berarti membuat kita tidak perlu lagi niat di setiap harinya, tetapi cukup hanya sebagai jalan keluar ketika benar-benar lupa," (KH. A. Idris Marzuqi, Sabil al-Huda, hal. 51).

Lafal Niat Puasa Ramadhan Sebulan Penuh
Dalam kitab tersebut dicontohkan lafal niat sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيعِ شَهْرٍ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ تَقْلِيدًا لِلْإِمَامِ مَالِكٍ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى

"Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini dengan mengikuti Imam Malik, fardhu karena Allah" (terjemahan dari penulis).

Niat Puasa Ramadhan Sekali untuk Sebulan, Ini Penjelasan Mazhab Maliki
Panduan lengkap niat puasa Ramadhan, qadha, nazar, dan sunnah beserta waktu pengucapan yang benar berdasarkan hadis dan pendapat ulama.

 

Waktu Membaca Niat Puasa Ramadhan
Menurut Mazhab Syafi’i, niat puasa wajib harus dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar. Hal ini menjadi syarat sah puasa Ramadhan, qadha, maupun nadzar.

Dengan demikian, sekalipun seseorang telah membaca niat untuk sebulan penuh pada malam pertama, tetap dianjurkan memperbarui niat setiap malam.

Bagaimana Jika Tidak Puasa di Hari Pertama?

Pertanyaan lain muncul: bagaimana jika seseorang tidak berpuasa pada hari pertama, misalnya karena haid?

Baca juga:
Warga Swadaya Bangun Jembatan Bambu, Perbaikan Belum Jelas

Mazhab Maliki memandang puasa Ramadhan sebagai ibadah yang wajib dilakukan secara berkelanjutan. Syekh Muhammad bin Yusuf al-Ghurnathi menjelaskan:

وكفت نية لما يجب تتابعه اللخمي أما ما تجب متابعته كرمضان وشهري الظهار وقتل النفس ومن نذر شيئا بعينه ومن نذر متابعة ما ليس بعينه فالنية في أوله لجميعه تجزئه

"Dan cukup niat sekali untuk puasa yang wajib dilakukan secara terus-menerus. Imam al-Lakhmi mengatakan, Adapun puasa yang wajib dilakukan terus-menerus seperti Ramadhan, dua bulan puasa dhihar, puasa denda pembunuhan, orang yang bernazar puasa pada hari tertentu, orang yang bernazar terus-menerus berpuasa yang tidak ditentukan harinya, maka niat di awal mencukupi untuk keseluruhannya."

Ibnu Rusydi juga menambahkan:

ابن رشد وأما ما كان من الصيام يجوز تفريقه كقضاء رمضان وصيامه في السفر وكفارة اليمين وفدية الأذى فالأظهر من الخلاف إذا نوى متابعة ذلك أن تجزئه نية واحدة يكون حكمها باقيا وإن زال عينها ما لم يقطعها بنية الفطر عامدا ، وأما ما لم ينو متابعته من ذلك فلا خلاف أن عليه تجديد النية لكل يوم

Dengan dasar tersebut, seseorang yang baru mulai berpuasa pada hari kedua tetap diperbolehkan membaca niat sebulan penuh menurut Mazhab Maliki, selama masih dalam rentang Ramadhan.

Baca juga:
Mengapa Kebiasaan Kecil Lebih Penting untuk Kebahagiaan

Praktik niat sebulan penuh bukanlah pengganti niat harian. Ia adalah solusi fikih untuk kondisi darurat seperti lupa berniat. Umat Islam tetap dianjurkan memperbarui niat setiap malam agar terhindar dari perbedaan pendapat ulama.

 

Baca juga:
Semeru Erupsi Dua Kali, BPBD Lumajang: Status Turun Bukan Berarti Aman

"Penjelasan lengkap lafal niat puasa Ramadhan sebulan penuh menurut Mazhab Maliki, waktu pelaksanaannya menurut Mazhab Syafi’i, serta dalil ulama dan solusi jika lupa berniat."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Ramadhan1447H #NiatPuasa #FikihIslam #MazhabMaliki #MazhabSyafii

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال