GalaPos ID, Jakarta.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026, hingga memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt.
Penurunan tajam ini terjadi di tengah sentimen negatif global menyusul penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap transparansi dan free float saham-saham Indonesia.
"IHSG anjlok hingga memicu trading halt. Pemerintah menyebut hanya “shock sesaat”. Namun, benarkah fundamental ekonomi sekuat klaim pejabat?"
Baca juga:
- Cabai Rawit dan Harapan Kemandirian Pangan Desa Kalosi
- Operasi Anti-Scam Kamboja, WNI Korban atau Bagian Sindikat Scam?
- Peluang UMKM NTB, Jamu Herbal Kunyit Asam Bisa Saingi Minuman Kopi
Gala Poin:
1. IHSG anjlok lebih dari 8% hingga memicu trading halt.
2. Pemerintah menilai pelemahan hanya dipicu sentimen MSCI.
3. Transparansi pasar dan praktik penggorengan saham jadi sorotan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pelemahan IHSG bersifat sementara dan akan pulih dalam waktu dekat.
“Ini kan masih shock. Besok kan flat. Minggu depan lah Anda lihat minggu depan (pulih),” kata Purbaya di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 28 Januari 2026.
IHSG tercatat sempat terkoreksi lebih dari 8% pada pukul 13.43 WIB, setelah sebelumnya dibuka melemah 6,8% ke level 8.369,48. Tekanan berlanjut hingga awal sesi II, dengan indeks jatuh ke level 8.261,79 atau turun 718 poin.
Sentimen MSCI dan Masalah Transparansi
Purbaya menilai, kejatuhan IHSG bukan disebabkan oleh persoalan fundamental ekonomi, melainkan sentimen teknis pasar pasca-pengumuman MSCI.
Lembaga indeks global tersebut menilai masih terdapat persoalan serius terkait transparansi dan penilaian free float saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes, meskipun Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan sejumlah perbaikan minor.
“Cuman ini karena berita negatif tadi kan Kita tidak dianggap transparan, free floating-nya ga cukup besar, sehingga bisa dipermainkan harganya. Seperti itu,” tutur Purbaya.
Baca juga:
Ikan Nila Jadi Peluang Usaha Baru Warga Desa Kalosi
Sorotan Penggoreng Saham
Selain sentimen eksternal, Purbaya juga menyinggung praktik spekulatif di dalam negeri. Ia menilai masih banyak pelaku penggoreng saham yang berkeliaran dan berpotensi merugikan investor ritel.
“Banyak penggoreng-penggoreng di pasar saham yang bebas berkeliaran untungnya banyak, sementara yang investor kecil mungkin sebagian dirugikan,” ujarnya.
Klaim Fundamental Ekonomi
Purbaya menegaskan, tekanan yang terjadi di pasar saham tidak mencerminkan kondisi ekonomi nasional. Menurutnya, pemerintah bersama Bank Indonesia telah menjaga stabilitas makro dan menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 6% pada 2026.
“Karena pondasi ekonomi betul-betul kita perbaiki dengan serius. Saya sebetulnya enggak peduli indeks. Kalau ini (fundamental ekonomi) bagus, di sana otomatis naik,” ungkapnya.
Namun, kejatuhan IHSG ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan pasar tidak hanya bergantung pada klaim fundamental, tetapi juga pada tata kelola, transparansi, dan perlindungan investor yang konsisten.
![]() |
| IHSG ambruk di tengah penilaian MSCI soal transparansi pasar Indonesia. Pemerintah optimistis fundamental ekonomi kuat, tetapi kepercayaan investor kembali diuji. Foto: Intan |
Diketahui, pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu (28/1/2026) tak hanya memicu kepanikan pasar, tetapi juga membuka kembali perdebatan lama tentang transparansi dan struktur pasar modal Indonesia.
IHSG dibuka melemah lebih dari 6% ke level 8.393,51. Hingga pukul 10.45 WIB, aktivitas perdagangan terpantau sangat aktif dengan volume transaksi mencapai 336,4 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp23,4 triliun.
Baca juga:
Pesawat Smart Air Ditching di Nabire, Evaluasi Keselamatan Dimulai
"IHSG ambruk hingga trading halt pada 28 Januari 2026. Pemerintah menyebut hanya shock sementara, namun isu transparansi dan free float kembali menjadi sorotan."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #IHSG #TradingHalt #PasarModal

