GalaPos ID, Lombok Barat.
Tingginya curah hujan yang terjadi selama beberapa bulan terakhir berdampak langsung terhadap penurunan produksi dan omzet usaha garam halus petani di Dusun Madaq Bleq, Desa Cendimanik, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Petani berharap dukungan konkret pemerintah.
![]() |
| Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat menjadi sentra garam terintegrasi terbesar di NTB. |
"Di tengah ambisi Nusa Tenggara Barat menuju sentra garam nasional, hujan justru menjadi ancaman senyap bagi petani garam tradisional di pesisir Sekotong."
Baca juga:
- Ribuan Warga Serang dan Tangerang Terdampak Banjir Hujan Lebat
- WAXP di Persimpangan Event Gim dan Volatilitas Kripto
- Ribuan Warga Pandeglang Mengungsi, BPBD Siaga Darurat
Gala Poin:
1. Produksi dan kualitas garam halus petani Sekotong turun drastis akibat hujan.
2. Frekuensi produksi menyusut dari enam kali menjadi dua kali per minggu.
3. Petani mendesak pemerintah membangun gudang penyimpanan bahan baku.
Mayoritas warga di dusun pesisir tersebut menggantungkan hidup sebagai petani garam tradisional. Garam halus diproduksi dari air laut yang diendapkan di tambak terbuka dan sangat bergantung pada cuaca panas serta intensitas sinar matahari.
Namun, cuaca yang tidak menentu membuat aktivitas produksi garam mengalami penurunan signifikan. Salah seorang petani garam, Zahid Idris, mengungkapkan hujan menghambat proses penguapan air laut yang menjadi kunci produksi.
“Biasanya kami bisa produksi hampir setiap hari, sampai enam kali dalam seminggu. Sekarang hanya mampu dua kali produksi,” ujar Zahid Idris, Rabu, 14 Januari 2026.
Baca juga:
Puluhan Ribu Warga Terdampak, Bendungan Riam Kiwa Kembali Didorong
Penurunan tidak hanya terjadi pada frekuensi produksi, tetapi juga pada volume hasil panen. Jika sebelumnya mampu menghasilkan ratusan kilogram, kini petani hanya memperoleh puluhan kilogram garam dalam satu kali produksi.
“Kualitas garam juga menurun karena kandungan keasinannya berkurang akibat terendam air hujan,” tambahnya.
Di Dusun Madaq Bleq terdapat empat kelompok tani garam halus. Setiap kelompok beranggotakan sekitar sepuluh orang petani.
Dalam kondisi cuaca normal, total produksi bisa mencapai sekitar 50 kilogram per hari atau setara empat kuintal per minggu. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan keberlanjutan usaha garam rakyat, terlebih di tengah fluktuasi harga dan ketergantungan penuh pada faktor alam.
![]() |
| Cuaca ekstrem menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan petani. |
Para petani berharap adanya intervensi konkret dari pemerintah daerah.
“Kami berharap pemerintah bisa membangun gudang agar tanah endapan sebagai bahan baku pembuatan garam bisa disimpan dengan lebih baik,” tutup Zahid.
Baca juga:
Petani Lampung Timur Merugi Akibat Sawah Terendam Banjir
"Curah hujan tinggi menyebabkan produksi dan kualitas garam halus petani di Sekotong, Lombok Barat, merosot tajam. Petani berharap dukungan konkret pemerintah."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Petani #Garam #Sekotong
.jpeg)
.jpeg)