GalaPos ID, Bandung.
Penumpukan sampah di Pasar Caringin, Kota Bandung, menjadi potret nyata krisis pengelolaan limbah di tengah pembatasan akses ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan dampak kesehatan dan terganggunya roda ekonomi pasar.
![]() |
| Krisis pengangkutan sampah di pasar Bandung Raya kian memprihatinkan akibat keterbatasan kuota TPA Sarimukti. |
"Gunungan sampah yang dibiarkan berhari-hari di Pasar Caringin bukan sekadar masalah kebersihan, tetapi juga alarm bagi kesehatan dan ekonomi publik."
Baca juga:
- PDIP Petakan Delapan Krisis Nasional dalam Rekomendasi Rakernas 2026
- Presiden Prabowo Sentil Direksi BUMN yang Dablek
- Pisang Goreng Nasional, Potret UMKM Pelajar di Tengah Potensi Jombang
Gala Poin:
1. Penumpukan sampah dipicu pembatasan akses TPA Sarimukti.
2. Pedagang resah karena dampak kesehatan dan turunnya minat pembeli.
3. Diperlukan langkah darurat pengelolaan sampah dari pemangku kebijakan.
Berbagai jenis limbah terlihat menumpuk di area pasar, mulai dari sisa sayuran, plastik, hingga kemasan dagangan. Selain merusak estetika lingkungan, bau menyengat dari sampah menciptakan suasana tidak nyaman bagi pedagang dan pengunjung.
Pedagang menilai keterlambatan pengangkutan sampah terjadi secara berulang dan tanpa kepastian jadwal. Aspirasi telah disampaikan sejak lama, namun belum berbuah tindakan yang dirasakan langsung di lapangan.
Metevriandi, salah satu pedagang, mengungkapkan kekecewaannya terhadap layanan kebersihan yang dinilai tidak sebanding dengan kewajiban yang telah dipenuhi pedagang.
"Kami menyesalkan pengangkutan sampah yang sering terlambat bahkan tidak dilakukan selama berhari-hari, padahal iuran selalu dibayarkan tepat waktu," ujar Metevriandi, Senin, 12 Januari 2026.
Baca juga:
Curve DAO Token: Prediksi dan Risiko Harga CRV
Ia menambahkan, penumpukan sampah yang dibiarkan berlarut-larut berpotensi menjadi sumber penyakit dan menurunkan minat masyarakat untuk berbelanja di Pasar Caringin.
Dampaknya, pedagang terancam kehilangan pembeli dan pendapatan. Hingga kini, keterbatasan kuota pembuangan di TPA Sarimukti masih menjadi tantangan utama pengelolaan sampah di Bandung Raya.
Publik menanti langkah cepat dan terukur dari pemerintah daerah serta pengelola pasar untuk mencegah krisis sanitasi berkembang menjadi krisis ekonomi lokal.
![]() |
| Pedagang mendesak pemerintah dan pengelola pasar mengambil langkah darurat demi mencegah dampak ekonomi dan lingkungan. |
Kondisi sanitasi di Pasar Caringin, pasar tradisional terbesar di Kota Bandung, berada pada titik mengkhawatirkan. Penumpukan sampah yang terjadi dalam beberapa hari terakhir tidak hanya mengganggu aktivitas perdagangan, tetapi juga memicu kekhawatiran serius terhadap kesehatan publik dan keberlangsungan ekonomi pedagang.
Pantauan di lapangan menunjukkan tumpukan limbah organik dan anorganik menggunung di sejumlah sudut pasar. Aroma menyengat dari sampah yang membusuk menciptakan kesan kumuh di kawasan yang selama ini menjadi pusat distribusi logistik pangan Bandung Raya.
Baca juga:
Pisang Goreng Nasional, UMKM Pelajar Jombang Beromzet Jutaan
"Penumpukan sampah di Pasar Caringin Bandung akibat pembatasan TPA Sarimukti memicu keresahan pedagang dan berpotensi menurunkan minat belanja masyarakat."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Kesehatan #PasarTradisional #Sampah
.jpeg)
.jpeg)