Zona Merah Literasi, Pemuda Lembata Bergerak dari Bawah

GalaPos ID, Lembata.
Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, masih menghadapi tantangan serius dalam bidang literasi. Data Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) 2023 menempatkan Lembata di zona merah, dengan literasi dasar tinggi hanya 34,07 persen, cakap 48,21 persen, dan mahir 2,41 persen.
Sementara Rapor Pendidikan 2024 mencatat literasi siswa SD hingga SMA berada di level sedang, sekitar 65–70 persen.
Inilah gerakan inisiatif swadaya pemuda desa yang lahir dari kegelisahan atas rendahnya minat baca masyarakat.

Membaca di Tengah Paus dan Pesisir: Potret Literasi Lembata
Suasana lapak baca gratis “Teman Duduk” di Desa Pantai Harapan, Kecamatan Wulandoni, ruang literasi terbuka yang diinisiasi pemuda pesisir Lembata tanpa dukungan anggaran pemerintah. Foto: A Boro Huko

"Lembata dikenal dunia lewat tradisi berburu paus Lamalera. Namun di balik pesona budaya, daerah ini masih berjibaku dengan persoalan mendasar: kemampuan membaca warganya."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Literasi Lembata masih berada di level sedang hingga zona merah.
2. Buta huruf dewasa masih menjadi persoalan struktural.
3. Gerakan literasi komunitas menjadi solusi alternatif berbasis warga.


Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan besar antara potensi daerah dan kualitas sumber daya manusianya. Faktor geografis, keterbatasan akses pendidikan di masa lalu, serta kondisi sosial ekonomi menjadi penyebab masih ditemukannya buta huruf, terutama pada kelompok usia dewasa.

Di tengah tantangan tersebut, muncul inisiatif dari kalangan pemuda desa. Salah satunya lapak baca gratis “Teman Duduk” di Desa Pantai Harapan, Kecamatan Wulandoni. Gerakan ini lahir tanpa proyek dan tanpa anggaran, murni dari kesadaran komunitas.

Hamdan Hamado, salah satu penggagasnya, menyebut bahwa literasi tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah.

"Hari ini cukup banyak masyarakat yang ikut membaca adik-adik sekolah dari SD, SMP, Mts, pemuda maupun masyarakat yang pulang dari kebun dan laut juga singgah untuk membaca dan juga melihat-lihat langsung koleksi buku yang ada," tutur Hamdan, Sabtu, 13 Desember 2025.

Baca juga:
SEA Games 2025: Ubed vs Alwi, Indonesia Kunci Emas Tunggal Putra

Gerakan literasi dari bawah juga muncul di desa-desa lain di Lembata, seperti rumah baca komunitas dan program membaca-menulis bagi orang dewasa.

Bahkan lembaga peradilan setempat menyediakan layanan khusus bagi warga buta huruf yang membutuhkan bantuan hukum, menandakan persoalan ini masih nyata.

Lembata sendiri memiliki kekayaan budaya dan pariwisata yang mendunia, seperti tradisi perburuan paus Lamalera dan keindahan Pulau Siput. Namun tanpa literasi yang kuat, potensi tersebut sulit dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat lokal.

Upaya pemuda seperti lapak baca “Teman Duduk” menjadi penanda penting bahwa solusi literasi tidak selalu harus menunggu kebijakan besar. Ia bisa dimulai dari diskusi kecil, warung kopi, dan keberanian membaca realitas.

Ketika Data Bicara: Literasi Lembata dan Perlawanan dari Desa
Anak-anak dan pemuda pesisir Lembata membaca buku di lapak baca Teman Duduk, inisiatif swadaya pemuda desa yang lahir dari kegelisahan atas rendahnya minat baca masyarakat. Foto: A Boro Huko

 

Inisiatif tujuh pemuda Desa Pantai Harapan membuka lapak baca gratis “Teman Duduk” memang layak diapresiasi, namun pada saat yang sama menjadi kritik telanjang bagi negara dan pemerintah daerah.

Ketika lulusan magister, sarjana, hingga nelayan harus mengandalkan buku koleksi pribadi demi menyediakan ruang baca, hal ini menegaskan kegagalan sistemik dalam pemenuhan hak dasar literasi masyarakat.

Rendahnya minat baca yang kerap disalahkan pada masyarakat sejatinya berakar pada minimnya kehadiran negara: tidak ada taman baca yang hidup, distribusi buku yang timpang, dan kebijakan literasi yang berhenti di atas kertas tanpa menyentuh desa-desa pesisir seperti Pantai Harapan.

Baca juga:
Scamming dan Online Gambling, Kemlu Pulangkan 54 WNI dari Myanmar–Thailand

Lebih jauh, keterbatasan koleksi buku dan sifat swadaya lapak baca ini mengungkap rapuhnya keberlanjutan gerakan literasi berbasis relawan.

Tanpa intervensi serius dari pemerintah desa hingga kabupaten, “Teman Duduk” berpotensi menjadi simbol romantisme perjuangan pemuda yang perlahan padam oleh kelelahan struktural. Data ANBK dan Rapor Pendidikan yang menempatkan Lembata di zona merah seharusnya menjadi alarm keras, bukan sekadar angka statistik tahunan.

Jika inisiatif kritis seperti ini terus dibiarkan berjalan sendiri, maka negara bukan hanya abai, tetapi secara tidak langsung mewariskan ketertinggalan literasi sebagai siklus kemiskinan pengetahuan bagi generasi muda Lembata.

Ketika Data Bicara: Literasi Lembata dan Perlawanan dari Desa

 

 

Baca juga:
Mengapa Kebiasaan Kecil Lebih Penting untuk Kebahagiaan

"Data literasi Lembata masih memprihatinkan. Di tengah tantangan itu, pemuda desa menghadirkan lapak baca gratis sebagai gerakan literasi dari bawah."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #DaruratLiterasi #LembataMembaca #GerakanPemuda

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال