GalaPos ID, Iran.
Pimpinan Organisasi Basij Mustaz'afin, Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani, menyatakan kesiapan penuh kekuatannya untuk "pertahanan menyeluruh" di seluruh negeri, mengacu pada amanat pendiri Republik Islam, Ayatollah Khomeini, dan Pemimpin Tertinggi saat ini, Ayatollah Khamenei.
![]() |
| Foto: parstoday |
"Di balik pernyataan siap bertahan, bagaimana sebenarnya kesiapan organisasi militer Iran, Basij, menghadapi eskalasi konflik yang telah merusak program nuklirnya?"
Baca juga:
- Viral! Mahasiswa Universitas Pertamina Jadi Korban Pencurian di Kopi Kenangan
- Tips Menjaga Sayuran Tetap Segar
- Detik-Detik Sirine Semeru: Warga Lari Selamatkan Diri, Desa Rata Tanah
Gala Poin:
1. Basij, organisasi milisi Iran, mengklaim telah mencapai kesiapan penuh untuk pertahanan menyeluruh di semua lini, dari militer hingga siber, dengan strategi berbasis masjid dan lingkungan.
2. Iran menetapkan syarat tegas untuk perundingan nuklir: tidak akan menghentikan pengayaan uranium atau membahas program rudal, menekankan prinsip kesetaraan dan penghormatan timbal balik.
3. Konteks internasional memanas: klaim kesiapan ini muncul pasca serangan Israel yang menghancurkan fasilitas nuklir kunci Iran dan tekanan diplomatik AS yang gagal.
Pernyataan ini muncul dalam konteks tensi regional yang masih tinggi pasca serangan besar-besaran Israel terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025 lalu, seperti dilansir dari parstoday.
“Hari ini kita dapat mengatakan bahwa berdasarkan sistem pemikiran Revolusi Islam, Basij di seluruh negeri—dan di mana pun Revolusi Islam membutuhkannya—memiliki kesiapan untuk pertahanan menyeluruh,” tegas Soleimani dalam pertemuan di Qom, Kamis, 20 November 2025, lalu.
Untuk mewujudkan pertahanan menyeluruh itu, Soleimani mengaku memusatkan strategi pada tiga pilar: masjid, lingkungan, dan pos-pos Basij.
Pendekatan berbasis lingkungan yang telah diujicoba selama tiga tahun terakhir ini mencontohkan Provinsi Qom sebagai model percontohan, klaimnya, terutama dalam penanggulangan masalah sosial.
Lebih dari sekadar pertahanan militer, Soleimani mendeskripsikan kesiapan Basij mencakup bidang yang sangat luas, mulai dari keamanan, pembangunan, pengentasan kemiskinan, penanggulangan masalah sosial, hingga ruang siber dan media.
Baca juga:
Digitalisasi UMKM Bengkulu, Antara Ancaman dan Peluang
Klaim kesiapan ini harus dilihat dalam kerangka ancaman yang dihadapi Teheran. Pada Juni 2025, Israel melancarkan serangan udara tanpa precedented yang menargetkan tiga fasilitas nuklir kunci Iran: Natanz, Isfahan, dan Fordow.
Serangan ini disebut mengakibatkan kerusakan signifikan, termasuk gangguan pasokan listrik ke centrifuge pengayaan uranium di bawah tanah Natanz. Militer AS kemudian dikabarkan ikut menyerang situs-situs nuklir Iran tersebut.
Di tengah lanskap keamanan yang berubah inilah diplomasi nuklir Iran menghadapi jalan buntu. Sayid Kamal Kharazi, Ketua Dewan Hubungan Luar Negeri Strategis Iran, dalam wawancara dengan CNN menegaskan syarat tidak tergoyahkan untuk setiap perundingan dengan Amerika Serikat.
“Penghentian pengayaan uranium tidak dapat diterima,” tegas Kharazi.
![]() |
| Foto: Mayjen. Amir Hatami, Panglima Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, meninjau satuan-satuan Angkatan Darat di kawasan perbatasan timur laut. Sumber: parstoday |
“Kami harus melanjutkan pengayaan karena kami membutuhkan produksi bahan bakar untuk pembangkit listrik kami serta untuk kegiatan medis. Namun, tingkat pengayaan dapat menjadi materi perundingan.”
Lebih lanjut, Kharazi dengan keras menyatakan bahwa program rudal balistik Iran adalah hal yang tidak dapat dinegosiasikan.
Dia menegaskan bahwa satu-satunya isu yang siap dibahas dengan AS adalah masalah nuklir, sambil menambahkan bahwa Iran akan terus meningkatkan kemampuan rudalnya.
Baca juga:
Tim SAR Maksimalkan Pencarian, Tiga Korban Longsor Masih Hilang
Pernyataan-pernyataan tegas dari para pejabat Iran ini mengukuhkan posisi mereka di panggung internasional yang semakin runcing, di mana klaim kesiapan pertahanan dan syarat diplomasi yang ketat menjadi senjata utama menghadapi tekanan militer dan politik dari luar.
Diketahui, serangan udara skala besar Israel terhadap Iran pada 13 Juni 2025 tidak hanya menewaskan komandan senior dan ilmuwan nuklir, tetapi juga secara drastis mengubah kalkulasi keamanan global dengan menargetkan jantung program nuklir kontroversial Iran.
Misi dengan tujuan tinggi dan risiko yang lebih besar itu, menurut analisis intelijen, berhasil mengganggu "rantai pasok" kompleks yang diperlukan Iran untuk menciptakan senjata nuklir
Baca juga:
UMKM Pintar Diluncurkan, Solusi Nyata atau Sekadar Janji Digital?
"Kesiapan penuh Basij sebagai kekuatan pertahanan menyeluruh Iran dan posisi tak tergoyahkan dalam perundingan nuklir, di tengah tensi tinggi pasca-serangan Israel dan tekanan maksimum Amerika Serikat."
#Basij #Iran #Nuklir #GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia
.jpg)
.jpg)