GalaPos ID, Jakarta.
Pohon mahoni (Swietenia macrophylla) telah lama dikenal karena kualitas kayunya. Namun, beberapa tahun terakhir, bagian bijinya kian populer dalam pengobatan tradisional, diklaim mampu meredakan gejala berbagai penyakit kronis, mulai dari hipertensi hingga diabetes. Klaim ini didasarkan pada kandungan senyawa antioksidan kuat seperti flavonoid, saponin, dan alkaloid.
Sejauh mana kita bisa memercayai klaim "obat dewa" ini?
Pahitnya sudah melegenda, khasiatnya diklaim mampu mengatasi segala, mulai dari sembelit ringan hingga penyakit kardiovaskular kronis. Biji mahoni (Swietenia macrophylla) kini jadi buruan pengobat herbal. Namun, di balik daftar panjang janji kesehatannya, tersimpan peringatan keras dari otoritas kesehatan Singapura: risiko cedera hati yang berpotensi fatal. Sejauh mana kita bisa memercayai klaim "obat dewa" ini?
Baca juga:
- Si Manis yang Menyimpan Bahaya Kesehatan
- Bedah Mitos dan Fakta, Manfaat Pisang bagi Tubuh Menurut Sains
- Cinta Bertepuk Sebelah Tangan Berujung Luka, Pelaku Diduga Gangguan Jiwa
Gala Poin:
1. Biji mahoni (Swietenia macrophylla) dipercaya memiliki hingga 11 khasiat kesehatan, terutama untuk mengontrol gula darah dan tekanan darah, didukung oleh kandungan flavonoid dan saponin yang bertindak sebagai antioksidan dan antiradang.
2. Fokus kritis adalah pada efek samping: terdapat laporan kasus cedera hati hingga gagal hati yang dicatat otoritas kesehatan Singapura, terutama pada pasien dengan kondisi kronis dan yang sedang menjalani pengobatan medis, menunjukkan potensi toksisitas atau interaksi obat yang serius.
3. Minimnya penelitian klinis yang membuktikan efektivitas dan keamanan pada manusia mengharuskan publik untuk berhati-hati dan wajib berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi biji mahoni, terutama sebagai pengobatan pendamping untuk penyakit serius.
Namun, di tengah gencarnya promosi manfaat, jurnalisme skeptis wajib mengangkat isu kritis yang sering diabaikan: risiko keamanan dan minimnya bukti klinis yang solid pada manusia. Prioritas kepentingan publik adalah memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang seimbang antara potensi manfaat dan bahaya nyata.
Fakta paling krusial yang harus diketahui oleh publik adalah risiko efek samping. Meskipun biji mahoni telah digunakan secara turun-temurun, penelitian modern yang membuktikan efektivitas dan keamanannya masih sangat terbatas.
Otoritas Ilmu Kesehatan Singapura (Health Sciences Authority) mencatat adanya kasus cedera hati (liver injury) yang diduga kuat berkaitan dengan konsumsi biji mahoni. Tingkat keparahan kasus ini beragam, mulai dari gangguan fungsi hati hingga yang paling serius, gagal hati.
Baca juga:
Jusuf Kalla Soroti Lippo Group Eksekusi Tanah 16,4 Hektare di Makassar
"Sayangnya hingga kini masih sangat sedikit penelitian yang dapat membuktikan efektivitas dan keamanan dari penggunaan biji mahoni sebagai obat herbal."
"Kebanyakan pasien yang dilaporkan mengalami kondisi ini memiliki kondisi medis lainnya seperti diabetes, hipertensi, hiperlipidemia, hingga perlemakan hati dan sedang mengonsumsi obat lain. Diduga pasien menggunakan biji mahoni sebagai pengobatan pendamping dari kondisi medis yang dialaminya tersebut."
Implikasi Kritis: Kasus ini menunjukkan bahwa biji mahoni, terutama ketika digunakan sebagai pengobatan pendamping pada pasien yang sudah memiliki penyakit kronis dan mengonsumsi obat resep, berpotensi memicu interaksi obat yang berbahaya atau toksisitas langsung pada hati.
Menguji Klaim Manfaat: Saponin sebagai Harapan dan Tanda Tanya
Biji mahoni dipercaya memiliki hingga 11 khasiat kesehatan, terutama didorong oleh kandungan flavonoid dan saponin. Dua klaim utama yang menonjol adalah:
Antidiabetes (Mengontrol Gula Darah): Kandungan saponin dipercaya memiliki efek hipoglikemik, yaitu kemampuan untuk menurunkan kadar gula darah.
Kardiovaskular dan Hipertensi: Kandungan flavonoid diklaim mampu memperlancar sirkulasi darah, membersihkan kolesterol, dan membantu mengontrol tekanan darah.
Analisis Kritis: Studi awal (kebanyakan dilakukan pada sel atau hewan, seperti tikus) memang menunjukkan bahwa ekstrak biji mahoni dapat menurunkan kadar glukosa darah.
Namun, perlu ditekankan bahwa temuan ini bukanlah bukti klinis yang memadai untuk menganjurkan penggunaan biji mahoni sebagai pengganti obat diabetes atau hipertensi yang diresepkan.
Klaim lain seperti meringankan nyeri haid, mengatasi sembelit, meningkatkan sistem imun, hingga menurunkan risiko disfungsi seksual juga dikaitkan dengan efek saponin dan flavonoid (antiinflamasi, antihistamin, antioksidan).
Meski menjanjikan, klaim ini tetap berada di ranah pengobatan tradisional dan belum memiliki validasi ilmiah yang ketat untuk menjamin efektivitasnya.
Baca juga:
Lonjakan Inflasi dan Krisis BBM, Sumsel Masih Cari Solusi
Panduan Kepentingan Publik: Konsultasi Dokter adalah Kunci
Mengingat biji mahoni dikonsumsi dengan klaim untuk mengatasi penyakit-penyakit serius (diabetes, hipertensi, penyakit jantung), risiko yang ditimbulkan dari penggunaan herbal ini menjadi sangat tinggi, terutama bagi mereka yang sedang dalam pengobatan medis.
Mulai pahami dahulu sebelum Penggunaan Mandiri: Masyarakat harus menahan diri untuk tidak menggunakan biji mahoni sebagai obat utama atau suplemen tanpa pengawasan medis, terutama jika menderita kondisi kronis.
Waspada Interaksi Obat: Pasien yang mengonsumsi obat resep (misalnya obat diabetes atau penurun tekanan darah) harus sangat berhati-hati. Konsultasikan dengan dokter sebelum menambahkan biji mahoni ke dalam regimen pengobatan, untuk menghindari interaksi obat yang dapat memicu efek toksik, termasuk cedera hati.
Keterbatasan Penelitian: Pahami bahwa klaim manfaat biji mahoni sebagian besar masih berdasarkan pengobatan tradisional, sementara data mengenai dosis aman dan efektivitas klinis pada manusia masih langka.
Baca juga:
Transaksi Judi Online Turun Rp200 Triliun, Benarkah Berkat Blokir Situs?
"Klaim 11 manfaat biji mahoni (Swietenia macrophylla) untuk hipertensi, diabetes, hingga disfungsi seksual, yang didukung senyawa flavonoid dan saponin. Menyoroti fakta kunci: minimnya studi klinis pada manusia dan laporan kasus serius mengenai cedera hati yang terkait konsumsi herbal ini.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #BijiMahoni #Herbal #Kesehatan

.jpeg)