GalaPos ID - Iklan Banner

Pasar Kripto Anjlok, Benarkah Bitcoin Siap Bangkit?

GalaPos ID, Jakarta.
Pasar aset kripto kembali menghadapi tekanan ketika nilai kapitalisasi pasar dilaporkan turun 4,28 persen menjadi US$2,75 triliun pada 17 Oktober 2026, pukul 09.00 waktu Timur AS atau 13.00 UTC.
Pada saat yang sama, nilai likuidasi posisi perdagangan di Binance, Bybit, dan OKX mencapai US$166,2 juta dalam periode 24 jam.

Harga Bitcoin Melemah, Mengapa Analis Justru Makin Optimistis?
Pasar kripto merona merah, likuidasi tembus US$166,2 juta, tetapi sinyal bullish Bitcoin mulai menyala. Analis makin optimistis, harga belum sepenuhnya mengikuti. Apakah pasar sedang menyiapkan reli atau sekadar memberi harapan sebelum kejutan berikutnya? Simak data harga Bitcoin, likuidasi kripto, dan risiko sinyal bullish yang terlalu dini. Foto: ilustrasi

 

"Analis makin optimistis, Bitcoin masih terkoreksi. Rupanya, pasar kripto belum tentu mengikuti rapat optimisme. Siapa yang benar: grafik, analis, atau harga yang tak mau diajak kompromi?"

Baca juga:

Gala Poin:
1. Likuidasi posisi beli mendominasi. Dari total likuidasi US$166,2 juta yang dilaporkan, posisi long mencapai US$120,6 juta.
2. Sentimen bullish meningkat, tetapi harga belum mengonfirmasi pembalikan tren. Indikator momentum dan konsensus analis perlu dibaca bersama pergerakan harga aktual.
3. Indikator teknikal bukan jaminan keuntungan. Riwayat 2019 dan 2023 menunjukkan bahwa sinyal serupa dapat berujung pada pergerakan harga yang sangat berbeda.


Data yang dikutip TokenPost menunjukkan Bitcoin dan lima aset kripto utama lainnya sama-sama mengalami penurunan harga. Bitcoin diperdagangkan pada US$81.520 atau melemah 0,67 persen. Ethereum turun 1,48 persen menjadi US$2.427, sedangkan XRP terkoreksi 3 persen ke US$1,30.

Penurunan juga terjadi pada BNB yang melemah 1,21 persen menjadi US$719,54, Solana yang turun 1,59 persen ke US$103,96, serta Dogecoin yang merosot 2,52 persen menjadi US$0,0797.

Di tengah koreksi tersebut, muncul sinyal teknikal yang dinilai berpotensi menandai perubahan momentum Bitcoin dari bearish menjadi bullish. Namun, sinyal indikator belum otomatis berarti harga akan segera naik. Ketika harga masih melemah dan likuidasi posisi beli mendominasi, optimisme perlu diuji dengan perkembangan pasar berikutnya.


Likuidasi Posisi Beli Mendominasi
Menurut laporan TokenPost, total likuidasi di Binance, Bybit, dan OKX mencapai US$166,2 juta selama 24 jam. Dari jumlah itu, likuidasi posisi beli atau long mencapai US$120,6 juta, sedangkan posisi jual atau short sebesar US$45,6 juta.

Dengan demikian, likuidasi posisi beli menyumbang sekitar 72,6 persen dari total nilai yang dilaporkan. Angka tersebut menunjukkan bahwa likuidasi posisi beli lebih besar daripada posisi jual selama periode pengamatan.

Baca juga:
ARTOTEL Bidik Pasar Wisata Yogyakarta–Borobudur, Fasilitas Hotel Jadi Andalan 


Likuidasi dapat terjadi ketika posisi perdagangan bermargin tidak lagi memenuhi persyaratan jaminan. Ketika harga bergerak berlawanan dengan posisi investor, platform dapat menutup posisi tersebut untuk membatasi risiko kerugian.

Meski demikian, angka likuidasi tidak dapat berdiri sendiri sebagai bukti bahwa seluruh pasar akan terus turun. Data itu menggambarkan nilai posisi yang ditutup dalam periode tertentu, bukan jumlah seluruh investor yang merugi ataupun besarnya kerugian bersih setiap pelaku pasar.

Investor juga perlu membedakan likuidasi dari penjualan aset di pasar spot. Keduanya dapat memengaruhi pergerakan harga melalui mekanisme yang berbeda.


Kapitalisasi Pasar Turun, tetapi Dominasi Bitcoin Tetap Tinggi
Data TokenPost mencatat dominasi Bitcoin sebesar 59,4 persen dari total kapitalisasi pasar kripto. Ethereum berada di posisi berikutnya dengan pangsa 10,7 persen.

Besarnya dominasi Bitcoin menunjukkan bahwa aset tersebut masih memegang porsi terbesar dalam pasar kripto berdasarkan kapitalisasi. Namun, dominasi pasar tidak menjamin harga Bitcoin akan selalu lebih stabil atau terhindar dari koreksi.

Laporan yang sama menyebut kapitalisasi pasar kripto sebesar US$2,75 triliun, lebih tinggi daripada catatan US$2,71 triliun pada 15 Oktober. Perbedaan angka tersebut perlu dibaca dengan memperhatikan waktu pengambilan data dan metode penghitungan yang digunakan.

Di antara 38 aset kripto teratas yang dipantau dalam laporan tersebut, Pump.fun mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,57 persen. Sebaliknya, Arbitrum mengalami penurunan terdalam sebesar 7,07 persen.

Bitcoin Masih Terkoreksi, Jangan Terburu-buru Percaya Sinyal Bullish
Likuidasi posisi beli mendominasi. Dari total likuidasi US$166,2 juta yang dilaporkan, posisi long mencapai US$120,6 juta. Sentimen bullish meningkat, tetapi harga belum mengonfirmasi pembalikan tren. Indikator momentum dan konsensus analis perlu dibaca bersama pergerakan harga aktual. Foto: ilustrasi

 

Perbedaan kinerja itu memperlihatkan bahwa koreksi tidak berlangsung dengan intensitas yang sama pada semua aset. Keenam aset utama yang dirinci TokenPost berada di zona merah, sementara sejumlah aset lain menunjukkan pergerakan berbeda.

Bagi investor, kondisi ini menjadi pengingat bahwa arah pasar secara keseluruhan tidak selalu menggambarkan kinerja setiap koin. Kapitalisasi besar, likuiditas, volatilitas, dan sentimen terhadap proyek tertentu dapat menghasilkan pergerakan harga yang berbeda.


Indikator Bitcoin Berubah Hijau, tetapi Apakah Tren Sudah Berbalik?
Di tengah pelemahan pasar, PlanB, pencipta model stock-to-flow, membagikan grafik indikator momentum Bitcoin dari platform analitik Block Horizon. Grafik tersebut melacak momentum berdasarkan rasio Market Value to Realized Value (MVRV), yang membandingkan kapitalisasi pasar dengan nilai agregat koin berdasarkan harga realisasi.

Baca juga:
Eastern Indo Collective Siap Tampil di Korea, Ada Misi Besar JFlow 


Dalam indikator yang dibagikan itu, warna hijau menandakan kondisi bullish, sedangkan warna merah menunjukkan kondisi bearish. Oscillator tersebut berubah menjadi hijau pada 13 Oktober di level +0,07, setelah periode merah yang disebut dimulai pada akhir 2025.

Perubahan warna tersebut menarik perhatian karena mengindikasikan perbaikan pada ukuran momentum tertentu. Namun, indikator MVRV bukan alat yang dapat memastikan kapan harga mencapai dasar atau kapan reli besar akan dimulai.

Data historis juga menunjukkan bahwa sinyal serupa dapat menghasilkan konsekuensi berbeda. Pada 2023, perubahan kondisi momentum mendahului reli Bitcoin dari sekitar US$25.000 ke atas US$70.000 dalam satu tahun.

Sebaliknya, pada 2019, Bitcoin sempat naik mendekati US$13.800 sebelum akhirnya jatuh di bawah US$4.000 pada Maret 2020. Perbedaan hasil ini menunjukkan bahwa kemiripan indikator tidak menjamin pengulangan pola harga yang sama.

Dalam grafik yang dibagikan PlanB, fase bearish 2026 disebut membentuk dasar di kisaran -0,4, lebih dangkal daripada titik terendah sekitar -0,55 pada 2018 dan 2022. Akan tetapi, interpretasi tersebut tetap bergantung pada indikator, rentang data, dan kerangka analisis yang digunakan.

Harga Bitcoin sendiri dilaporkan berada di kisaran US$81.679, turun 1,7 persen dalam 24 jam pada salah satu pengamatan. Harga itu berada di bawah level US$83.094 yang terlihat pada grafik yang dibagikan. Perbedaan angka ini perlu dipahami sebagai hasil pengamatan pada waktu atau sumber data yang berlainan.

Bitcoin Beri Sinyal Bullish, tetapi Likuidasi Kripto Tembus US$166,2 Juta
Sentimen bullish meningkat, tetapi harga belum mengonfirmasi pembalikan tren. Indikator momentum dan konsensus analis perlu dibaca bersama pergerakan harga aktual. Indikator teknikal bukan jaminan keuntungan. Riwayat 2019 dan 2023 menunjukkan bahwa sinyal serupa dapat berujung pada pergerakan harga yang sangat berbeda. Foto: ilustrasi

 


Optimisme Analis Meningkat, Harga Belum Mengikuti
Analyst Consensus Index dari CryptoQuant, yang dihimpun berdasarkan pendapat 164 analis, dilaporkan meningkat dari -18,3 pada 2 Juli menjadi +49,2 per 13 Oktober. Dalam periode yang sama, proporsi pandangan bullish naik dari 37 persen menjadi 84 persen.

Perubahan itu menunjukkan bahwa sentimen di antara analis yang masuk dalam indeks tersebut menjadi jauh lebih optimistis. Namun, survei atau indeks konsensus tidak sama dengan arus pembelian aktual di pasar.

Menurut data CryptoQuant yang disebutkan dalam naskah, Bitcoin sempat mencapai puncak di kisaran US$87.000 pada akhir September. Harga yang kemudian dilaporkan berada di sekitar US$81.679 berarti lebih rendah sekitar 6 persen dari level tersebut.

Kesenjangan antara optimisme analis dan pergerakan harga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Pandangan bullish dapat meningkat sebelum harga pulih, tetapi optimisme juga dapat terbukti terlalu dini jika tekanan jual dan kondisi likuiditas belum membaik.

Sinyal teknikal lain yang disebut dalam analisis pasar adalah kemunculan kembali sinyal moving average 50 minggu setelah 45 pekan. Dalam siklus sebelumnya, titik terendah harga terkadang muncul sekitar satu tahun setelah puncak siklus. Namun, pola historis tersebut tidak memiliki jadwal pasti dan tidak menjamin bahwa dasar pasar akan terbentuk pada bulan tertentu.

Baca juga:
Daun Jadi Motif Kain, Sindikasi Media Network Kenalkan Teknik Ecoprint 


Benjamin Cowen sebelumnya memperkirakan dasar siklus pada Oktober, lalu mengakui pada September bahwa prediksi bearish-nya salah. Bitcoin juga dilaporkan sempat turun ke US$57.800 pada 1 Juli, lebih cepat daripada perkiraan waktu dasar siklus tersebut.

Peristiwa ini memperlihatkan keterbatasan prediksi yang terlalu bergantung pada pola siklus. Model dan indikator dapat membantu menyusun skenario, tetapi hasilnya tetap dipengaruhi oleh perubahan likuiditas, kondisi ekonomi, serta perilaku investor.


Jangan Samakan Sinyal Bullish dengan Jaminan Keuntungan
Pasar kripto kini memperlihatkan dua gambaran yang berjalan bersamaan: sentimen sejumlah analis membaik, tetapi harga dan likuidasi masih menunjukkan tekanan. Kedua kondisi itu tidak selalu bertentangan karena indikator sentimen, momentum teknikal, dan harga aktual mengukur aspek pasar yang berbeda.

Bagi investor ritel, risiko terbesar muncul ketika satu sinyal positif diperlakukan sebagai kepastian. Perubahan indikator menjadi hijau, peningkatan konsensus bullish, atau kemiripan dengan siklus sebelumnya tidak dapat menjamin bahwa Bitcoin akan segera mencetak harga tertinggi baru.

Sebaliknya, penurunan harga dan besarnya likuidasi juga belum cukup untuk memastikan bahwa pasar akan memasuki fase bearish berkepanjangan.

Baca juga:
ARTOTEL Wanasaba Resmi Dibuka, Harga Mulai Rp688 Ribu 


Penilaian yang lebih seimbang perlu mempertimbangkan harga aktual, volume perdagangan, kondisi pasar derivatif, likuiditas, perkembangan makroekonomi, serta konsistensi sinyal dalam beberapa periode. Investor juga perlu memahami risiko penggunaan leverage karena pergerakan harga yang relatif kecil dapat memicu penutupan paksa posisi.

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar apakah indikator Bitcoin sudah berubah hijau, melainkan apakah perubahan itu diikuti oleh penguatan harga dan kondisi pasar yang mendukung. Sebelum bukti tersebut muncul, optimisme tetap merupakan skenario, bukan jaminan.

 

 

Baca juga:
Kodaeral I Gandeng Tiga Kajati, Penegakan Hukum Laut Diuji

Grafik sudah hijau, saldo belum tentu ikut tersenyum. Ketika likuidasi posisi beli mencapai US$120,6 juta, investor Bitcoin perlu membedakan sinyal bullish dari janji manis pasar.

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Bitcoin #KriptoIndonesia #EkonomiGlobal #TheFed #InvestasiDigital

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال