GalaPos ID, Jakarta.
Pemerintah memetakan 25,1 juta penduduk berusia 17 tahun dari kelompok desil 1 hingga 4 sebagai sasaran program pembukaan rekening perbankan secara massal. Kelompok tersebut merupakan bagian dari masyarakat berpenghasilan rendah yang akan diarahkan untuk memperoleh akses ke rekening perbankan formal.
"Rp11 triliun disiapkan, 25,1 juta warga usia 17 tahun masuk sasaran awal. Program rekening massal pemerintah dimulai dari angka besar—publik tentu menunggu manfaat yang juga terasa besar."
Baca juga:
- Kejati Kaltara Tahan 2 Tersangka Korupsi Kredit Rp759,4 Miliar
- Bima Arya ke Peserta Masadagri: Jangan Cuma Pintar, tapi Pandai Bangun Jejaring
- Ketua Baru KWP 2026-2028: Rafyq Panjaitan Bicara Kolaborasi
Gala Poin:
1. 25,1 juta penduduk berusia 17 tahun dari desil 1–4 telah dipetakan sebagai salah satu sasaran program pembukaan rekening perbankan massal.
2. Lebih dari 200 juta penduduk ditargetkan terjangkau, dengan anggaran sekitar Rp11 triliun dari APBN.
3. Program akan dijalankan melalui BRI dan BSI sebagai bagian dari upaya pemerintah memperluas inklusi keuangan dan stimulus non-tunai.
Program ini merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperluas inklusi keuangan. Secara keseluruhan, pemerintah menargetkan pembukaan rekening bagi lebih dari 200 juta penduduk, dengan dukungan anggaran sekitar Rp11 triliun yang bersumber dari APBN.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo, mengungkapkan angka 25,1 juta tersebut, usai menghadiri Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.
"Ada 25,1 juta penduduk kelompok usia 17 tahun di desil 1 sampai 4," ujar Dradjad.
Angka tersebut menunjukkan bahwa program rekening massal tidak sekadar menyasar masyarakat yang belum memiliki rekening, tetapi juga diarahkan kepada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang masuk dalam desil 1 hingga 4.
Pemerintah menempatkan pembukaan rekening tersebut sebagai bagian dari upaya memperluas inklusi keuangan sekaligus stimulus non-tunai. Program ini disebut melengkapi bantuan pemerintah yang telah berjalan, termasuk bantuan sosial pangan dan subsidi upah.
“Banyak sekali stimulus yang disiapkan pemerintah untuk menjaga agar tingkat konsumsi masyarakat tidak terganggu oleh gejolak harga pangan maupun energi. Salah satu instrumen utamanya adalah melalui program pembukaan rekening ini,” pungkas dia.
Baca juga:
Kekeringan Mengintai, Polres Trenggalek Tanam Pohon dan Lepasliarkan Satwa
Target 200 Juta Penduduk, Rp11 Triliun dari APBN
Secara keseluruhan, pemerintah menargetkan program pembukaan rekening secara massal tersebut menjangkau lebih dari 200 juta masyarakat.
Untuk menjalankannya, pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp11 triliun dari APBN. Besarnya target dan anggaran membuat program ini menjadi kebijakan yang memiliki dampak luas sekaligus menyangkut kepentingan publik secara langsung.
Pembukaan rekening secara massal tersebut akan dilakukan melalui PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).
Namun, di balik besarnya angka target dan anggaran, ukuran keberhasilan program tidak berhenti pada berapa banyak rekening yang berhasil dibuat.
Bagi masyarakat penerima sasaran, persoalan yang lebih substantif adalah apakah rekening tersebut benar-benar dapat digunakan untuk mengakses layanan keuangan formal, menerima stimulus, melakukan transaksi, serta membuka akses terhadap layanan perbankan lainnya.
![]() |
| Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara saat memberikan closing remarks dalam Investor Daily Summit 2026 di Raffles Jakarta, Kamis (8/10/2026). |
Dengan target lebih dari 200 juta penduduk dan anggaran sekitar Rp11 triliun, implementasi program juga menjadi sorotan penting. Publik berkepentingan mengetahui bagaimana proses pembukaan rekening dilakukan, siapa penerima yang memenuhi kriteria, serta bagaimana penggunaan anggaran tersebut dipastikan tepat sasaran.
Program ini pada akhirnya akan diuji bukan hanya oleh besarnya angka yang diumumkan, melainkan oleh manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Sebab, rekening boleh dibuka massal. Tetapi bagi warga berpenghasilan rendah, pertanyaan terpenting tetap sama: apakah rekening tersebut sekadar menjadi nomor rekening baru, atau benar-benar menjadi pintu masuk menuju inklusi keuangan?
Baca juga:
Masjid yang 10 Tahun Terendam Muncul Saat Waduk Jatigede Surut
Rekening bank hendak dibuka massal. Sasarannya bukan jutaan, melainkan lebih dari 200 juta penduduk. Pertanyaannya sederhana: setelah rekening terbuka, apakah akses keuangan benar-benar ikut terbuka?
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #InklusiKeuangan #EkonomiIndonesia #Perbankan #APBN #KebijakanPemerintah

.jpg)