GalaPos ID, Tangerang.
Di tengah pertumbuhan kawasan hunian di Tangerang, pertanyaan soal akses mobilitas menjadi semakin penting: apakah kota mandiri benar-benar akan membuat warga lebih mudah bergerak, atau justru menambah ketergantungan pada kendaraan pribadi?
![]() |
| Paramount Petals memperluas konektivitas Tangerang melalui akses tol, shuttle bus ke Grogol, dan rencana MRT Kembangan-Balaraja. Namun, MRT masih tahap kajian. Foto: Paramount Petals |
"Tol sudah dibuka, shuttle bus sudah melaju, MRT masih dikaji. Di kota mandiri, masa depan ternyata juga harus antre di jalur perencanaan."
Baca juga:
- Pasir Timah 150 Kg Bersembunyi di Truk Ekspedisi, Siapa G?
- 1.200 Pramuka NTT Belajar LPG Aman, Bright Gas Hadir di Jambore Daerah
- Ratusan Warga Berjalan dari Monas ke HI, Apa Makna Arbain Walk 2026?
Gala Poin:
1. Paramount Petals memperkuat konektivitas melalui akses tol langsung dan layanan Shuttle Bus menuju Grogol, Jakarta Barat.
2. Rencana MRT Kembangan-Balaraja masih berada pada tahap kajian, meskipun Paramount Petals diproyeksikan memiliki stasiun.
3. Kualitas kota mandiri perlu diukur dari manfaat mobilitas bagi publik, bukan hanya dari pembangunan infrastruktur dan klaim konektivitas.
Pertanyaan itu mengemuka seiring langkah Paramount Petals memperkuat konektivitas kawasan melalui akses tol langsung, layanan shuttle bus, serta rencana pengembangan jaringan MRT. Kawasan kota mandiri seluas sekitar 400 hektare di Tangerang tersebut mulai diperkenalkan sejak 2021.
Salah satu perkembangan terbaru adalah hadirnya Shuttle Bus Paramount Petals menuju Grogol, Jakarta Barat. Layanan tersebut menjadi tambahan pilihan transportasi publik bagi penghuni dan masyarakat yang beraktivitas dari kawasan tersebut.
Direktur Sales Marketing Paramount Land Ferry John Sihombing mengatakan, pengembangan transportasi publik menjadi bagian dari komitmen membangun kawasan yang semakin terhubung dengan Jakarta dan wilayah sekitarnya.
“Perluasan transportasi publik adalah komitmen kami membangun kota mandiri yang terhubung sepenuhnya. Setelah MoU kajian MRT bersama PT MRT Jakarta, kini kami menghadirkan Shuttle Bus Paramount Petals ke Grogol, Jakarta Barat,” ujar Ferry dalam keterangan resmi, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Baca juga:
Sejak awal pengembangan, Paramount Petals telah memiliki akses melalui Jalan Raya Curug dan Jalan Raya Bitung melalui Gerbang Tol Bitung di Tol Jakarta-Merak.
Seiring pertumbuhan kawasan, pengembang juga membangun akses tol langsung dari dan menuju Tol Jakarta-Merak ruas Jakarta-Tangerang KM 25.
Namun, konektivitas kawasan tidak semata-mata dapat diukur dari seberapa mudah kendaraan pribadi keluar-masuk kawasan. Bagi masyarakat perkotaan, tersedianya transportasi publik yang terjangkau, mudah diakses, dan terhubung dengan jaringan transportasi massal juga menjadi bagian penting dari kualitas sebuah kota.
Karena itu, langkah Paramount Petals memperluas pilihan transportasi publik menjadi perkembangan yang patut dicermati, terutama ketika kawasan tersebut terus bertumbuh.
MRT Dijanjikan, tetapi Statusnya Masih Kajian
Pada awal 2026, Paramount Land bersama PT MRT Jakarta (Perseroda) menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mendukung kajian pengembangan MRT Lintas Timur-Barat Fase 2 ruas Kembangan-Balaraja.
Dalam rencana tersebut, Paramount Petals diproyeksikan memiliki stasiun MRT.
Kata “diproyeksikan” menjadi penting. Sebab, keberadaan stasiun MRT di kawasan tersebut masih terkait dengan rencana pengembangan dan kajian, bukan fasilitas yang sudah beroperasi.
Jika terealisasi, stasiun MRT tersebut akan menambah pilihan transportasi massal sekaligus memperkuat konektivitas Paramount Petals dengan jaringan transportasi publik Jabodetabek.
Dengan demikian, publik perlu membedakan dua hal: shuttle bus merupakan layanan yang telah dihadirkan, sedangkan MRT masih berada dalam ranah rencana dan kajian. Perbedaan status tersebut penting agar narasi konektivitas tidak berhenti sebagai janji pembangunan di atas kertas.
Shuttle Bus Hubungkan Paramount Petals dengan Grogol
Sejak akhir Juli 2026, Paramount Petals juga menghadirkan layanan Shuttle Bus yang bekerja sama dengan White Horse Group.
Baca juga:
Layanan tersebut menghubungkan Paramount Petals dengan Counter DayTrans Grogol, Jakarta Barat, melalui Tol Jakarta-Tangerang.
Kehadiran shuttle bus memberikan alternatif mobilitas bagi penghuni maupun pengguna kawasan yang memiliki aktivitas di Jakarta Barat. Pada saat yang sama, efektivitas layanan tentu akan sangat bergantung pada frekuensi perjalanan, kapasitas, waktu tempuh, integrasi dengan moda transportasi lain, serta tingkat keterjangkauannya bagi pengguna.
Ferry mengatakan pengembangan konektivitas tidak hanya ditujukan untuk memudahkan mobilitas, tetapi juga membangun ekosistem kota yang mendukung aktivitas masyarakat.
“Kami ingin menghadirkan kota yang aktif, dinamis, dan berkelanjutan, sehingga pembangunan Paramount Petals tidak hanya berfokus pada produk hunian, tetapi juga membangun infrastruktur, fasilitas kota, serta sistem mobilitas,” ujarnya.
Baca juga:
Kota Mandiri Jangan Berhenti pada Slogan
Konsep kota mandiri kerap menawarkan gambaran kehidupan yang serba dekat dan mudah. Namun, ukuran keberhasilannya bukan sekadar banyaknya infrastruktur yang dibangun, melainkan seberapa efektif fasilitas tersebut digunakan masyarakat.
Akses tol memang dapat mempercepat perjalanan pengguna kendaraan pribadi. Akan tetapi, kota yang benar-benar terhubung membutuhkan pilihan mobilitas yang lebih beragam, termasuk transportasi publik yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Karena itu, perkembangan shuttle bus Paramount Petals dan kajian MRT patut dilihat sebagai bagian dari proses yang lebih panjang. Publik pada akhirnya akan menilai bukan hanya dari jumlah akses yang diumumkan, tetapi dari apakah mobilitas sehari-hari benar-benar menjadi lebih mudah, terjangkau, dan efisien.
Baca juga:
Shila at Sawangan Serahkan Riverie, Komitmen Pengembang Diuji Konsumen
MRT pun masih harus menunggu proses kajian dan tahapan berikutnya sebelum dapat disebut sebagai fasilitas yang benar-benar hadir di kawasan.
Dengan kata lain, tol sudah menjadi akses, shuttle bus sudah berjalan, sedangkan MRT masih menjadi pekerjaan rumah.
Bagi sebuah kota yang mengusung konsep mandiri, tantangannya sederhana tetapi tidak ringan: jangan sampai yang mandiri hanya kawasan dan infrastrukturnya, sementara warga tetap harus berjibaku dengan kemacetan ketika hendak menuju Jakarta.
Baca juga:
Jovi Mati Setelah 34 Hari Dirawat, Alarm Baru bagi Konservasi Gajah Sumatera
Kota mandiri katanya. Tapi kalau mau ke Jakarta masih harus berjibaku dengan macet, yang mandiri jangan-jangan cuma slogannya.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #ParamountPetals #TransportasiTangerang #MRTJakarta #KotaMandiri #Tangerang

.jpg)