GalaPos ID, Probolinggo.
Kebakaran hutan kembali melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) saat puncak musim kemarau mulai berlangsung.
Dampaknya, Balai Besar TNBTS resmi menutup sebagian akses wisata Gunung Bromo demi keselamatan pengunjung, sekaligus kembali memunculkan pertanyaan publik: mengapa kebakaran di kawasan konservasi ini terus berulang hampir setiap musim kemarau?
"Setiap kemarau datang, wisata ditutup karena api. Yang terasa rutin bukan hanya musimnya, tetapi juga kabar kebakaran di kawasan konservasi."
Baca juga:
- Jovi Mati Setelah 34 Hari Dirawat, Alarm Baru bagi Konservasi Gajah Sumatera
- Neteazen Hadirkan Teh Premium Autentik, Buktikan Kualitas Tak Harus Mahal
- Warga Batu Bara Protes Pemberitaan, Desak Klarifikasi dan Verifikasi Fakta
Gala Poin:
1. Balai Besar TNBTS menutup akses wisata melalui Jemplang, Coban Trisula, dan Senduro akibat kebakaran di Blok Bantengan.
2. Penutupan berlaku sejak 3 Agustus 2026 pukul 22.00 WIB hingga waktu yang belum ditentukan demi proses pemadaman dan keselamatan pengunjung.
3. Musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September 2026 meningkatkan risiko kebakaran, sehingga wisatawan diminta tidak menyalakan api di kawasan konservasi.
Penutupan diberlakukan terhadap pintu masuk Jemplang, Coban Trisula (Kabupaten Malang), dan Senduro (Kabupaten Lumajang) mulai Senin, 3 Agustus 2026 pukul 22.00 WIB hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Keputusan tersebut diambil setelah terjadi kebakaran hutan di Blok Bantengan pada 3 Agustus 2026 sekitar pukul 17.00 WIB. Lokasi kebakaran secara administratif berada di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Bambang Suriyono, menjelaskan bahwa penutupan dilakukan agar proses pemadaman dapat berjalan maksimal sekaligus menjaga keselamatan wisatawan.
"Pengumuman ini kami keluarkan untuk diperhatikan dan pengunjung wajib mentaati semua ketentuan yang telah di nyatakan dalam himbauan kami. Ini adalah Kawasan yang dilindungi dan saat ini sudah memasuki musim kemarau. Kami meminta semua pihak untuk patuh dan semoga api yang sudah mulai merembet di Kawasan TNBTS bisa segera ditanggulangi," ujar Bambang, Selasa, 4 Agustus 2026.
Baca juga:
Balai Besar TNBTS mengimbau masyarakat, wisatawan, serta pelaku usaha wisata untuk tidak menggunakan api selama berada di kawasan konservasi. Imbauan tersebut disampaikan mengingat kondisi vegetasi yang mulai mengering sehingga sangat mudah terbakar pada musim kemarau.
Berdasarkan pantauan petugas Manggala Agni, titik api pertama terdeteksi di Blok Bantengan. Hingga kini, proses pemadaman masih dilakukan sehingga kawasan tersebut dinilai belum aman untuk aktivitas wisata.
Bambang juga menyampaikan bahwa kondisi cuaca diperkirakan masih didominasi musim kemarau hingga September 2026 sehingga potensi kebakaran tetap tinggi.
"BMKG memperkiraan bahwa musim kemarau akan berlangsung hingga bulan September 2026, Dihimbau kepada seluruh wisatawan dan juga warga sekitar Gunung Bromo untuk mematuhi himbauan petugas agar tidak menyalakan api selama berada di dalam Kawasan Konservasi," pungkasnya.
Kebakaran yang kembali terjadi di Bromo menjadi pengingat bahwa kawasan konservasi masih menghadapi ancaman serius setiap musim kemarau. Di tengah tingginya minat wisatawan mengunjungi salah satu destinasi unggulan Indonesia itu, perlindungan ekosistem tetap menjadi prioritas agar kerusakan tidak terus berulang dari tahun ke tahun.
Baca juga:
- Lima Desa di Manggarai Terima Motor Hibah Imigrasi, Pengawasan TPPO Diperkuat
- Mini Soccer IJTI 2026 Jadi Ajang Perekat Jurnalis Jabodetabek, IJTI Depok Juara
Bromo lagi-lagi terbakar. Musim kemarau seolah punya agenda tetap, sementara publik kembali bertanya: kapan yang berubah, selain luas area yang terbakar?
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #GunungBromo #TNBTS #KebakaranHutan #WisataIndonesia #KonservasiAlam
.jpg)
.jpg)