GalaPos ID, Makassar.
Ada tempat yang setiap hari dilewati, tetapi nyaris tak pernah benar-benar dilihat. Gedung tua, jalan lama, bunker, rumah ibadah, hingga bangunan layanan publik berdiri di tengah aktivitas Kota Makassar, sementara cerita di baliknya perlahan berisiko menjadi sekadar latar belakang kehidupan modern.
Melalui Makassar Bercerita, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum diajak berhenti sejenak dari rutinitas untuk membaca kembali jejak sejarah yang masih tersisa di kawasan Kota Tua Makassar.
"Kalau bangunan tua bisa bicara, mungkin ia akan protes karena selama ini cuma jadi latar Instagram. Makassar Bercerita mencoba membuat jejak sejarah Kota Makassar kembali didengar generasi muda."
Baca juga:
- Paramount Petals Hadirkan Shuttle Bus ke Grogol, MRT Kapan?
- Pasir Timah 150 Kg Bersembunyi di Truk Ekspedisi, Siapa G?
- 1.200 Pramuka NTT Belajar LPG Aman, Bright Gas Hadir di Jambore Daerah
Gala Poin:
1. Makassar Bercerita mengajak generasi muda mengenal sejarah Kota Tua Makassar secara langsung melalui kegiatan walktour.
2. Sejumlah bangunan dan titik bersejarah menjadi ruang belajar untuk memahami perjalanan serta keberagaman sejarah Kota Makassar.
3. Pelestarian sejarah membutuhkan keterlibatan publik agar bangunan dan cerita masa lalu tidak berhenti sebagai objek yang hanya dilewati.
Kegiatan bertema “Kampung-Kampung dan Ceritanya” itu mengusung semangat “Makassar Bercerita: Tumbuh dari Kota Pesisir, Berubah, serta Bertahan.” Program tersebut merupakan bagian dari Pemajuan Kebudayaan 2026 yang didukung Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan.
Rangkaian kegiatan dimulai pada Sabtu, 8 Agustus 2026, melalui pembukaan di pelataran Museum Kota Makassar. Sehari setelahnya, Minggu, 9 Agustus 2026, peserta diajak menyusuri kawasan Kota Tua Makassar melalui kegiatan walktour.
Di sinilah sejarah tidak lagi hadir sebagai paragraf panjang dalam buku. Peserta berhadapan langsung dengan ruang kota yang selama ini mungkin hanya mereka lewati tanpa pernah bertanya: bangunan ini dulunya apa, siapa yang menggunakannya, dan cerita apa yang tertinggal di balik temboknya?
Sebelum perjalanan dimulai, panitia memberikan arahan mengenai rute dan sejumlah titik yang akan dikunjungi. Peserta kemudian berjalan menyusuri kawasan sambil mengenali berbagai jejak sejarah yang masih dapat ditemukan di sepanjang perjalanan.
Beberapa titik yang dikunjungi antara lain Gedung Pengadilan Negeri Makassar, Bunker Jepang di Jalan Amanagappa, Apotek Kimia Farma, Gedung KPPN, Gereja Katedral Makassar, serta sejumlah titik bersejarah lainnya di kawasan Kota Tua Makassar.
Baca juga:
Perjalanan kemudian dilanjutkan melalui sharing session di Gedung Museum Kota Makassar.
Ketika Bangunan Tua Menjadi Buku yang Bisa Berjalan
Adil Akbar, salah satu tour guide dalam kegiatan tersebut, mengatakan bahwa perjalanan ini memberikan pengalaman langsung bagi peserta untuk melihat panjangnya sejarah Kota Makassar melalui bangunan-bangunan bersejarah.
“Hadirnya gedung-gedung klasik era kolonial menjadi bukti bahwa Makassar memiliki sejarah yang panjang. Dari peninggalan tersebut, kita bisa melihat bahwa kota ini tumbuh dan berkembang melalui kolaborasi berbagai suku bangsa,” ujar Adil Akbar dalam keterangan yang diterima, Senin, 10 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena sejarah Kota Makassar tidak berhenti pada usia sebuah bangunan. Di balik ruang kota terdapat perjumpaan berbagai kelompok masyarakat dan perjalanan panjang yang ikut membentuk identitas kota.
Namun, tantangannya juga jelas: semakin lama sebuah bangunan berdiri, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan cerita dan nilai sejarahnya tetap dipahami masyarakat.
Tanpa pengetahuan publik, bangunan bersejarah berpotensi hanya menjadi objek yang dilewati, difoto, atau bahkan tidak disadari keberadaannya.
Sejarah Harus Turun dari Buku ke Ruang Publik
Ketua Panitia Nur Rakhmat Ramdhani mengatakan, kegiatan tersebut diharapkan dapat membuat masyarakat lebih peka terhadap cerita sejarah yang ada di lingkungan mereka.
“Kami ingin peserta tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga melihat dan merasakan langsung sejarah yang ada di sekitar mereka. Kami berharap cerita-cerita ini bisa terus dibagikan dan dikenal lebih luas,” ujar Nur Rakhmat Ramdhani.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum menjadi bagian penting dalam memperkenalkan kembali sejarah Kota Makassar kepada generasi yang lebih luas.
Baca juga:
Pendekatan seperti ini relevan bagi generasi muda yang hidup dalam ritme kota yang serba cepat. Ketika perhatian publik mudah berpindah dari satu tren ke tren berikutnya, mengenalkan sejarah melalui pengalaman langsung dapat menjadi cara untuk membuat masa lalu terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah generasi muda mengenal sejarah Kota Makassar, tetapi apakah ruang-ruang bersejarah itu masih mampu membuat mereka berhenti, bertanya, dan peduli.
Makassar Bercerita mencoba menjawab persoalan tersebut dengan membawa sejarah keluar dari ruang yang formal dan mendekatkannya kepada masyarakat melalui perjalanan langsung di kawasan kota.
Masih Berlanjut 15 Agustus
Makassar Bercerita belum selesai. Rangkaian kegiatan akan kembali berlangsung pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Sesi ketiga menjadi bagian lanjutan kegiatan, dengan peserta kembali diajak mengenal ruang-ruang bersejarah di Kota Makassar sesuai rute yang telah disiapkan panitia.
Baca juga:
Masyarakat yang ingin mengenal lebih jauh mengenai Makassar Bercerita dapat mengikuti informasi kegiatan melalui akun Instagram @mks_bercerita.
Melalui program Pemajuan Kebudayaan 2026, Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan turut membuka ruang bagi kegiatan kebudayaan yang melibatkan masyarakat secara aktif.
Pada akhirnya, Kota Makassar tidak kekurangan cerita. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana cerita tersebut tetap hidup ketika kota terus berubah.
Sebab, jika sejarah hanya menjadi bangunan tua tanpa cerita yang dipahami publik, yang tersisa mungkin hanyalah tembok. Sementara makna di baliknya perlahan hilang.
Baca juga:
- Laut Indonesia Kembali Berduka, Regulasi Keselamatan Pelayaran Diminta Diperketat
- Shila at Sawangan Serahkan Riverie, Komitmen Pengembang Diuji Konsumen
Kita hafal tempat nongkrong terbaru, tetapi belum tentu tahu sejarah gedung yang dilewati setiap hari. Makassar Bercerita mengajak warga membuktikan bahwa Kota Tua Makassar bukan sekadar latar foto.
#DailyEstateID #GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #MakassarBercerita #KotaTuaMakassar #SejarahMakassar #BudayaMakassar #PemajuanKebudayaan
.jpg)
.jpg)