GalaPos ID, Batu Bara.
Puluhan warga menggeruduk Pos Kehutanan Unit Sepuluh di Jalan Lintas Sumatera, Desa Petatal, Kecamatan Datuk Tanah Datar, Kabupaten Batu Bara, Senin, 29 Juni 2026.
Aksi itu dipicu banjir yang kembali merendam rumah-rumah warga setelah saluran drainase yang selama ini menjadi jalur pembuangan air rusak dan tertutup.
"Kalau saluran air kalah prioritas dari jalur kayu, jangan heran banjir akhirnya memilih alamat rumah warga."
Baca juga:
- Menuju Olimpiade Dimulai dari Rawamangun, Siapkah Sistem Pembinaan Indonesia?
- APPBI Dorong Industri Batik Lewat Puspa Nuswantara 2026 di JICC Jakarta
- Kejurnas Atletik 2026, Ribuan Atlet Berlari Mengejar Prestasi
Gala Poin:
1. Puluhan warga menggeruduk Pos Kehutanan di Batu Bara setelah rumah mereka kebanjiran akibat drainase rusak dan tertutup.
2. Warga menduga kerusakan terjadi karena dua batang kayu gelondongan dijadikan akses keluar-masuk truk pengangkut kayu sehingga menutup aliran air dan merusak turap.
3. Pihak Dinas Kehutanan berjanji memperbaiki drainase, sementara warga berharap komitmen tersebut segera direalisasikan agar banjir tidak kembali terjadi.
Ironisnya, di tengah hujan yang masih mengguyur, warga tetap bertahan menyampaikan protes. Mereka menilai kerusakan drainase terjadi setelah dua batang kayu gelondongan dijadikan jembatan keluar-masuk truk pengangkut kayu menuju kawasan Dinas Kehutanan. Selain menutup aliran air, kondisi tersebut juga menyebabkan turap di sekitar saluran mengalami kerusakan.
Bagi warga, persoalan ini bukan sekadar saluran air yang tersumbat. Drainase tersebut merupakan fasilitas yang telah dinanti selama puluhan tahun sebelum akhirnya dibangun dan memberikan manfaat bagi lingkungan.
Salah seorang warga, Nurhayati, mengatakan drainase itu menjadi harapan masyarakat untuk mengatasi genangan air saat musim hujan. Namun, manfaat tersebut kini hilang akibat kerusakan yang terjadi.
"Sekarang rusak dan tertutup, membuat rumah warga kebanjiran saat hujan," ujarnya.
Baca juga:
Viral! Kampung Pesisir di Pamekasan Disulap Jadi Kampung Piala Dunia
"Kami berharap drainase ini segera diperbaiki agar tidak terjadi banjir lagi."
Nurhayati juga menjelaskan bahwa sebelum aktivitas truk pengangkut kayu berlangsung, drainase tersebut telah lama dinantikan warga.
"Sebelum masuknya truck membawa kayu gelondongan ke Dinas Kehutanan, drainase tersebut telah dinanti selama 30 tahun dan telah terealisasi dua tahun terakhir ini, memberikan manfaat mengalirkan air saat hujan tiba."
Menanggapi protes warga, Ritonga, Pegawai Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, menyatakan pihaknya akan segera memperbaiki drainase yang rusak.
"Kami akan segera memperbaiki drainase seperti semula."
Aksi protes akhirnya berakhir setelah warga, pihak Kehutanan, anggota DPRD, dan perangkat desa mencapai mufakat. Meski demikian, warga berharap janji perbaikan tidak berhenti sebagai komitmen lisan, melainkan segera diwujudkan agar banjir tidak kembali mengancam permukiman mereka setiap kali hujan turun.
![]() |
| Puluhan warga menggeruduk Pos Kehutanan Unit Sepuluh di Jalan Lintas Sumatera, Desa Petatal, Kecamatan Datuk Tanah Datar, Kabupaten Batu Bara, Senin, 29 Juni 2026. Foto: Taufiq BB |
Bagi masyarakat, persoalan drainase bukan sekadar infrastruktur, melainkan menyangkut hak atas lingkungan yang aman. Ketika fasilitas publik rusak akibat aktivitas operasional suatu pihak, muncul pertanyaan yang layak dijawab: siapa yang bertanggung jawab memastikan kepentingan warga tetap menjadi prioritas?
Penulis: Taufiq BB
Baca juga:
Honda Klaim Vario Evo 160 Lebih Bertenaga, Ini Data Performa Lengkapnya
Drainase dibangun puluhan tahun menunggu, rusaknya hanya butuh lalu lintas truk. Yang mengalir bukan lagi air, melainkan kesabaran warga.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #BatuBara #DrainaseRusak #BanjirWarga #SumateraUtara #KepentinganPublik
.jpg)
.jpg)