GalaPos ID, Pamekasan.
Di tengah gegap gempita Piala Dunia yang biasanya hanya terasa di kota-kota besar, sebuah kampung pesisir di Kabupaten Pamekasan, Madura, justru menghadirkan perayaan dengan cara yang tak biasa. Warga Kampung Mayang, Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, mengubah hampir seluruh sudut kampung menjadi "Kampung Piala Dunia", lengkap dengan bendera peserta, jersey, hingga ornamen tokoh sepak bola dunia.
"Bendera puluhan negara berkibar di kampung pesisir Madura. Yang tak ikut berkibar mungkin hanya jadwal melaut para penggemar sepak bola."
Baca juga:
- Vario Evo 160 Resmi Mengaspal, Evolusi atau Sekadar Penyegaran Kosmetik?
- Kapolri Lapor ke Presiden, Stabilitas Nasional Kembali Jadi Sorotan
- AKSI INKLUSI dan Tantangan Nyata Penyandang Disabilitas Menembus Dunia Kerja
Gala Poin:
1. Kampung Mayang di Pamekasan berubah total menjadi Kampung Piala Dunia dengan dekorasi sepak bola hasil swadaya masyarakat.
2. Tradisi ini telah berlangsung sejak Piala Dunia 2018 dan terus dipertahankan sebagai simbol kebersamaan warga.
3. Antusiasme warga begitu tinggi hingga sebagian nelayan memilih tidak melaut demi mengikuti nonton bareng pertandingan.
Fenomena ini bukan sekadar hiasan kampung. Bagi sebagian warga, euforia sepak bola bahkan mampu mengubah rutinitas harian. Sejumlah nelayan memilih tidak melaut demi menikmati kebersamaan saat menonton pertandingan Piala Dunia bersama warga lainnya.
Sepanjang jalan kampung, atribut sepak bola menghiasi rumah-rumah warga. Suasana yang biasanya identik dengan aktivitas pesisir berubah menjadi arena perayaan olahraga terbesar di dunia. Anak-anak, remaja hingga orang tua mengenakan atribut tim favorit mereka sambil berkumpul menikmati atmosfer pesta sepak bola.
Penggagas Kampung Piala Dunia, Mukhlis, mengatakan tradisi tersebut sudah berlangsung sejak Piala Dunia 2018 di Rusia dan terus dipertahankan setiap penyelenggaraan turnamen.
"Demam Piala Dunia dengan memasang berbagai bendera peserta dan pernak-perniknya ini telah dimulai sejak tahun 2018. Saat itu gelaran Piala Dunia berlangsung di Rusia. Sejak saat itu, warga tak pernah absen menyambut pesta bola sedunia dengan berbagai atribut hingga saat ini yang digelar di Benua Amerika," ujar Mukhlis, penggagas Kampung Bola Desa Branta, Jumat, 26 Juni 2026.
Baca juga:
Kasus Mayat Pria Tergantung di Kebun Sawit Bangka Barat Masuki Babak Baru
Selain mempercantik kampung, warga juga rutin menggelar nonton bareng menggunakan layar berukuran besar yang menjadi pusat berkumpul masyarakat setiap pertandingan berlangsung.
Antusiasme itu bahkan membuat sebagian nelayan rela menyesuaikan jadwal mencari nafkah demi menikmati momen kebersamaan.
"Kita memilih nonton sampai tidak melaut hanya untuk nobar," tegas Syafi'i, fans Argentina.
Di balik kemeriahan tersebut, Kampung Mayang menunjukkan bagaimana olahraga mampu menjadi perekat sosial di tengah masyarakat pesisir. Namun, fenomena warga yang rela meninggalkan aktivitas ekonomi sementara demi mengikuti euforia sepak bola juga menjadi potret menarik tentang besarnya pengaruh olahraga terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Bagi warga Kampung Mayang, Piala Dunia bukan hanya pertandingan. Ajang empat tahunan ini telah menjelma menjadi tradisi yang memperkuat solidaritas, mempererat hubungan antarwarga, sekaligus menghidupkan suasana kampung pesisir.
Baca juga:
Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Investor Waspadai Risiko Indonesia
"Saat sebagian orang mengejar cuan, warga kampung ini justru mengejar gol. Bahkan ada yang rela tak melaut demi nobar Piala Dunia."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #PialaDunia #Pamekasan #Madura #KampungPialaDunia #SepakBola
.jpeg)
.jpeg)