Rupiah Sempat Terpuruk, BI Naikkan Suku Bunga dan Kejar Investor Asing

GalaPos ID, Jakarta.
Kenaikan BI Rate menjadi 5,5 persen pada Selasa, 9 Juni 2026, mengirim pesan kuat bahwa Bank Indonesia melihat ancaman terhadap stabilitas rupiah lebih serius dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Keputusan yang biasanya dibahas dalam Rapat Dewan Gubernur bulanan kali ini dipertegas melalui RDG Mingguan setelah otoritas moneter menilai pelemahan rupiah terus berlanjut akibat gejolak global, tingginya kebutuhan valuta asing domestik, dan keluarnya investasi portofolio asing dari Indonesia.

Rupiah Sempat Terpuruk, BI Naikkan Suku Bunga dan Kejar Investor Asing
Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,5 persen setelah rupiah melemah dan modal asing keluar dari Indonesia. Kebijakan ini bertujuan menarik investasi asing serta menjaga inflasi, tetapi memunculkan pertanyaan tentang ketergantungan ekonomi terhadap arus modal jangka pendek. Foto: ilustrasi



 

"Negara sibuk menjaga kepercayaan pasar. Sementara pasar tradisional masih sibuk menjaga harga cabai agar tidak ikut terbang bersama dolar."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Rupiah melemah lebih dalam dari perkiraan BI sejak RDG Mei 2026.
2. BI menaikkan suku bunga dan memberi insentif tambahan untuk menarik investor asing.
3. Ekonom menilai pelemahan rupiah menjadi alasan utama perubahan kebijakan yang agresif.


Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengakui kondisi rupiah menjadi faktor utama yang mendorong kebijakan tersebut. Menurut Perry, hasil evaluasi sejak RDG Bulanan pada 19-20 Mei 2026 menunjukkan nilai tukar rupiah bergerak lebih lemah dari yang diperkirakan.

"Sehubungan dengan itu, BI memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing," kata Perry Warjiyo, Selasa, 9 Juni 2026.

Tidak hanya menaikkan suku bunga acuan, BI juga menaikkan struktur suku bunga SRBI, memberikan diskon biaya swap lindung nilai bagi investor asing, membuka kembali fasilitas repo, dan meningkatkan intensitas intervensi pasar valuta asing.

Secara sederhana, Indonesia sedang berusaha menawarkan imbal hasil yang lebih menarik agar dana asing kembali masuk.

Baca juga:
Semarang Jadi Basis Love Scamming Global? Empat WN Tiongkok Diamankan

Sementara, Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai langkah agresif tersebut tidak lepas dari tekanan besar terhadap rupiah yang sempat berada di level Rp18.200 per dolar AS.
 
"Karena pelemahan mata uang rupiah yang begitu tinggi di Rp 18.200 dan inipun juga mendapatkan kritikan intervensi dari berbagai lembaga, baik DPR, pemerintah, maupun presiden terhadap Bank Indonesia," sebut Faisal, Selasa, 9 Juni 2026.

Meski demikian, kondisi pasar pada Selasa sore menunjukkan perbaikan. Rupiah ditutup menguat ke level Rp18.058 per dolar AS atau naik 129 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Adapun pandangan analis mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa penguatan tersebut didukung membaiknya sentimen global setelah meredanya konflik antara Iran dan Israel.

"Salah satu isu kunci yang ditekan Washington kepada Teheran dalam perundingan perdamaian adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada akhir Februari," ujar Ibrahim Assuaibi, pada Selasa, 9 Juni 2026.

Di Balik Kenaikan BI Rate 5,5 Persen: Saat Rupiah Memaksa Bank Indonesia Bertindak
Ketika rupiah goyah, solusi yang dipilih adalah membuat Indonesia lebih menarik bagi investor asing. Pertanyaannya, kapan kebijakan yang sama menarik bagi rakyat sendiri? Foto: ilustrasi

 

Namun Ibrahim mengingatkan bahwa ancaman inflasi global masih membayangi pasar.

"Hal ini telah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar AS lebih tinggi. Para pedagang akan mengamati rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada bulan Mei, yang akan dirilis hari Rabu, yang diperkirakan akan naik 4,2 persen yoy (year-on-year), setelah angka April yang sudah tinggi sebesar 3,8 persen," jelas Assuaibi.

Di dalam negeri, pemerintah juga mulai menyiapkan stimulus ekonomi baru untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan nilai tukar.

Meski rupiah berhasil menguat pada perdagangan harian, keputusan BI menunjukkan satu fakta penting: stabilitas mata uang nasional masih sangat sensitif terhadap arus modal asing dan gejolak global.

Baca juga:
Dukun Ecek-Ecek Berkedok Pengembalian Uang Hilang, Lansia Jadi Korban 


Ketika investor asing masuk, rupiah menguat. Ketika mereka keluar, bank sentral harus menaikkan imbal hasil untuk memancing mereka kembali datang.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa kekuatan fundamental ekonomi tidak hanya diuji oleh perang dan krisis global, tetapi juga oleh seberapa besar ketergantungan terhadap dana jangka pendek yang bisa berpindah negara hanya dalam hitungan detik.

 

 

Baca juga:
5 Makanan Ini Sebaiknya Dihindari Demi Cegah Jerawat

"Ketika rupiah goyah, solusi yang dipilih adalah membuat Indonesia lebih menarik bagi investor asing. Pertanyaannya, kapan kebijakan yang sama menarik bagi rakyat sendiri?"

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #BankIndonesia #Rupiah #InvestorAsing #SBN #EkonomiNasional

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال