GalaPos ID, Pacitan.
Di tengah tekanan ekonomi, cuaca yang kian sulit diprediksi, dan tantangan keberlanjutan sumber daya laut, ratusan nelayan di Kabupaten Pacitan memilih merawat warisan leluhur yang telah bertahan lintas generasi.
Melalui Festival Nelayan bertajuk Larung Sesaji, mereka mengekspresikan rasa syukur atas hasil tangkapan ikan yang melimpah sekaligus memanjatkan harapan akan keselamatan saat melaut.
"Di tengah zaman yang mengajarkan mengambil sebanyak mungkin, Larung Sesaji mengingatkan bahwa manusia juga punya kewajiban berterima kasih kepada alam yang menghidupinya."
Baca juga:
- Hipotermia di Gunung Klabat Jadi Alarm Keselamatan Pendakian Indonesia
- Social Media Manager Bukan Tukang Main Instagram, Ini Tugas Berat di Balik Layar
- Dari SMP hingga Umum, 1.214 Peserta Ikuti Olimpiade Bahasa Indonesia 2026
Gala Poin:
1. Ratusan nelayan Pacitan menggelar Festival Nelayan dan Larung Sesaji sebagai bentuk syukur atas hasil laut yang melimpah.
2. Tradisi malam 1 Suro diisi dengan prosesi ingkungan, doa bersama, kembul bujono, hingga pelarungan sesaji ke laut selatan.
3. Tradisi ini menjadi simbol pelestarian budaya pesisir sekaligus pengingat pentingnya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan laut.
Tradisi yang menjadi bagian dari peringatan malam 1 Suro tersebut digelar di kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai Tamperan, Pacitan. Ratusan nelayan yang tergabung dalam Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pacitan bersama keluarga mereka mengikuti rangkaian ritual budaya yang telah lama menjadi identitas masyarakat pesisir selatan Jawa.
Prosesi diawali dengan ingkungan, tradisi membawa tumpeng dan ingkung yang kemudian didoakan bersama oleh tokoh agama dan sesepuh adat. Ritual tersebut menjadi simbol rasa syukur atas keselamatan yang diberikan selama mencari nafkah di laut sekaligus harapan agar hasil tangkapan tetap melimpah pada masa mendatang.
Setelah doa bersama selesai, masyarakat mengikuti tradisi kembul bujono dengan menyantap hidangan secara bersama-sama sebagai lambang kebersamaan dan solidaritas antarwarga nelayan.
Puncak acara berlangsung saat sesaji dibawa menggunakan perahu menuju perairan lepas untuk dilarung ke laut selatan. Belasan perahu nelayan tampak beriringan mengawal tumpeng dan sesaji hingga mencapai titik pelarungan.
Baca juga:
Dialog dengan Mahasiswa, Gibran Akui Masih Banyak PR dalam Program Pemerintah
Pernyataan tersebut menjadi relevan mengingat kawasan pesisir saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, penurunan hasil tangkapan di sejumlah wilayah, hingga ancaman kerusakan ekosistem laut akibat aktivitas manusia.
Bagi masyarakat Pacitan, laut bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dihormati dan dijaga keseimbangannya. Nilai itulah yang terus diwariskan melalui tradisi Larung Sesaji.
Sesepuh masyarakat Pacitan, Bambang Sutejo, menyampaikan bahwa keberhasilan penyelenggaraan acara merupakan hasil gotong royong seluruh elemen masyarakat nelayan.
“Semua nelayan berpartisipasi dan menyumbangkan tenaga maupun pikiran untuk mengangkat budaya, terkhusus lagi budaya masyarakat perikanan dan nelayan. Semoga nelayan Pacitan senantiasa mendapatkan kesejahteraan, keberkahan, dan rezeki yang melimpah dari hasil laut yang mereka peroleh,” kata Bambang, Selasa, 16 Juni 2026.
Menariknya, prosesi pelarungan tetap dilaksanakan meski kondisi gelombang laut cukup tinggi. Semangat nelayan dan keluarga mereka tidak surut untuk mengikuti ritual yang diyakini sebagai simbol penghormatan terhadap alam sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan atas karunia hasil laut yang diberikan sepanjang tahun.
Lebih dari sekadar tradisi tahunan, Larung Sesaji menjadi cermin hubungan erat antara manusia dan alam. Di saat eksploitasi sumber daya kerap menjadi isu global, masyarakat nelayan Pacitan justru menunjukkan pesan sederhana namun penting: laut yang memberi kehidupan harus dijaga, dihormati, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Baca juga:
Panel Surya Masuk Pesantren dan Sekolah, Generasi Hemat Energi Dimulai
Di tengah modernisasi yang terus bergerak cepat, Larung Sesaji membuktikan bahwa tradisi bukan penghalang kemajuan. Sebaliknya, tradisi dapat menjadi pengingat bahwa pembangunan dan pelestarian budaya harus berjalan beriringan demi menjaga identitas serta keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir.
Baca juga:
GalaPos ID Hadirkan Paket Publikasi Media dan Promosi Digital untuk Bisnis
"Ketika laut sering dipandang sebagai ladang keuntungan semata, nelayan Pacitan masih menyisakan ruang untuk rasa hormat, syukur, dan tradisi yang tak bisa diukur dengan angka rupiah."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #LarungSesaji #Pacitan #Malam1Suro #BudayaNelayan #WisataBudayaPacitan
.jpeg)
.jpeg)