GalaPos ID, Jakarta.
Di tengah lonjakan harga Pertamax hingga Rp16.250 per liter, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi akan ikut turun apabila harga minyak dunia mengalami penurunan.
![]() |
| Juru Bicara Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Dwi Anggia ungkap syarat yang menentukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi jika harga minyak dunia turun. Foto: Kementerian ESDM |
"Masyarakat sudah sering melihat grafik harga BBM menanjak. Kini publik menunggu satu hal yang lebih langka: harga yang benar-benar turun."
Baca juga:
- Diduga Bocor 1.495 Data SPMB Batam, Pemkot Gandeng BSSN Lacak Pelaku
- Dari Roma ke Lake Como, Bulan Madu Syifa Hadju dan El Rumi
- Larung Sesaji Pacitan, Tradisi Nelayan Syukuri Hasil Laut Melimpah
Gala Poin:
1. ESDM memastikan harga BBM nonsubsidi akan turun jika harga minyak dunia turun.
2. Pertamax telah naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau sekitar 32 persen.
3. Publik menunggu transparansi mekanisme penurunan harga setelah selama ini lebih sering menyaksikan kenaikan.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan publik setelah Pertamax mengalami kenaikan sebesar Rp3.950 per liter atau sekitar 32 persen dari harga sebelumnya Rp12.300 per liter. Kenaikan mulai berlaku pada 10 Juni 2026.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menegaskan bahwa mekanisme harga BBM nonsubsidi mengikuti perkembangan pasar energi global.
"Nah apakah bisa turun? Pasti,” kata Dwi di kantor Bakom, Jakarta, Rabu, 17 Juni 2026.
Menurut Dwi, hubungan antara harga minyak dunia dan BBM nonsubsidi bersifat langsung. Ketika harga minyak turun, harga BBM nonsubsidi juga akan menyesuaikan.
“Begitu juga sebaliknya, ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan, mau tidak mau, tidak terhindarkan harga BBM non-subsidi harus menyesuaikan dengan harga keekonomiannya," lanjutnya, Rabu, 17 Juni 2026.
Baca juga:
Pohon Tumbang di Padang Jadi Alarm Mitigasi Bencana Saat Cuaca Ekstrem
"Namun balik lagi, kita tahu kondisi saat ini kenaikan harga BBM non-subsidi ini memang sudah berlangsung. Kalau kita bicara negara-negara kawasan di tetangga sudah jauh lebih dulu mengalami kenaikan, penyesuaian," tuturnya, Rabu, 17 Juni 2026.
Di sisi lain, pemerintah mengakui sempat berupaya menahan kenaikan Pertamax demi menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
"Tapi seiring berjalannya waktu, fluktuasi harga yang semakin dinamis, ini para pelaku usaha mau tidak mau harus menyesuaikan dengan harga keekonomian. Seperti itu. Jadi kalau ditanya akan turun enggak harga minyak dunia turun, pasti akan ada penyesuaian juga untuk penurunan harga BBM non-subsidi," imbuh Dwi, Rabu, 17 Juni 2026.
![]() |
| Kapan harga Pertamax turun? Anak buah Bahlil Lahadalia membeberkan faktor utama yang memengaruhi harga BBM nonsubsidi di Indonesia. Cek syarat dan dampaknya bagi konsumen di sini. Foto: SPBU |
Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan bahwa keputusan penyesuaian harga dipengaruhi kondisi geopolitik global dan harga minyak internasional.
"Penyesuaian pada harga BBM non-subsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat," ujar Simon dalam unggahan akun Instagram @pertamina, Kamis, 11 Juni 2026.
Bagi masyarakat, persoalan utamanya bukan lagi sekadar ada atau tidaknya peluang penurunan harga. Yang lebih penting adalah transparansi formula dan konsistensi penerapannya. Jika harga BBM dapat bergerak cepat saat minyak dunia naik, publik berharap kecepatan yang sama juga berlaku ketika harga minyak dunia turun.
Baca juga:
Makna Hijrah di Balik Meriahnya Pawai Obor 1 Muharam di Bandung Barat
"Harga Pertamax berpotensi turun jika harga minyak dunia terus melemah. Juru Bicara Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkap syarat yang menentukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Simak penjelasan lengkapnya!"
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #HargaBBM #Pertamax #ESDM #SubsidiEnergi #EkonomiIndonesia

