Hanania Travel Diduga Gunakan Skema Gali Lubang Tutup Lubang Sejak 2023

GalaPos ID, Jakarta.
Dalih kondisi perang di Timur Tengah yang selama ini disebut sebagai penyebab gagalnya keberangkatan ribuan jemaah umrah Hanania Travel mulai dipertanyakan.
Polda Metro Jaya menemukan indikasi bahwa persoalan utama perusahaan justru telah muncul jauh sebelum konflik kawasan memengaruhi penerbangan internasional.

Kasus Hanania Travel: Ribuan Jemaah Gagal Berangkat, Polisi Temukan Krisis Keuangan Lama
Kasus Hanania Travel membuka pertanyaan besar tentang pengawasan bisnis umrah di Indonesia. Saat perusahaan berdalih perang Timur Tengah sebagai penyebab gagalnya keberangkatan jemaah, polisi justru menemukan pola "gali lubang tutup lubang" yang diduga sudah berlangsung sejak 2023. Foto: CEO Hanania Travel Ahmad Syah Farhan Rachman dan istri, Nisa Bahri/Instagram/@hananiagroup id

 

"Jika semua kegagalan bisa disalahkan pada perang, mungkin laporan keuangan juga bisa ikut mengungsi."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Polisi menemukan masalah keuangan Hanania Travel sudah terjadi sejak 2023.
2. Dugaan skema "gali lubang tutup lubang" digunakan untuk memberangkatkan jemaah.
3. Kerugian sementara mencapai Rp95,22 miliar dengan korban terus bertambah.


Temuan ini menjadi sorotan karena menyangkut nasib ribuan calon jemaah yang telah menyetorkan dana perjalanan ibadah, namun tidak kunjung diberangkatkan.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imanuddin, mengungkapkan bahwa pihak Hanania Travel sempat menyampaikan alasan force majeure terkait situasi Timur Tengah kepada jemaah maupun penyidik.

"Ketika keberangkatan gagal, perusahaan memberikan alasan force majeure dengan kendala tiket maupun penerbangan. Ini pernah disampaikan juga kepada penyidik terkait dengan alasan bahwa penerbangan tidak bisa dilakukan karena situasi di Timur Tengah yang tidak memungkinkan," kata Iman dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dan Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026.

Baca juga:
Dugaan Uang Pelicin Cabut Perkara Laka Lantas, Polres Batu Bara Disorot

Namun, hasil penyidikan menunjukkan fakta berbeda.
 
"Namun demikian kami dapat menggali fakta yang lain bahwa permasalahan tersebut bukan semata-mata ditimbulkan karena tidak dapatnya dilakukan penerbangan ke Timur Tengah karena alasan situasi perang. Namun ini sudah terjadi dari sejak tahun 2023," ujarnya.

Dugaan Skema Gali Lubang Tutup Lubang

Menurut penyidik, sejak 2023 pengelola PT Khasanah Tama Internasional atau Hanania Group mulai mengalami kesulitan memenuhi kewajiban pembayaran operasional.

Kewajiban tersebut meliputi tiket pesawat, hotel hingga pembayaran mutawif atau pembimbing ibadah di Arab Saudi.

"Kami menemukan ada fakta berdasarkan hasil penyidikan atau berita acara pemeriksaan dari tersangka. Permasalahan ini sebenarnya sudah mulai muncul dari tahun 2023," kata Iman.

Umrah Batal, Dana Menguap: Polisi Sebut Hanania Travel Bermasalah Sebelum Konflik Timur Tengah
Polisi menemukan masalah keuangan Hanania Travel sudah terjadi sejak 2023. Dugaan skema "gali lubang tutup lubang" digunakan untuk memberangkatkan jemaah.. Foto: Huda

 

Situasi itu kemudian memunculkan dugaan penggunaan dana jemaah baru untuk membiayai keberangkatan jemaah lama.

"Jadi sejak 2023, pengelola PT Khasanah Tama Internasional atau Hanania Group ini sudah mulai mengalami permasalahan pembayaran baik itu tiket, kemudian hotel, ataupun mutawif di sana sehingga mulailah menggunakan skema gali lubang tutup lubang," ujarnya.

"Untuk memberangkatkan grup yang hari ini, yang bersangkutan mengambil dari atau menggunakan dari uang dari kelompok grup yang akan berangkat berikutnya," sambung Iman.


Ribuan Jemaah Terdampak
Data penyidik menunjukkan sebanyak 1.479 jemaah gagal diberangkatkan. Dari jumlah tersebut, 1.021 jemaah mengajukan pengembalian dana (refund), sementara 458 lainnya memilih menjadwalkan ulang keberangkatan.

Baca juga:
Modus Sistem Tempel Narkoba Terbongkar, Empat Pelajar Kuningan Diamankan

Kerugian yang teridentifikasi pun sangat besar.

"Prakiraan awal terhadap dugaan jumlah kerugian yang saat ini berdasarkan hasil penyidikan kami sekitar 95,22 miliar rupiah," ujar Iman, Kamis, 18 Juni 2026.

Ia menambahkan bahwa sebagian kerugian yang telah teridentifikasi berasal dari jemaah yang belum menerima pengembalian dana.

"Sementara kerugian yang teridentifikasi dari jemaah yang belum menerima refund mencapai 27,52 miliar rupiah dengan potensi kerugian yang memungkinkan nilai tersebut masih lebih besar lagi karena dari layanan pengaduan yang kami buka korban terus bertambah," katanya.

Kasus ini kembali mengingatkan publik bahwa lemahnya tata kelola dan pengawasan biro perjalanan ibadah dapat menempatkan jemaah sebagai pihak yang paling rentan menanggung risiko.

 

 

Baca juga:
Umanis Galungan 2026: Pura Lempuyang Dipenuhi Ribuan Pemedek

"Ketika perang di Timur Tengah dijadikan kambing hitam, penyidik justru menemukan lubang yang sudah menganga sejak tiga tahun lalu."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #HananiaTravel #KasusUmrah #PoldaMetroJaya #JemaahUmrah #BeritaIndonesia

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال