Umanis Galungan 2026: Pura Lempuyang Dipenuhi Ribuan Pemedek

GalaPos ID, Karangasem.
Ribuan umat Hindu memadati kawasan Pura Lempuyang, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali, pada Kamis, 18 Juni 2026.
Lonjakan kehadiran pemedek pada puncak karya pujawali yang bertepatan dengan Umanis Galungan membuat pengelola menerapkan sistem persembahyangan bergiliran, sementara kawasan wisata ditutup sementara hingga 21 Juni 2026.

Puncak Pujawali Pura Lempuyang, Ribuan Umat Datang dan Wisata Ditutup
Saat ribuan umat mendaki ribuan anak tangga demi bhakti, wisatawan justru harus menunggu di luar gerbang. Di Pura Lempuyang, Bali mengingatkan bahwa tidak semua tempat suci bisa diukur dengan jumlah tiket dan antrean foto media sosial.

"Ketika ribuan umat datang untuk berdoa, Bali mengirim pesan halus: pura bukan sekadar latar foto Instagram."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Ribuan umat Hindu memadati Pura Lempuyang pada puncak karya pujawali bertepatan dengan Umanis Galungan 2026.
2. Pengelola menerapkan sistem persembahyangan bergiliran dan pengamanan ketat untuk mengantisipasi kepadatan umat serta lalu lintas.
3. Kunjungan wisatawan ditutup sementara selama 17–21 Juni 2026 guna menjaga kekhusyukan dan kelancaran rangkaian upacara keagamaan.


Pura Lempuyang yang termasuk jajaran Sad Kahyangan dan diyakini sebagai stana Sang Hyang Geni menjadi pusat pergerakan umat sejak pagi hari. Ribuan pemedek datang dari berbagai daerah di Bali untuk mengikuti rangkaian persembahyangan yang menjadi bagian penting dalam tradisi keagamaan Hindu Bali.

Di tengah tingginya antusiasme umat, tantangan utama yang muncul bukan hanya kepadatan di area pura, tetapi juga pengaturan arus manusia dan kendaraan menuju kawasan Gunung Lempuyang. Kapasitas area utama yang terbatas membuat pengelola harus mengatur jadwal persembahyangan secara bergiliran agar kekhusyukan ibadah tetap terjaga.

Rangkaian persembahyangan dimulai dari Penataran Agung Lempuyang, kemudian berlanjut ke Pura Telaga Mas, Pura Pasar Agung, hingga mencapai Pura Lempuyang Luhur yang berada di puncak Gunung Lempuyang. Untuk mencapai pura utama, umat harus menempuh perjalanan panjang dengan menaiki ribuan anak tangga.

Baca juga:
Darurat Politik Indonesia? Deklarasi Amsterdam Munculkan Blok Politik Alternatif Baru

Meski medan yang dilalui cukup berat, semangat umat untuk melaksanakan persembahyangan tidak surut. Kehadiran mereka menjadi gambaran kuatnya tradisi spiritual yang masih bertahan di tengah perkembangan sektor pariwisata Bali yang terus tumbuh.
 
Bendesa Adat Purwayu, I Nyoman Jati, mengatakan berbagai persiapan telah dilakukan jauh sebelum puncak pujawali berlangsung, termasuk pengaturan alur kedatangan umat.

“Karena pemedek yang datang cukup banyak, kami mengatur persembahyangan secara bergiliran. Pecalang kami siagakan mulai dari area parkir sampai menuju Pura Lempuyang Luhur agar perjalanan umat bisa berjalan tertib dan lancar,” ujar I Nyoman Jati, Kamis, 18 Juni 2026.

Selain pengaturan di kawasan pura, perhatian juga difokuskan pada potensi kepadatan lalu lintas. Arus kendaraan yang meningkat menuju lokasi upacara menjadi salah satu risiko yang diantisipasi aparat keamanan.

Polsek Abang mengerahkan personel di sepuluh titik strategis sepanjang jalur menuju Pura Lempuyang. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kelancaran arus kendaraan sekaligus menghindari kemacetan yang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat maupun jalannya upacara.

Saat Ribuan Umat Mendaki Lempuyang, Wisatawan Harus Menepi Sementara
Pengelola menerapkan sistem persembahyangan bergiliran dan pengamanan ketat untuk mengantisipasi kepadatan umat serta lalu lintas. Kunjungan wisatawan ditutup sementara selama 17–21 Juni 2026 guna menjaga kekhusyukan dan kelancaran rangkaian upacara keagamaan.

 

Kapolsek Abang, AKP I Komang Susiawan, menegaskan bahwa pengamanan dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan tertib.

“Kami menempatkan personel di beberapa titik jalur menuju Pura Lempuyang, khususnya di sepuluh titik yang menjadi lokasi rawan kepadatan. Pengaturan lalu lintas kami lakukan agar kendaraan pemedek tetap bisa bergerak dan tidak terjadi kemacetan panjang,” kata AKP I Komang Susiawan.

Di sisi lain, Desa Adat Purwayu mengambil langkah tegas dengan menutup sementara aktivitas kunjungan wisatawan ke kawasan Pura Lempuyang selama 17–21 Juni 2026. Kebijakan ini menjadi pengingat bahwa fungsi utama kawasan suci tersebut adalah sebagai tempat ibadah, bukan semata-mata destinasi wisata.

Baca juga:
Dari Jakarta untuk Indonesia, Dari SEMMI untuk Persatuan Nasional

Penutupan sementara dilakukan untuk memberikan ruang penuh bagi umat dalam menjalankan rangkaian pujawali tanpa gangguan aktivitas lain. Setelah seluruh rangkaian upacara selesai, kunjungan wisatawan akan kembali dibuka seperti biasa.

Fenomena membludaknya pemedek di Pura Lempuyang menunjukkan bahwa di tengah derasnya arus industri pariwisata Bali, ruang spiritual masih menjadi pusat kehidupan masyarakat adat. Ketika ribuan umat rela mendaki ribuan anak tangga untuk bersembahyang, pesan yang muncul jelas: kesakralan pura tetap menjadi prioritas yang harus dijaga di atas kepentingan komersial apa pun.

 

 

Baca juga:
Ingin Jadi Social Media Manager? Ini Skill, Gaji, dan Prospek Kariernya

"Ribuan anak tangga menuju Pura Lempuyang lebih ramai oleh pemedek daripada pemburu konten. Sesekali, spiritualitas memang menang dari pariwisata."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #PuraLempuyang #UmanisGalungan #KarangasemBali #WisataBali #BudayaBali

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال