Dari Kelas ke Kebun Mini, Anak-anak Yogyakarta Diajak Mengenal Dunia Pertanian

GalaPos ID, Yogyakarta.
Di tengah semakin sempitnya lahan pertanian dan menurunnya minat generasi muda terhadap sektor agraris, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta memilih menanam harapan melalui ruang kelas.
Puluhan siswa SD Negeri Keputran 2 Yogyakarta diajak mengenal dunia pertanian melalui program Tani Masuk Sekolah, sebuah upaya edukasi yang memperkenalkan konsep pertanian perkotaan sejak usia dini.

Dari Kelas ke Kebun Mini, Anak-anak Yogyakarta Diajak Mengenal Dunia Pertanian
Ketika banyak anak kota lebih akrab dengan gim digital daripada bibit cabai, program Tani Masuk Sekolah hadir mengingatkan bahwa sayuran tidak tumbuh di rak supermarket. Dari polybag sederhana, benih ketahanan pangan mulai ditanam sejak dini.

 

"Di saat banyak anak mengenal karakter gim lebih cepat daripada jenis tanaman, Yogyakarta memilih mengenalkan cabai, sawi, dan terong sebagai pelajaran masa depan."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta mengenalkan konsep pertanian perkotaan kepada siswa SD melalui program Tani Masuk Sekolah.
2. Siswa belajar mengenal hama tanaman, teknik menanam sayuran menggunakan polybag, serta pentingnya merawat tanaman.
3. Program ini menjadi upaya menanamkan kesadaran ketahanan pangan, kepedulian lingkungan, dan regenerasi petani sejak usia dini.


Program ini menunjukkan bahwa bercocok tanam tidak selalu membutuhkan sawah atau lahan luas. Di kawasan perkotaan, aktivitas pertanian tetap dapat dilakukan dengan memanfaatkan ruang terbatas menggunakan metode sederhana seperti polybag dan media tanam praktis.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa terlebih dahulu diperkenalkan pada berbagai jenis hama yang sering menyerang tanaman pangan, mulai dari tikus hingga organisme pengganggu lainnya. Pengetahuan dasar ini diberikan agar siswa memahami tantangan yang dihadapi petani sekaligus mampu melakukan langkah antisipasi saat mulai menanam di lingkungan rumah.

Setelah memahami teori dasar, para peserta diajak mempraktikkan langsung cara menanam berbagai jenis sayuran. Mereka belajar mengenal media tanam, penggunaan polybag, hingga teknik menanam bibit yang benar. Para penyuluh juga memberikan arahan untuk melepaskan plastik pembungkus akar bibit sebelum ditanam agar pertumbuhan tanaman tidak terhambat.

Baca juga:
Darurat Politik Indonesia? Deklarasi Amsterdam Munculkan Blok Politik Alternatif Baru

Suasana belajar berlangsung interaktif. Para siswa tampak antusias saat menanam sendiri bibit sayuran pilihan mereka. Kegiatan tersebut menjadi pengalaman baru yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun kedekatan anak-anak dengan lingkungan dan sumber pangan yang mereka konsumsi sehari-hari.
 
Penyuluh Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Rita Damayanti, mengatakan kecintaan terhadap dunia pertanian perlu ditanamkan sejak dini dan terus digencarkan di lingkungan sekolah. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk membangun generasi yang peduli terhadap pertanian, lingkungan, dan ketahanan pangan.

Kepala SD Negeri Keputran 2 Yogyakarta, Novi Kristiani, mengapresiasi program tersebut karena memberikan pengalaman belajar yang selaras dengan materi pelajaran di sekolah.

“Anak-anak sangat antusias. Kegiatan ini mendukung pembelajaran, terutama pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang diantara salah satunya juga ada materi sayur mayur, materi bagaimana cara menanam yang baik dan macam-macam tumbuhan,” ujar Novi, Rabu, 17 Juni 2026.

Kenalkan Ketahanan Pangan Sejak Dini, Puluhan Siswa SD Belajar Menanam Sayuran
Siswa belajar mengenal hama tanaman, teknik menanam sayuran menggunakan polybag, serta pentingnya merawat tanaman. Program ini menjadi upaya menanamkan kesadaran ketahanan pangan, kepedulian lingkungan, dan regenerasi petani sejak usia dini.

 

Antusiasme serupa juga dirasakan para siswa. Salah seorang peserta, Dafiya Khaeria, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru mengenai pertanian dan ekosistem yang mendukungnya.

“Dari pembelajaran ini saya mendapat ilmu tentang pertanian, seperti cara menanam terong, sawi, dan cabai. Kami juga belajar mengenal hewan hama serta hewan yang bersahabat dengan petani,” katanya.

Sebagai tindak lanjut pembelajaran, bibit sayuran yang telah ditanam di dalam polybag dibawa pulang oleh masing-masing siswa untuk dirawat di rumah.

Baca juga:
Dari Jakarta untuk Indonesia, Dari SEMMI untuk Persatuan Nasional


Mereka juga akan melaporkan perkembangan tanaman secara berkala kepada guru sebagai bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan.

Di tengah tantangan regenerasi petani dan ketahanan pangan nasional, program sederhana seperti Tani Masuk Sekolah menjadi pengingat bahwa masa depan pertanian tidak selalu dimulai dari hamparan sawah luas. Kadang, ia tumbuh dari sebuah polybag kecil yang dirawat oleh tangan-tangan anak sekolah.

 

 

Baca juga:
Ingin Jadi Social Media Manager? Ini Skill, Gaji, dan Prospek Kariernya

"Kalau generasi muda hanya tahu sayur dari etalase minimarket, siapa yang akan menjadi petani di masa depan? Program Tani Masuk Sekolah mencoba menjawab kegelisahan itu."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #TaniMasukSekolah #KetahananPangan #PertanianPerkotaan #EdukasiAnak #Yogyakarta

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال