GalaPos ID, Amsterdam.
Kekecewaan terhadap sistem politik Indonesia yang dinilai semakin jauh dari rakyat melahirkan langkah politik baru dari kalangan diaspora Indonesia di Belanda.
Melalui Deklarasi Amsterdam yang dibacakan pada Rabu, 17 Juni 2026, berbagai elemen masyarakat sipil Indonesia di Belanda menyatakan pembentukan Blok Politik Alternatif dan mendaulat Dandhy Dwi Laksono untuk memimpin fase awal konsolidasi gerakan tersebut.
"Ketika partai politik dinilai semakin sibuk mengurus elite dan pemodal, sekelompok diaspora Indonesia di Belanda justru memilih "mengimpor" harapan baru dari luar negeri. Pertanyaannya, mampukah Blok Politik Alternatif menjadi koreksi nyata atau hanya menambah antrean panjang gerakan perubahan yang berakhir sebagai slogan?"
Baca juga:
- Dari Jakarta untuk Indonesia, Dari SEMMI untuk Persatuan Nasional
- Ingin Jadi Social Media Manager? Ini Skill, Gaji, dan Prospek Kariernya
- BBM Subsidi Tetap Ditahan, Seberapa Lama APBN Mampu Bertahan?
Gala Poin:
1. Diaspora Indonesia di Belanda mendeklarasikan Blok Politik Alternatif sebagai respons terhadap krisis representasi politik dan kemunduran demokrasi di Indonesia.
2. Dandhy Dwi Laksono didaulat memimpin konsolidasi gerakan, namun bukan sebagai calon presiden atau figur tunggal penyelamat bangsa.
3. Gerakan menargetkan Kongres Rakyat dan konsolidasi masyarakat sipil nasional sebagai langkah membangun kekuatan politik alternatif di luar dominasi oligarki dan partai politik lama.
Deklarasi tersebut melibatkan diaspora, pelajar, pekerja, profesional, serta sejumlah elemen masyarakat sipil yang menyatakan perlunya wadah politik baru di luar struktur partai politik yang ada saat ini.
“Sistem politik Indonesia sedang mengalami krisis representasi yang serius. Partai-partai politik telah bertransformasi menjadi kendaraan elite dan pemodal yang berorientasi pada perburuan rente, serta semakin kehilangan hubungan dengan konstituen yang seharusnya mereka wakili,” tulis Lingkar Interaksi Indonesia Belanda bersama Elemen Masyarakat Sipil Indonesia di Belanda, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Kamis, 18 Juni 2026.
Demokrasi Dinilai Mengalami Kemunduran
Deklarasi tersebut berangkat dari penilaian bahwa demokrasi Indonesia tengah menghadapi kemunduran serius. Mereka mengutip skor terbaru Varieties of Democracy (V-Dem) yang disebut menunjukkan kualitas demokrasi Indonesia turun ke angka 0,30, terendah sejak era Reformasi.
Baca juga:
Ancaman Baru Pasca Dugaan Kebocoran Data SPMB Batam, Publik Diminta Waspada
Dalam deklarasinya, kelompok tersebut juga menyoroti meningkatnya fenomena golongan putih (golput) sebagai bentuk ketidakpercayaan publik terhadap sistem politik yang ada.
Oligarki Dinilai Semakin Mengakar
Deklarasi Amsterdam juga merujuk pada riset akademisi Vedi Hadiz dan Richard Robison dalam buku Oligarchy and the End of Reformasi. Menurut mereka, oligarki pasca-Reformasi justru semakin terkonsolidasi melalui institusi demokrasi.
Atas dasar itulah, mereka menilai kritik dari luar sistem atau sekadar menitipkan aspirasi kepada partai politik lama tidak lagi memadai untuk menghasilkan perubahan yang substansial.
Kelompok diaspora tersebut kemudian menawarkan pembentukan Blok Politik Alternatif sebagai kendaraan konsolidasi masyarakat sipil guna merebut kembali ruang politik secara demokratis.
Target jangka panjangnya adalah mempersiapkan lahirnya partai politik alternatif yang diklaim lebih dekat dengan kepentingan rakyat.
Mengapa Dandhy Dwi Laksono?
Salah satu poin paling menonjol dalam deklarasi tersebut adalah pendaulatan Dandhy Dwi Laksono sebagai pemimpin konsolidasi gerakan.
Namun para penggagas deklarasi menegaskan bahwa langkah tersebut bukan bentuk pencalonan politik praktis maupun kultus individu.
Mereka menyampaikan beberapa penegasan penting:
- Tidak mendaulat Dandhy sebagai calon presiden.
- Tidak menjadikan Dandhy sebagai mesias politik ataupun pemilik gerakan.
- Mendaulatnya semata-mata untuk memimpin fase awal konsolidasi gerakan rakyat.
- Mendukung Dandhy karena dianggap mampu menjadi titik awal kerja kolektif yang terorganisasi.
Baca juga:
Fakta di Balik Rumor Hamil Syifa Hadju dan El Rumi yang Ramai di TikTok
Menurut mereka, Dandhy dipilih berdasarkan rekam jejak advokasi sosial dan keterlibatannya dalam berbagai isu publik selama bertahun-tahun.
Deklarasi itu menyebut Dandhy aktif membangun jejaring literasi dan advokasi warga dari Aceh hingga Papua, menjaga independensi dari partai politik, serta mampu menjembatani berbagai kelompok masyarakat yang selama ini terfragmentasi.
Tiga Maklumat Utama
Dalam Deklarasi Amsterdam, terdapat tiga agenda utama yang akan dijalankan.
Pertama, menyatakan kondisi darurat politik dan kebutuhan mendesak menghadirkan Blok Politik Alternatif sebagai instrumen koreksi terhadap sistem politik nasional.
Kedua, mengonsolidasikan berbagai elemen masyarakat sipil, termasuk gerakan koperasi, masyarakat adat, gerakan agraria, komunitas keagamaan, petani, nelayan, buruh, pelajar, dan mahasiswa untuk menyelenggarakan Kongres Rakyat yang demokratis dan damai.
Kongres tersebut direncanakan menyusun pakta perjuangan, manifesto politik, struktur organisasi, serta arah perjuangan Blok Politik Alternatif.
Ketiga, menyerukan aksi nasional kepada berbagai kelompok masyarakat sipil di Indonesia maupun diaspora untuk membangun deklarasi serupa dan memperluas konsolidasi gerakan di wilayah masing-masing.
![]() |
| Diaspora Indonesia di Belanda deklarasikan blok politik alternatif, Dandhy Dwi Laksono didaulat pimpin konsolidasi. Foto: istimewa |
Ujian Besar Gerakan Alternatif
Meski menawarkan narasi perubahan, tantangan terbesar gerakan ini bukan sekadar mengumpulkan dukungan publik. Sejarah politik Indonesia menunjukkan banyak gerakan alternatif lahir dari kekecewaan terhadap elite, tetapi tidak sedikit yang akhirnya terserap ke dalam sistem yang sebelumnya mereka kritik.
Karena itu, publik akan menunggu apakah Blok Politik Alternatif mampu membangun organisasi yang benar-benar independen, transparan, dan berpihak kepada rakyat, atau justru menjadi kendaraan politik baru yang mengulangi pola lama dengan wajah berbeda.
Di tengah menurunnya kepercayaan terhadap partai politik dan menguatnya kritik terhadap oligarki, Deklarasi Amsterdam menjadi sinyal bahwa sebagian masyarakat sipil mulai mencari jalur baru untuk merebut kembali ruang politik yang mereka anggap semakin sempit.
*Selengkapnya Deklarasi Amsterdam disini: Press Rilis
Baca juga:
UPRINTIS Futsal League 2026, Ajang Pembinaan Atlet Muda Trenggalek
"Di tengah demokrasi yang disebut makin dikuasai oligarki, diaspora Indonesia di Belanda mengibarkan bendera "darurat politik". Namun publik punya alasan untuk bertanya: apakah ini awal lahirnya kekuatan politik rakyat, atau sekadar episode baru dalam serial panjang pencarian tokoh alternatif?"
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #BlokPolitikAlternatif #DeklarasiAmsterdam #DandhyLaksono
.jpg)
.jpg)