Budaya Dijual atau Dilestarikan? Cerita dari Balai Budaya Condet

GalaPos ID, Jaktim.
Halaman Balai Budaya Condet tampak ramai sepanjang pelaksanaan Sorak Betawi Condet 2026. Di antara suara Gambang Kromong dan pertunjukan seni tradisional, deretan UMKM Betawi menjadi wajah lain dari upaya mempertahankan identitas budaya di tengah tekanan modernisasi.

Budaya Dijual atau Dilestarikan? Cerita dari Balai Budaya Condet
Festival Sorak Betawi Condet 2026 menghadirkan bazar UMKM, workshop budaya, dan pertunjukan seni tradisional. Di balik kemeriahan acara, muncul pertanyaan penting: sejauh mana ekonomi kreatif mampu menjadi penyelamat budaya Betawi yang terus terdesak modernisasi?

"Di negeri yang lebih hafal tren TikTok daripada sejarah kampungnya sendiri, budaya Betawi kini harus bersaing dengan algoritma demi tetap hidup."

Baca juga:

Gala Poin:
1. UMKM menjadi bagian penting dalam pelestarian dan promosi budaya Betawi.
2. Festival budaya dikombinasikan dengan pendekatan ekonomi kreatif dan edukasi digital.
3. Keberlanjutan program pasca-acara menjadi indikator utama keberhasilan pelestarian budaya.


Bazar UMKM bukan sekadar pelengkap acara. Kehadirannya menjadi ruang ekonomi sekaligus sarana memperkenalkan produk khas Betawi kepada masyarakat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak lagi hanya berbicara soal tarian, musik, atau pertunjukan tradisional. Budaya kini juga harus mampu bertahan secara ekonomi agar tetap memiliki ruang hidup.

Ketua Pelaksana Sorak Betawi Condet, Nailah Inayah Humaira, menegaskan bahwa pendekatan kolaboratif menjadi kunci dalam program tersebut.

“Melalui Sorak Betawi Condet, kami ingin menunjukkan bahwa pelestarian budaya Betawi dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan yang dekat dengan masyarakat dan generasi muda. Mulai dari edukasi digital, pelatihan kreatif, hingga festival budaya, seluruh rangkaian kegiatan ini dirancang untuk membangun kesadaran bahwa budaya Betawi adalah identitas yang harus terus dijaga dan diwariskan. Kami berharap kolaborasi yang terjalin antara mahasiswa, masyarakat, komunitas budaya, pemerintah setempat, dan berbagai pemangku kepentingan dapat menjadi langkah nyata dalam menjaga keberlangsungan budaya Betawi di masa depan,” ujar Nailah Inayah Humaira, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Senin, 22 Juni 2026.

Baca juga:
Kasus Hanania Travel: Awkarin Ajukan Penundaan, Polisi Sudah Periksa 140 Saksi

Sorak Betawi Condet menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari workshop Mix & Match Fashion Betawi, pelatihan pembuatan emping, kelas Tari Betawi, hingga pengenalan musik Gambang Kromong.
 
Model kegiatan semacam ini dinilai lebih mudah diterima generasi muda dibandingkan pendekatan pelestarian budaya yang bersifat formal dan satu arah.

Dosen Creative Production and Publicity LSPR, Rizka Septiana, menyebut program tersebut menjadi bukti penerapan ilmu komunikasi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Memperkuat kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, komunitas budaya, pemerintah setempat, dan pemangku kepentingan lainnya,” sebut Rizka, Minggu, 22 Juni 2026.

Meski demikian, publik perlu melihat lebih jauh apakah manfaat ekonomi yang muncul dari kegiatan seperti ini benar-benar dirasakan pelaku UMKM dan komunitas budaya setelah acara selesai.

UMKM Betawi Meramaikan Balai Budaya Condet, Siapa yang Menikmati Hasilnya?
Ketika budaya lokal terus terdesak modernisasi, Sorak Betawi Condet 2026 mencoba menyelamatkan identitas Betawi melalui pelatihan digital, festival budaya, dan pemberdayaan UMKM. Pertanyaannya, apakah gerakan ini mampu melahirkan dampak jangka panjang atau hanya menjadi agenda seremonial tahunan?

 

Ketua Pokdarwis Kampung Condet, Dicky Arfansuri, menilai keterlibatan generasi muda menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan budaya Betawi.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif yang dilakukan oleh mahasiswa LSPR melalui Sorak Betawi Condet. Program ini membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan cara yang kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman. Kami berharap semangat untuk mencintai dan melestarikan budaya Betawi dapat terus tumbuh di kalangan generasi muda sehingga warisan budaya ini tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat,” ujarnya.

Pertanyaan mendasar yang perlu terus diajukan adalah apakah budaya hanya hadir ketika ada festival, atau benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Sebab keberhasilan pelestarian budaya sejatinya tidak diukur dari ramainya panggung pertunjukan, melainkan dari seberapa kuat tradisi itu bertahan dalam kehidupan generasi berikutnya.

 

 

Baca juga:
Kapal Api Group Tanam 2.500 Mangrove, Targetkan Pemulihan Ekosistem Pesisir

"Di Indonesia, budaya sering dirayakan sehari, lalu dilupakan setahun. Untungnya, pedagang UMKM masih setia mengingatkan lewat dagangannya."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #UMKMBetawi #Condet #FestivalBudayaBetawi #EkonomiKreatif #JakartaTimur

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال