BINUS @Alam Sutera Siapkan Mahasiswa Hadapi Era AI dan Ketidakpastian Karier

GalaPos ID, Tangerang.
Memilih perguruan tinggi kini bukan lagi sekadar memilih tempat kuliah. Di tengah meningkatnya fenomena career mismatch dan perubahan besar akibat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), orang tua semakin mempertanyakan satu hal mendasar: apakah biaya pendidikan tinggi masih sebanding dengan peluang kerja yang akan diperoleh anak setelah lulus?

Career Mismatch Menghantui Generasi Muda, BINUS Tawarkan Solusi
Career mismatch masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Saat jutaan lulusan menghadapi ketidakpastian dunia kerja dan disrupsi AI, BINUS @Alam Sutera menawarkan pendekatan pendidikan yang menggabungkan pengalaman industri, teknologi, dan kesiapan karier sejak bangku kuliah.

Dulu orang tua bertanya, "Sudah kuliah belum?" Kini pertanyaannya berubah: "Sudah kuliah, tapi nanti kerja apa?"

Baca juga:

Gala Poin:
1. Career mismatch masih menjadi tantangan besar bagi lulusan pendidikan tinggi.
2. BINUS @Alam Sutera menawarkan pendekatan berbasis pengalaman industri dan teknologi AI.
3. Publik menuntut kampus membuktikan dampak nyata terhadap kesiapan kerja lulusan.


Pertanyaan tersebut muncul bukan tanpa alasan. Sekitar 35–36 persen pemuda Indonesia bekerja tidak sesuai dengan tingkat pendidikan yang dimiliki. Sementara itu, World Economic Forum memprediksi sekitar 22 persen pekerjaan global akan mengalami perubahan pada 2030.

Kondisi tersebut mendorong perguruan tinggi untuk tidak hanya menawarkan gelar akademik, tetapi juga menjamin relevansi kompetensi lulusannya terhadap kebutuhan industri yang terus berubah.

Menjawab tantangan tersebut, BINUS @Alam Sutera menghadirkan pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman industri, pengembangan kompetensi masa depan, serta pemanfaatan AI melalui Digital Transformation & AI Experience Ecosystem.

Direktur Kampus BINUS @Alam Sutera sekaligus Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Manajemen, Prof. Lim Sanny, menilai dunia kerja saat ini bergerak jauh lebih cepat dibandingkan sistem pendidikan konvensional.

“Saat ini, dunia kerja berubah dengan sangat cepat. Mahasiswa tidak cukup hanya dibekali teori, tetapi juga perlu mendapatkan pengalaman nyata, kemampuan adaptasi, kreativitas, pemahaman bisnis, serta literasi teknologi. Karena itu, pendidikan tinggi harus mampu menjadi jembatan antara proses belajar di kampus dengan kebutuhan industri,” jelas Prof. Lim, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Senin, 22 Juni 2026.

Baca juga:
Kasus Hanania Travel: Awkarin Ajukan Penundaan, Polisi Sudah Periksa 140 Saksi

Menurutnya, melalui Enrichment Program, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman langsung di dunia industri sebelum lulus sehingga memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap kebutuhan pasar kerja.
 
“Melalui Enrichment Program, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengalaman langsung di dunia industri sebelum lulus. Dengan begitu, mereka tidak hanya siap menyelesaikan pendidikan, tetapi juga lebih siap memahami dinamika dunia kerja dan membangun arah kariernya,” tambahnya.

Namun bagi publik, ukuran keberhasilan program semacam ini tidak hanya terletak pada banyaknya kerja sama industri atau kurikulum berbasis teknologi. Yang lebih penting adalah bagaimana program tersebut mampu menekan angka career mismatch dan meningkatkan kualitas pekerjaan lulusan setelah lulus.

Presiden Direktur PT Meta Life Indonesia Group PT Pharos Indonesia sekaligus orang tua mahasiswa BINUS @Alam Sutera, Marjuky CH, mengakui bahwa keputusan memilih kampus saat ini menjadi semakin kompleks.

“Sebagai orang tua, tentu kami ingin anak mendapatkan pendidikan yang baik. Tetapi lebih dari itu, kami juga ingin memastikan bahwa pilihan kampus tersebut dapat membantu anak memiliki arah yang jelas untuk masa depannya. Kekhawatiran seperti biaya pendidikan, pilihan jurusan, dan prospek karier tentu menjadi pertimbangan penting,” ungkap Marjuky.

Ketika Gelar Saja Tak Cukup: Strategi BINUS Menjawab Tantangan Dunia Kerja
Perkembangan Artificial Intelligence mengubah cara belajar, bekerja, dan membangun karier. BINUS @Alam Sutera menghadirkan Digital Transformation & AI Experience Ecosystem untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan teknologi, berpikir kritis, dan etika penggunaan AI.

 

Ia menilai faktor pengalaman dan lingkungan belajar menjadi pertimbangan penting bagi keluarga.

“Yang membuat kami merasa lebih secure adalah ketika melihat anak tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga berada dalam lingkungan yang mendorongnya untuk berkembang. Ada pengalaman, ada arahan, dan ada ekosistem yang mendukung. Dari situ kami merasa bahwa keputusan memilih BINUS bukan hanya soal kuliah, tetapi juga bagian dari investasi untuk masa depan anak,” tambahnya.

Di tengah mahalnya biaya pendidikan dan ketidakpastian dunia kerja, masyarakat kini semakin kritis dalam menilai perguruan tinggi. Kampus tidak lagi cukup menjual nama besar dan akreditasi. Yang ditunggu publik adalah bukti nyata bahwa pendidikan mampu menjadi jalan menuju karier yang lebih relevan dan berkelanjutan.

 

 

Baca juga:
Kapal Api Group Tanam 2.500 Mangrove, Targetkan Pemulihan Ekosistem Pesisir

Di era AI, tugas kuliah bisa dibuat mesin dalam hitungan detik. Tantangannya justru memastikan manusia tetap berpikir.

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #BINUSAlamSutera #PendidikanTinggi #CareerMismatch #EraAI #MasaDepanKarier

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال