Blak-Blakan Tenaga Ahli: Jakarta Tak Bisa Dibangun dengan Beton Saja

GalaPos ID, Jakarta.
Ambisi Jakarta menjadi kota global kembali digaungkan dalam forum “Blak-Blakan Bareng Tenaga Ahli: Ngomongin Jakarta”.
Namun di balik optimisme menuju 500 tahun Jakarta, sejumlah persoalan mendasar seperti sampah, krisis ruang hidup, ketimpangan sosial, hingga kesehatan mental warga urban justru menjadi sorotan utama.

Menuju 500 Tahun Jakarta: Diskusi Publik atau Sekadar Seremoni?
Di tengah ambisi Jakarta menuju kota kelas dunia, warga tampaknya masih akrab dengan macet, polusi, dan janji pembangunan yang lebih cepat hadir di panggung diskusi daripada di lingkungan tempat tinggal mereka. Foto: istimewa

"Jakarta ingin menjadi kota global. Tapi sebelum mengejar dunia, mungkin tumpukan sampah 8.000 ton per hari dan ruang hidup warga yang makin sempit perlu dibereskan lebih dulu."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Jakarta menghadapi paradoks besar: ambisi menjadi kota global berhadapan dengan persoalan sampah, ketimpangan sosial, dan krisis ruang hidup warga.
2. Pemerintah didorong membuka ruang partisipasi publik, bukan hanya mengandalkan pembangunan fisik dan proyek infrastruktur.
3. Generasi muda dan komunitas akar rumput dinilai menjadi elemen penting dalam menentukan arah masa depan Jakarta menuju usia 500 tahun.


Diskusi publik yang digelar oleh Aspirasi Jakarta, ILUNI FH Universitas Atma Jaya, Forum Peduli Literasi Masyarakat, dan Tinta Narrativa dengan dukungan Perumda Pasar Jaya itu memperlihatkan satu kenyataan: pembangunan Jakarta tak lagi cukup hanya mengandalkan beton, jalan layang, dan megaproyek infrastruktur.

Forum tersebut menghadirkan Tenaga Ahli Stafsus Gubernur DKI Jakarta, yakni Reinhard Sirait, Aris Setiawan, Hikari Erasa, dan Fariz Gamal.

Koordinator Stafsus Gubernur DKI Jakarta, Profesor Firdaus Ali, mengingatkan bahwa momentum menuju lima abad Jakarta merupakan fase sejarah penting yang harus diisi dengan program nyata, bukan sekadar seremoni.

“kita menjadi bagian dari sejarah tidak terlupakan dalam sejarah 5 abad kota Jakarta. Jadilah kita menjadi saksi yang proaktif dan kreatif untuk Jakarta dan Indonesia,” ujar Profesor Firdaus Ali, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Sabtu, 23 Mei 2026.

Baca juga:
ART with HEART 2026: Panasonic-GOBEL Dorong Kemandirian Seniman Difabel

Firdaus Ali juga menyoroti ancaman serius persoalan sampah Jakarta menjelang penutupan TPA Nasional Bantar Gebang pada Agustus 2026. Menurutnya, persoalan Jakarta harus segera ditangani secara kolaboratif karena Jakarta menjadi wajah Indonesia di mata dunia.

“Jakarta memerlukan mereka yang hadir membawa solusi. Jakarta membutuhkan kolaborasi. Saya yakin teman-teman yang ada di ruangan ini maupun luar sana, kita punya platform yang sama dan cita-cita yang sama,” tutur Firdaus Ali.

Ia bahkan menegaskan arah kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta yang menginginkan warga hadir membawa solusi konkret, bukan sekadar proposal.

”Bapak Gubernur Pramono itu menginginkan warga yang bertemu beliau itu bukan datang membawa proposal. Tapi beliau ingin agar warga atau siapa pun yang bertemu beliau itu datang membawa program konkrit bagi penyelesaian masalah yang ada,” tandas Profesor Firdaus Ali.

Jakarta Mau Jadi Kota Global, Warga Diminta Bawa Solusi Bukan Proposal
Profesor. Firdaus Ali, Koordinator Stafsus Gubernur Jakarta. Foto: istimewa

 

Di tengah ambisi Jakarta menuju kota global, persoalan lingkungan menjadi salah satu isu paling mendesak. Tenaga Ahli Bidang Pembangunan dan Tata Kota, Fariz Gamal, mengungkapkan bahwa produksi sampah Jakarta kini mencapai sekitar 8.000 ton per hari.

“Persoalan ini bukan hanya sebagai tantangan teknis pemerintah, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh warga kota,” ujarnya.

Sementara itu, Founder Aspirasi Jakarta, Budhi Haryadi, menyoroti pentingnya ruang kebudayaan dan literasi di tengah kerasnya kehidupan kota metropolitan. Ia menyebut masyarakat akar rumput, khususnya warga miskin kota, masih sering luput dari perhatian pembangunan.

“Aspirasi Jakarta dibangun dari orang-orang muda lintas komunitas yang selama ini konsisten turun langsung menjangkau masyarakat akar rumput. Khususnya warga miskin kota yang sering kali luput dari sorotan pembangunan,” terang Budhi.

Baca juga:
Siapa Luke Mahony? WNA Australia Kini Awasi Ekspor SDA RI

Budhi juga menyinggung budaya layar tancap yang dinilainya mampu menjadi ruang hiburan sekaligus pendidikan publik di kampung-kampung kota.
 
“Melalui gerakan nonton layar tancap kami menonton film-film yang edukatif, seperti laskar pelangi, rumah tanpa jendela, dan beberapa film anak edukatif dari luar negeri. Bulan lalu kami melakukan di Manggarai. Nobar layar tancap adalah tempat hiburan yang mendidik bagi masyarakat.”

Dalam diskusi tersebut, Reinhard Sirait menilai pola pembangunan modern tidak lagi bisa berjalan satu arah tanpa keterlibatan warga.

“Di era digital warga memiliki akses informasi, ruang partisipasi, sekaligus kemampuan mengawasi jalannya pemerintahan secara langsung. Jakarta kota global harus dibangun lewat Citizen participation, keterlibatan komunitas, dan budaya komunikasi dua arah yang sehat,” tutur Reinhard.

Tenaga Ahli Bidang Pemerintahan, Hikari Ersada, mengajak masyarakat memandang usia 500 tahun Jakarta sebagai momentum membangun kota yang lebih manusiawi.

“Jakarta 500 tahun adalah tentang keberanian membayangkan kota yang lebih adil, lebih sehat, lebih berbudaya, dan lebih membahagiakan bagi semua.”

Jakarta Mau Jadi Kota Global, Warga Diminta Bawa Solusi Bukan Proposal
Jakarta bercita-cita masuk 20 besar kota global dunia. Namun di balik gedung pencakar langit dan transportasi modern, sampah 8.000 ton per hari, krisis ruang hidup, dan warga yang makin penat justru jadi alarm keras. Foto: Budhi Haryadi, Founder Aspirasi Jakarta/istimewa

 

Sementara itu, Aris Setiawan memaparkan hasil survei Litbang Kompas yang menunjukkan dukungan publik terhadap arah pembangunan Jakarta sebagai kota global.

“Data dari Litbang Kompas, 87,9% dari 400 responden warga Jakarta menyatakan mendukung arah pembangunan Jakarta menuju kota global. Artinya ini adalah sinyal penting bahwa Jakarta memiliki modal sosial menuju kota global,” ujar Aris.

Meski demikian, forum diskusi juga memunculkan kritik dan keresahan masyarakat terkait isu agraria, minimnya ruang kreatif, penanganan sampah, literasi, hingga ruang dialog publik yang dinilai masih terbatas.

Diskusi berlangsung hangat dan reflektif dengan dihadiri akademisi, mahasiswa, komunitas literasi, relawan, media, hingga berbagai elemen masyarakat sipil.

 

 

Baca juga:
Ekspor SDA Satu Pintu DSI: Solusi Mafia Devisa atau Monopoli Baru?

"Jakarta ingin menjadi kota global. Tapi sebelum mengejar dunia, mungkin tumpukan sampah 8.000 ton per hari dan ruang hidup warga yang makin sempit perlu dibereskan lebih dulu. Diskusi publik ini mencoba mengingatkan: kota bukan cuma proyek beton, tetapi juga soal manusia yang masih ingin didengar."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #JakartaGlobalCity #Jakarta500Tahun #SampahJakarta #RuangPublik #SuaraWarga

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال