Hotel Naraya Batalkan Acara Reformasi 1998, Mahasiswa Curiga Ada Tekanan

GalaPos ID, Jakarta.
Peringatan 28 tahun Reformasi 1998 yang sedianya menjadi ruang refleksi publik justru berakhir dengan tanda tanya besar. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan elemen mahasiswa Bandung menyampaikan kekecewaan setelah pihak Hotel Naraya membatalkan secara sepihak penggunaan lokasi kegiatan di Gedung Naraya/University Training Center (UTC) UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur.

Hotel Naraya Batalkan Acara Reformasi 1998, Mahasiswa Curiga Ada Tekanan
Dulu mahasiswa ditakuti karena turun ke jalan. Sekarang, ruang diskusinya saja sudah keburu dibatalkan. Peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta gagal digelar setelah Hotel Naraya membatalkan agenda secara sepihak. Foto: istimewa

 

"Dulu mahasiswa ditakuti karena turun ke jalan. Sekarang, ruang diskusinya saja sudah keburu dibatalkan."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Hotel Naraya membatalkan sepihak agenda peringatan 28 Tahun Reformasi hanya sehari sebelum acara berlangsung.
2. Mahasiswa menduga ada tekanan terhadap ruang diskusi publik karena pembatalan dilakukan tanpa alasan transparan.
3. BEM dan mahasiswa Bandung menilai kejadian ini sebagai ancaman terhadap kebebasan demokrasi dan ruang sipil.


Pembatalan mendadak itu terjadi hanya sehari sebelum agenda berlangsung, padahal panitia mengaku telah menerima konfirmasi resmi penggunaan tempat sejak 19 Mei 2026. Seluruh persiapan teknis, koordinasi peserta, hingga administrasi kegiatan disebut telah dipenuhi sesuai kesepakatan.

Agenda yang direncanakan pada 21 Mei 2026 tersebut awalnya disusun sebagai ruang refleksi kritis untuk memperingati Reformasi 1998 sekaligus mengevaluasi berbagai agenda reformasi yang dinilai belum tuntas, mulai dari pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), supremasi hukum, perlindungan demokrasi, hingga keberpihakan negara terhadap rakyat.

Namun, pada 20 Mei 2026 sore, pihak Hotel Naraya mendadak mengirimkan pemberitahuan pembatalan tanpa penjelasan rinci. Menurut panitia, alasan yang diberikan bersifat umum dan tidak menjawab substansi persoalan.

Situasi tersebut memunculkan dugaan adanya tekanan terhadap penyelenggaraan agenda publik yang bersifat kritis.

Baca juga:
Siapa Luke Mahony? WNA Australia Kini Awasi Ekspor SDA RI 


Panitia mengaku menerima informasi mengenai adanya pihak lain yang diduga meminta pembatalan acara. Akan tetapi, identitas pihak tersebut hingga kini tidak pernah dijelaskan secara terbuka.

“Kami sangat menyayangkan pembatalan agenda ini. Kegiatan tersebut bukan kegiatan provokatif, melainkan ruang refleksi kritis mahasiswa, aktivis, akademisi, buruh, petani, dan masyarakat sipil untuk membaca kembali arah perjalanan reformasi. Ketika ruang seperti ini dibatalkan secara mendadak tanpa penjelasan yang jelas, wajar apabila publik mempertanyakan ada apa di balik pembatalan tersebut,” ujar perwakilan BEM dan mahasiswa Bandung, Kamal Rahmatullah, Jumat, 22 Mei 2026.

Bagi mahasiswa, pembatalan tersebut tidak sekadar persoalan administratif. Mereka menilai kejadian ini menjadi preseden buruk bagi kehidupan demokrasi dan kebebasan sipil di Indonesia.

Ruang-ruang diskusi publik yang membahas demokrasi, antikorupsi, keadilan sosial, dan sejarah reformasi dinilai semakin rentan mengalami pembatasan dengan alasan yang tidak transparan. Kondisi itu dianggap bertentangan dengan semangat Reformasi 1998 yang lahir dari perjuangan mahasiswa dan rakyat sipil.

“Kami kecewa, tetapi tidak akan berhenti bersuara. Reformasi lahir dari keberanian rakyat dan mahasiswa untuk melawan ketidakadilan. Maka, setiap bentuk pembungkaman terhadap ruang diskusi publik harus dilawan dengan sikap kritis dan solidaritas,” lanjut Kamal yang juga menjabat sebagai Presiden Mahasiswa Unisba.

Hotel Naraya Batalkan Mendadak Agenda Reformasi 1998, Mahasiswa Pertanyakan Tekanan terhadap Ruang Demokrasi
Reformasi 1998 berhasil menjatuhkan rezim, tetapi ternyata belum tentu bisa lolos booking hotel. Foto: istimewa

 

Melalui pernyataan sikapnya, BEM dan mahasiswa Bandung mengecam pembatalan sepihak tersebut dan mendesak pihak Hotel Naraya memberikan klarifikasi terbuka kepada publik. Mereka juga mempertanyakan ada atau tidaknya tekanan dari pihak tertentu terhadap penyelenggaraan agenda peringatan Reformasi.

Selain itu, mahasiswa menegaskan akan terus mengawal agenda reformasi, terutama terkait pemberantasan KKN, penegakan hukum, perlindungan hak asasi manusia (HAM), penguatan demokrasi, dan keberpihakan negara terhadap rakyat.

Baca juga:
BPA Fair 2026 Pecahkan Rekor, Ribuan Peserta Berebut Aset Rampasan Negara

Bagi mereka, Reformasi 1998 bukan sekadar seremoni tahunan yang dipenuhi spanduk dan pidato formal. Reformasi adalah pengingat bahwa demokrasi harus terus dijaga ketika korupsi masih mengakar, ketimpangan sosial belum terselesaikan, hukum dinilai belum sepenuhnya adil, dan ruang sipil semakin sering mendapat tekanan.

Di tengah situasi itu, pembatalan ruang diskusi mahasiswa justru dianggap memperlihatkan ironi demokrasi hari ini: kebebasan berbicara dijamin konstitusi, tetapi ruang untuk berbicara bisa hilang bahkan sebelum acara dimulai.

 

 

Baca juga:
Ekspor SDA Satu Pintu DSI: Solusi Mafia Devisa atau Monopoli Baru?

"Di negeri yang katanya paling demokratis saat musim kampanye, ruang diskusi mahasiswa justru mendadak dibatalkan tanpa penjelasan terang. Peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta gagal digelar setelah Hotel Naraya membatalkan agenda secara sepihak. Mahasiswa mulai bertanya: apakah reformasi kini cukup diperingati lewat poster dan ucapan formalitas?"

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Reformasi1998 #DemokrasiIndonesia #SuaraMahasiswa #RuangSipil #TolakPembungkaman

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال