GalaPos ID, Surabaya.
Upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil terus didorong melalui inovasi energi alternatif. Salah satunya adalah pengembangan biogasoline berbahan dasar crude palm oil (CPO) yang diklaim lebih ramah lingkungan dan berpotensi memperkuat kemandirian energi nasional.
Meski menjanjikan, efektivitas, efisiensi produksi, dan kesiapan implementasi skala besar masih menjadi pertanyaan krusial bagi publik.
"Ancaman krisis energi global dan ketergantungan Indonesia pada bahan bakar fosil, riset biogasoline dari kelapa sawit mulai menunjukkan potensi nyata—namun, seberapa siap inovasi ini menjawab kebutuhan energi nasional?"
Baca juga:
- Waspada! Uang Lama Bisa Hangus, Ini Cara Menukarnya di BI
- Kenaikan Harga Plastik Tekan UMKM Tanah Laut, Penjualan Lesu
- Komodo Dijual Rp5 Juta, Polisi Bongkar Jaringan Perdagangan Satwa Dilindungi
Gala Poin:
1. Biogasoline berbahan CPO berpotensi menjadi alternatif BBM yang lebih ramah lingkungan dan mendukung kemandirian energi.
2. Inovasi katalis meningkatkan efisiensi produksi, tetapi masih membutuhkan suhu tinggi yang berdampak pada biaya energi.
3. Tantangan utama terletak pada skala industri, efisiensi energi, dan keberlanjutan bahan baku sawit.
“Bersama tim kita mengembangkan bensin nabati atau biogasoline ,bahan bakunya berasal dari crude palm oil (CPO). Prosesnya menggunakan metode catalytic cracking atau pemecahan molekul menggunakan katalis, “ ungkap Dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS, Hosta Ardhyananta, Jumat, 10 April 2026.
Penelitian yang didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) ini tidak hanya berfokus pada produksi bahan bakar alternatif, tetapi juga menekan residu hasil proses. Hosta, yang memiliki keahlian di bidang polimer, komposit, dan nanomaterial, menekankan pentingnya efisiensi konversi bahan baku.
“Fokus dari inovasi kami ini adalah bagaimana mengonversi minyak mentah kelapa sawit yang padat menjadi produk bensin biogasoline yang siap digunakan,” terang Hosta yang meneliti bersama timnya.
Baca juga:
Harga Plastik di Jambi Naik 100 Persen, Dampak Konflik Global Terasa
“Produksi yang dihasilkan didominasi hidrokarbon rantai pendek C5 hingga C11. Inilah komponen utama bensin komersial, “ tambahnya
Selain produk utama, gas hasil samping dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar pemanas reaktor, sementara residu cair yang menyerupai minyak dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif lain. Pendekatan ini dinilai meningkatkan efisiensi sistem secara keseluruhan.
Dari sisi lingkungan, penelitian ini juga mengkaji Life Cycle Assessment (LCA) atau analisis daur hidup. Hasilnya menunjukkan jejak karbon yang relatif rendah, sejalan dengan prinsip energi bersih dan berkelanjutan serta mendukung target pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya energi bersih dan konsumsi bertanggung jawab.
Namun demikian, tantangan tetap ada. Skala produksi industri, kebutuhan energi tinggi dalam proses, serta ketergantungan pada komoditas sawit menjadi isu yang perlu dikaji lebih dalam agar inovasi ini benar-benar memberi manfaat luas bagi masyarakat, bukan sekadar capaian laboratorium.
Baca juga:
Danau Toba Butuh Terobosan, Penunjukan Dirut BPODT Jadi Sorotan
"Inovasi biogasoline berbahan crude palm oil (CPO) diklaim mampu menekan emisi dan mendukung kemandirian energi nasional. Namun, tantangan efisiensi, suhu produksi, dan skala industri masih menjadi sorotan."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #EnergiTerbarukan #Biogasoline #KrisisEnergi #InovasiIndonesia #Sustainability
.jpeg)
.jpeg)