Perdagangan: Garis yang Membedakan Manusia dengan Binatang

GalaPos ID, Jakarta.
Apa yang benar-benar membedakan manusia dari binatang? Bukan akal, bukan bahasa—melainkan perdagangan. Sebuah refleksi kritis tentang peradaban, kepercayaan, dan kemanusiaan. Opini ini membongkar mitos rasionalitas manusia dan menawarkan perspektif baru: perdagangan sebagai fondasi kemanusiaan dan harmoni sosial sejak manusia purba.

Bukan Akal atau Bahasa, Ini yang Membuat Manusia Beradab
Hewan dan pemiliknya akhirnya bertemu kembali setelah bertahun-tahun terpisah! Saksikan momen pertemuan kembali paling mengharukan dan luar biasa yang berhasil terekam kamera. Jangan lewatkan kisah emosional ini. Foto Youtube: Novella

Jika akal dan bahasa juga dimiliki makhluk lain, lalu apa yang benar-benar membuat manusia menjadi manusia—dan bukan sekadar predator yang lebih canggih?

Baca juga:

Gala Poin:
1. Akal dan bahasa bukan pembeda mutlak manusia. Riset sains dan pengamatan alam menunjukkan hewan dan tumbuhan juga memiliki bentuk penalaran dan komunikasi yang kompleks.
2. Perdagangan mengubah logika bertahan hidup manusia. Dari ekonomi pemangsaan menuju ekonomi pertukaran, perdagangan menggantikan kekerasan dengan kerja sama dan kepercayaan.
3. Perdagangan melahirkan kemanusiaan dan peradaban. Kepercayaan, alat tukar, dan kesejahteraan bersama adalah fondasi sosial yang tak ditemukan dalam dunia hewan.

 

 

Perdagangan: Garis yang Membedakan Manusia dengan Binatang

Oleh: Mikhail Adam

 

Apa yang sungguh-sungguh membedakan manusia dengan binatang? 

Pertanyaan ini setua filsafat itu sendiri. Jawaban paling populer dan sering diulang adalah akal. Manusia disebut animal rationale, makhluk yang berpikir. Hewan, sebaliknya, dianggap hidup semata oleh naluri. Sebuah premis yang rapi, namun cepat terasa janggal dan membosankan.

Manusia dan hewan kerap dibedakan dari aktivitas berpikir. Manusia kerap disebut Animal Rationale, hewan yang berpikir. Itu titik yang dipercaya membedakan dengan makhluk lainnya. 

Sebab kenyataannya, manusia tak selalu rasional. Sigmund Freud sejak awal abad ke-20 telah membongkar sisi gelap itu: dorongan bawah sadar, hasrat, trauma, dan irasionalitas justru kerap menjadi mesin utama perilaku manusia. Jika rasionalitas adalah mahkota manusia, mengapa ia begitu sering terlepas dari kepalanya?

Kedua jika berpikir yang dimaksud adalah penalaran, hewan juga memiliki sistem penalarannya sendiri. Hewan memiliki sistem penginderaan yang tajam, insting bertahan hidup yang presisi, kemampuan membaca alam yang sering kali melampaui manusia. Pada 2015, Microsoft memaparkan riset ilmiah mengenai Elektroensefalografi. Riset ini menunjukkan bahwa rentang konsentrasi manusia hanya bertahan 8 detik atau satu detik lebih rendah dari ikan mas koko.

Dalam hal ini, konsentrasi yang menjadi fondasi dari aktivitas berpikir, manusia justru tertinggal.

 

Baca juga:
Kasus Kuota Haji, LBH GP Ansor Jabar Ingatkan Bahaya Kriminalisasi Kebijakan 



Premis mengenai yang membedakan manusia dengan hewan karena hanya ia yang berpikir mulai retak oleh riset ilmiah terbaru. 

Maka muncul jawaban lain: bahasa.
Manusia, kata banyak orang, unggul karena bahasa. Kemampuan menyusun subjek, predikat, dan objek secara fleksibel untuk menyampaikan makna yang sama dalam beragam bentuk. Bahasa dianggap bukti kesadaran dan abstraksi. Awal mula puisi, awal mula kebudayaan, awal mula manusia berperadaban.

Namun dunia sains kembali menyodorkan bantahan. Burung, misalnya, memiliki sistem vokalisasi yang luar biasa kompleks. Burung memiliki bahasa yang lebih rumit. la memiliki tingkat acak komposisi kata yang lebih tinggi ketimbang cara manusia berkomunikasi. 

Burung memiliki vokalisasi bahasa yang kompleks dan tingkat pemikiran abstrak yg tinggi. Kemampuan abstraksi pikiran atau berpikir konseptual adalah kunci dari komunikasi. Burung tak kalah dari manusia dalam hal ini. 

Bahkan tumbuhan pun tak sepenuhnya bisu. Melalui jaringan akar dan mikoriza, yang kini dikenal sebagai Wood Wide Web, pohon saling berbagi nutrisi, mengirim sinyal bahaya, dan merespons kebutuhan satu sama lain. Komunikasi memiliki berbagai cara. Dalam hal ini tumbuhan memiliki bahasanya sendiri. 
Bahasa, sekali lagi, gagal menjadi garis pemisah yang mutlak. Premis ini lagi-lagi terbantahkan. 
Lalu, apa yang tersisa?

Baca juga:
Mahasiswa Unhas Petakan Lahan Pertanian Berbasis GIS di Rijang Pittu


Di titik inilah jawaban terakhir berbunyi.
Yang membedakan manusia dari hewan, bagi saya, bukan akal, bukan bahasa, melainkan perdagangan.
Sebelum mengenal sistem perdagangan, sejarah manusia tak jauh berbeda dari rimba raya. Perebutan sumber daya, penyerangan antar kelompok, pembantaian demi bertahan hidup, semua berlangsung tanpa henti. Dendam diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam Al-Kitab disebutkan, “Mata ganti mata, gigi ganti gigi,” sebagaimana dicatat Alkitab, bukan sekadar ajaran moral, melainkan ringkasan pahit dari pengalaman sejarah yang panjang. Ini menjadi hikmah dalam peradaban manusia.

Dunia manusia purba adalah dunia yang keras, buas, dan kejam, nyaris tak terbedakan dari kehidupan binatang. Begitulah cara kehidupan manusia sebelum menemukan cara berniaga.

Perubahan besar terjadi ketika manusia mulai menetap. Ketika kehidupan tak lagi sepenuhnya nomaden, relasi sosial tumbuh. Dari sanalah benih perdagangan muncul, mula-mula dalam bentuk barter, pertukaran sederhana antar kebutuhan. Sebuah praktik yang tampak sepele, namun membawa perubahan mendasar. Bahkan sistem barter masih bertahan di beberapa masyarakat hari ini.

Perdagangan mengubah logika bertahan hidup. Dari saling memangsa menjadi saling membutuhkan.
Dengan perdagangan, ekonomi lahir. Dengan ekonomi, jaringan pengaman sosial mulai terbentuk. Manusia tak lagi bergantung semata pada kekuatan fisik atau kekerasan untuk bertahan. Kesejahteraan tak harus direbut dengan darah; ia bisa dibangun melalui kesepakatan.

Dalam konteks manusia purba, perdagangan bukan arena kompetisi kapital seperti hari ini, bukan pula perang dagang antarnegara. Ia adalah jembatan. Ia menyatukan klan-klan yang sebelumnya saling bermusuhan. Ia memungkinkan kerjasama menggantikan pembantaian. Grammar tentang kemakmuran bersama mulai bertumbuh sebagai satu etape peradaban yang lebih maju, berkembang, dan humanis.

Aktivitas ekonomi dan perdagangan mendatangkan kemakmuran dan dengan sendirinya, meminimalisir peperangan. Perdagangan membuat orang tak perlu saling bunuh-bunuhan. Dengan perdagangan manusia tak hanya mengenal konflik dan dendam berkepanjangan, melainkan juga mengenal arti kerjasama. Grammar tentang kemakmuran bersama mulai bertumbuh sebagai satu etape peradaban yang lebih maju, berkembang, dan humanis.

Ini perlu kita bayangkan dalam konteks sejarah manusia purba. Kehidupan belum semaju sekarang, di mana ekonomi adalah arena pertempuran antar kapital dan negara. Kita mengenal istilah perang dagang. Dahulu kala perdagangan adalah jembatan yang menyatukan klan-klan saling bermusuhan. Ia memungkinkan kerjasama menggantikan pembantaian. Perdagangan betul-betul bisa menyatukan ratusan clan.

Manusia merumuskan perdagangan sebagai medium menjaga kelangsungan hidup. Pada gilirannya perdagangan menuntun manusia memiliki alat tukar yang disepakati. Manusia menciptakan uang sebagai alat tukar bersama. Uang menjadi simbol kolektif dalam aktivitas ekonomi. Sebuah kesepakatan abstrak yang hanya mungkin lahir dari imajinasi sosial manusia. Dunia hewan tak mengenal itu. Mereka hidup dalam ekonomi pemangsaan; manusia belajar hidup dalam ekonomi pertukaran dan kerja sama.

Tak seperti dunia hewan yang saling memangsa untuk menjaga kelangsungan hidup. Lewat perdagangan manusia memungkinkan membangun kesejahteraan bersama. Kesejahteraan bersama adalah pondasi kerukunan. Hubungan dagang yang konstruktif akan membawa harmoni satu sama lain. 

Maka, garis sunyi yang membedakan manusia dari binatang bukanlah akal, bukan bahasa, melainkan keberanian untuk percaya pada orang lain, dan kepercayaan itu menemukan bentuk paling nyatanya dalam perdagangan. Di sanalah manusia benar-benar menjadi manusia.

-end

 

Baca juga:
utusan MK Tegaskan Sengketa Pers Tak Bisa Sembarangan Dipidana

"Dari filsafat, sains, hingga sejarah manusia purba, tulisan ini mengajak publik meninjau ulang makna peradaban dan mengapa perdagangan justru menyelamatkan manusia dari kebuasan."

#Filsafat #Opini #Humanisme #GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia 

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال