Novita Hardini Pertanyakan Visi Indonesia Jadi Pusat Pariwisata Dunia

GalaPos ID, Jakarta.
Ambisi Indonesia menjadi pusat pariwisata global dinilai masih jauh dari kenyataan. Hal itu mengemuka dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI ke PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, Kamis, 15 Januari 2026. Novita Hardini Pertanyakan Kesiapan Indonesia Jadi Hub Global Pariwisata

Soroti InJourney, DPR Pertanyakan Visi Indonesia Jadi Pusat Pariwisata Dunia
Kunjungi InJourney, Novita Hardini Pertanyakan Kesiapan Indonesia Jadi Hub Global Pariwisata. Foto: istimewa

"Indonesia berada di jalur strategis perdagangan dunia, tetapi mengapa masih tertinggal dari Singapura dan Abu Dhabi dalam peta pariwisata global? Pertanyaan tajam itu mengemuka saat Komisi VII DPR RI menyambangi InJourney."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Visi besar InJourney dinilai belum jelas dan masih bersifat sektoral, sehingga Indonesia tertinggal dari negara lain sebagai hub pariwisata global.
2. Konektivitas bandara, transportasi, dan destinasi wisata belum terintegrasi, berdampak pada pengalaman wisatawan dan potensi ekonomi.
3. Investasi teknologi seperti Smart Airport dan Smart Logistic belum menjadi prioritas, padahal menjadi syarat utama pariwisata modern.


Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Novita Hardini, secara terbuka mempertanyakan visi jangka panjang InJourney dalam mengelola ekosistem pariwisata nasional agar mampu bersaing dengan negara-negara yang telah sukses menjadi hub global, seperti Singapura dan Abu Dhabi.

“Singapura dan Abu Dhabi membangun hub pariwisatanya dengan visi jangka panjang yang konsisten, lintas sektor, dan terintegrasi. Pertanyaannya, visi besar InJourney ke depan itu apa? Bagaimana Indonesia bisa menjadi hub global dimasa depan, mengingat posisi Indonesia sangat strategis. Indonesia berada dijalur perdagangan dunia. Penghubung Asia-Pasifik dan Asia-Australia. Maka, jika di kelolah serius seharusnya Indonesia lebih unggul daripada Singapura dan Abu Dhabi” tegas Novita, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Sabtu, 17 Januari 2026.

Politisi dari daerah pemilihan Jawa Timur VII itu menilai, hingga kini pengelolaan pariwisata nasional masih berjalan parsial. Konektivitas antarmoda dan integrasi ekosistem pariwisata belum diperlakukan sebagai satu kesatuan utuh.

Baca juga:
Digital Skill for Success Dorong Siswa SMKN 10 Bandung Siap Hadapi Era Digital

Salah satu sorotan utama adalah layanan transportasi bandara. Menurut Novita, kereta bandara yang beroperasi saat ini belum memberikan pengalaman yang ramah bagi wisatawan mancanegara, mulai dari minimnya informasi multibahasa, informasi pemberhentian, hingga lemahnya integrasi dengan moda transportasi publik seperti TransJakarta dan sistem transportasi perkotaan lainnya.

“Bagi wisatawan asing, pengalaman pertama mereka tentang Indonesia itu dimulai dari bandara. Kalau dari bandara saja sudah membingungkan, kita kehilangan nilai jual sebagai destinasi global,” ujarnya.

Ia juga menilai InJourney belum optimal memanfaatkan potensi destinasi wisata di sekitar bandara. Jakarta, menurutnya, seharusnya dapat dikembangkan sebagai destinasi transit yang bernilai, bukan sekadar titik singgah.

Berbagai atraksi seperti factory outlet, pusat hiburan, dan wahana wisata tematik dinilai dapat dikoneksikan secara sistematis dengan bandara untuk mendorong wisatawan memperpanjang masa tinggalnya.

“Kalau transit 5–6 jam saja sudah bisa belanja, menikmati atraksi wisata, dan merasakan pengalaman Indonesia, maka perputaran nilai ekonominya akan jauh lebih besar,” jelasnya.

Indonesia Punya Modal Besar, DPR Ingatkan InJourney Soal Visi Global Pariwisata
Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Novita Hardini: Indonesia Tertinggal dalam Ambisi Jadi Hub Global Pariwisata. FOto: istimewa

 

Perbandingan dengan negara lain pun menjadi sorotan. Di Bangkok, jarak dari Bandara Suvarnabhumi menuju kawasan factory outlet hanya membutuhkan waktu sekitar 5–10 menit. Sementara di Jakarta, wisatawan harus menempuh perjalanan 1–2 jam untuk mencapai destinasi serupa.

Persoalan serupa juga terjadi di daerah. Novita menyoroti konektivitas bandara dengan destinasi wisata unggulan seperti Yogyakarta dan kawasan Borobudur yang dinilai belum terintegrasi secara optimal, termasuk dengan paket wisata UMKM lokal.

Ia mempertanyakan sejauh mana tata kelola InJourney mampu menyajikan data dampak positif bagi negara, khususnya dalam pengembangan pariwisata daerah dan pemberdayaan UMKM.

“Bandara seharusnya bukan hanya tempat datang dan pergi. In journey harus mampu membangun kolaborasi dengan maskapai global untuk dapat menjadikan Indonesia tempat tujuan dan destinasi transit dunia. In-Journey perlu mengkoreksi bentuk Investasi yang diperlukan. Bukan hanya berupa fisik. Namun juga layanan, dan perkuat jaringan kolaborasi global dengan maskapai terkemuka yang sering dipakai wisatawan asing. In journey juga perlu melakukan investasi teknologi.” katanya.

Baca juga:
Pencarian Pesawat ATR di Gunung Bulusaraung Dihentikan Sementara

Ia menegaskan bahwa hingga kini InJourney belum menunjukkan keseriusan dalam membangun konsep Smart Airport dan Smart Logistic sebagai fondasi utama pariwisata modern.

“Kalau kita bicara hub global, maka smart airport dan smart logistic bukan pilihan, tapi keharusan. Tanpa investasi teknologi dan peningkatan kolaborasi dengan jejaring superhub global, kita akan selalu tertinggal,” tegas politisi PDI Perjuangan tersebut.

Sebagai mitra kerja pemerintah di sektor pariwisata, Novita menegaskan Komisi VII DPR RI akan terus mendorong InJourney keluar dari pendekatan sektoral menuju visi besar yang terintegrasi, lintas moda, lintas destinasi, dan berorientasi global.

“Indonesia punya modal budaya, alam, dan posisi strategis yang luar biasa. Namun, tanpa visi jangka panjang terkait deregulasi sektor penerbangan dan logistik dan konektivitas antar moda dengan destinasi wisata yang menarik, potensi itu akan terus terbuang,” tutupnya.

 

Baca juga:
Aturan Menyimpan Sisa Makanan agar Tidak Cepat Basi

"Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini menyoroti lemahnya visi dan konektivitas InJourney dalam mendorong Indonesia menjadi hub global pariwisata, mulai dari bandara, transportasi, hingga investasi teknologi."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #PariwisataIndonesia #InJourney #DPRRI

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال